Membongkar Konteks ‘Nikmatnya’ Kehidupan Anak Rantau
Anak rantau adalah seseorang yang berani menghadapi tantangan dan rintangan secara fisik, mental, dan emosional.
- Hidup sebagai anak rantau sering diidealkan sebagai kebebasan dan kesempatan berkembang—mengurangi ketergantungan pada keluarga, memperluas pergaulan, dan melatih kemandirian.
- Namun realitanya tidak selalu mulus: ada risiko homesick, kebutuhan adaptasi jangka panjang, dan kecenderungan menjadikan merantau sebagai pelarian/escapism yang menimbulkan stigma serta konsekuensi sosial dan emosional.
- Karena itu merantau perlu dipersiapkan dan dijalani bijak: anggap sebagai kesempatan besar, perbaiki kualitas diri secara bertahap, aktif dalam organisasi dan jaringan, serta jaga kesehatan mental dengan istirahat dan langkah preventif.
Proses remaja dan pendewasaan seringkali menghadapi hidupnya bagaikan anak rantau. Entah kuliah, kerja, bahkan bisa saja keduanya.
Biasanya, hasrat menjadi anak rantau karena dua kemungkinan, yaitu dari diri sendiri dan dari orang tua yang memberikan kepercayaan.
Walaupun remaja dan dewasa adalah sosok ideal untuk melewati ‘nikmatnya’ berkehidupan rantau, tetapi semuanya tidak semudah apa yang kita bayangkan. ‘Realita’nya pun terkadang menghantui kehidupan anak rantau.
Membongkar Konteks ‘Nikmatnya’ Kehidupan Anak Rantau

Jika kamu pernah mendengar pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut:
“Aku ingin merantau karena ku ingin sesekali jauh dari orang tua, apakah akan lebih seru?”
“Kayanya kalau jadi anak rantau seru deh! Soalnya bisa keluar dari zona nyaman terus kita bisa ketemu banyak orang baru!”
“Kehidupan rantau itu enak banget, lho. Bebas dan bisa dipisahkan kehidupan antara aku dan keluarga!”
Sungguhkah kehidupan rantau selalu diiringi kebebasan hidup untuk bisa menemukan serta menentukan jati diri seseorang? Memang hampir semuanya betul. Namun, ada beberapa konsiderasi yang harus kita pikirkan secara cakap.
Pertama-tama, kata “rantau” seringkali didefinisikan menjadi suatu harapan orang-orang yang ingin sesekali jauh dari kehidupan keluarga atau bahkan disebut juga sebagai “zona nyaman”.
Zona nyaman yang begitu melekat dalam diri kemudian seiringnya waktu berjalan, diri kita akan menjalar secepat mungkin untuk membuat keputusan merantau.
Tentunya, merantau memang akan menjadi momen terindah karena akan meminimalisir ketergantungan kamu kepada orang lain dan banyak sekali perjalanan yang akan kamu lewati. Apakah semuanya akan berujung sesuai ekspektasi? Tidak, mari kita simak!
Rantau menurut KBBI didefinisikan sebagai suatu daerah atau negeri yang berada di luar kampung halaman.
Artinya, kita otomatis mengetahui bahwa semua konteks rantau adalah “luar”. Kata “luar” diartikan sebagai antara pembaharuan untuk mengembangkan potensi atau ‘berkeliaran’ untuk merasakan kenikmatan hidup menyendiri.
Tidakkah kita jarang bahwa sebagian besar alasan individu menempatkan “rantau” sebagai indikasi “seberapa besar nyali kamu untuk bertahan”? Ya, artinya rantau melulu dijadikan pembenaran escapism (lari dari kenyataan).
Rantau sangat menarik dijalankan karena besarnya keuntungan yang kamu peroleh akan sangat bermanfaat untuk kedepannya. Bahkan, kamu secara tidak langsung merasakan bagaikan jiwa kembali hidup dan selamanya hati menempati rumah ini.
Akan tetapi, kekurangannya juga terdapat konsekuensi yang mungkin tanpa disadari adanya efek anak rantau seperti diawali dengan dorongan homesick, pembekalan kehidupan luar, dan melakukan adaptasi dalam jangka panjang.
Halaman:

