7 Cerita Hikayat Abu Nawas yang Seru dan Menarik Secara Singkat

7 Cerita Hikayat Abu Nawas yang Seru dan Menarik Secara Singkat — Ketika membicarakan sastrawan legendaris dari zaman Dinasti Abbasiyah, salah satu nama yang tidak dapat terlewatkan adalah Abu Nawas.

Abu Nawas Lahir dengan nama Abu-Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami pada tahun 747 M di Ahvaz (bagian dari Iran), Abu Nawas menempatkan dirinya dalam annals sastra Arab dengan keunikan dan kejeniusannya sendiri.

Dalam literatur klasik Arab, seperti Alf layla wa-layla (Seribu Satu Malam), kisah-kisah tentangnya memikat pembaca dengan kombinasi hikmah dan kelucuan. Yuk, simak cerita hikayat Abu Nawas berikut ini!

Cerita Hikayat Abu Nawas

Pexels/@Piotr Arnoldes

Di bawah ini disajikan beberapa cerita hikayat Abu Nawas yang terkenal. Simak terus ya kisah menariknya dan jangan ke mana-mana!

Cerita Hikayat Abu Nawas 1: Abu Nawas dan Pohon Anggur

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Ia memanggil Abu Nawas ke istananya.

“Abu Nawas, saya ingin kamu membawa saya ke kebun anggur yang paling indah di Baghdad dalam waktu tiga hari. Jika kamu gagal, kamu akan dihukum!”

Abu Nawas bingung karena musim dingin sedang tiba, dan semua kebun anggur pasti sudah kering dan tidak ada buahnya. Bagaimana mungkin ada kebun anggur yang indah di musim ini? Namun, dengan cepat ia menciptakan sebuah ide.

Tiga hari kemudian, Abu Nawas kembali ke istana dengan membawa sebuah cermin kecil di tangannya.

Khalifah Harun Al-Rasyid bertanya, “Abu Nawas, di mana kebun anggur yang kamu janjikan?”

“Tuanku, Hamba mohon Anda untuk melihat ke dalam cermin ini!” jawab Abu Nawas.

Khalifah Harun Al-Rasyid melihat wajahnya sendiri di dalam cermin itu.

“Ini apa, Abu Nawas?” tanyanya dengan marah.

“Tuan Yang Mulia, kebun anggur yang paling indah adalah kebun yang ada di dalam hati seorang pemimpin yang adil. Bila hati Tuan penuh dengan kebaikan, maka kebun anggur di dalamnya pasti akan indah dan subur,” jawab Abu Nawas.

Khalifah Harun Al-Rasyid tertawa mendengar jawaban Abu Nawas. Ia memuji kecerdikan Abu Nawas dan membebaskannya dari hukuman, bahkan memberinya hadiah.

Cerita Hikayat Abu Nawas 2: Abu Nawas dan Ikan Ajaib

Pada suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid memutuskan untuk mengadakan perlombaan memancing. Siapa saja yang bisa menangkap ikan dengan warna paling aneh akan diberikan hadiah berupa emas sebanyak-banyaknya.

Banyak orang berdatangan untuk mengikuti perlombaan tersebut, termasuk Abu Nawas. Ketika banyak orang sibuk memancing di sungai, kolam, dan danau, Abu Nawas justru pergi ke pasar.

Ia membeli beberapa ekor ikan dan bumbu-bumbu dapur, lalu kembali ke rumahnya. Di rumah, ia merebus ikan tersebut dan menambahkan bumbu hingga warnanya berubah menjadi ungu terang.

Keesokan harinya, saat Khalifah Harun Al-Rasyid dan para peserta lainnya berkumpul, semua orang memperlihatkan ikan yang mereka tangkap.

Ada ikan dengan corak unik, ada ikan dengan ukuran besar, tetapi tak ada satu pun yang memiliki warna seaneh ikan milik Abu Nawas.

Khalifah Harun Al-Rasyid terkejut melihat ikan berwarna ungu yang dibawa Abu Nawas. “Dari manakah kau mendapatkan ikan ini?” tanya Khalifah Harun Al-Rasyid dengan heran.

“Ah, itu rahasia, Yang Mulia,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum misterius.

Khalifah Harun Al-Rasyid yang terkesan dengan keunikan ikan tersebut, memutuskan untuk memberikan hadiah emas kepada Abu Nawas. Setelah menerima hadiah, Abu Nawas berbisik kepada salah seorang temannya, “Rahasia sesungguhnya adalah di dapur.”

Cerita Hikayat Abu Nawas 3: Abu Nawas dan Kontes Menyanyi Burung

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid mengadakan kontes menyanyi burung. Khalifah Harun Al-Rasyid ingin mengetahui siapa yang memiliki burung dengan suara merdu terindah di seluruh kerajaan Baghdad.

Para bangsawan dan pedagang kaya datang dari seluruh penjuru kerajaan dengan membawa burung-burung terindah mereka.

Namun, Abu Nawas, yang tidak memiliki burung yang indah dan merdu, memutuskan untuk ikut serta dalam kontes ini dengan membawa seekor burung gagak.

Orang-orang terkejut dan tertawa melihat Abu Nawas datang dengan burung gagak, yang dikenal tidak memiliki suara yang merdu.

Kontes pun dimulai. Satu per satu, burung-burung yang indah dan eksotis melantunkan suara mereka yang merdu dan harmonis. Kemudian tiba giliran Abu Nawas dan burung gagaknya. Burung gagak itu hanya bisa mengeluarkan suara “kraa, kraa” yang keras dan tidak merdu.

Namun, Abu Nawas dengan percaya diri memperkenalkan burung gagaknya dengan puisi indah yang merdu. Dia menggambarkan burung gagak sebagai burung yang jujur, setia, dan kuat.

Berbeda dengan burung-burung cantik lainnya yang mungkin tidak memiliki keberanian dan kekuatan. Abu Nawas menyanyikan pujian untuk burung gagak dengan begitu indah sehingga seluruh ruangan terdiam, terpesona oleh kata-katanya.

Meskipun burung gagak Abu Nawas tidak bisa menyanyi dengan indah, kata-kata Abu Nawas membuat semua orang terkesan.

Khalifah Harun Al-Rasyid terkesan dengan kelihaian Abu Nawas dalam merangkai kata dan menyampaikan pesan yang mendalam tentang keindahan yang sejati.

Ia memutuskan untuk memberinya hadiah khusus sebagai penghargaan atas kecerdasan dan kreativitasnya.

Cerita Hikayat Abu Nawas 4: Abu Nawas dan Sayembara Raja

Pada suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid mengadakan sayembara. Dia menaruh sebuah labu yang besar di tengah-tengah istananya dan meminta para hadirin untuk mengisinya dengan apa pun yang mereka inginkan.

Yang penting, labu tersebut harus terisi penuh. Para hadirin bingung, karena ukuran labu tersebut sangat besar.

Seorang demi seorang mencoba. Ada yang mencoba mengisi dengan beras, ada juga yang dengan kain. Namun, semuanya gagal karena tidak cukup untuk mengisi labu yang sangat besar tersebut. Khalifah Harun Al-Rasyid mulai merasa tidak sabar dan hampir membatalkan sayembara tersebut.

Tiba-tiba, Abu Nawas muncul dengan langkah gembira. Dengan santai, dia mendekati labu tersebut sambil membawa selembar kertas kecil.

Semua orang di istana tersebut bertanya-tanya, bagaimana mungkin selembar kertas kecil bisa mengisi labu yang begitu besar?

Abu Nawas kemudian melipat kertas tersebut menjadi bentuk burung, dan diletakannya di dalam labu. “Sudah terisi penuh, Tuan!” kata Abu Nawas dengan senyum cerdiknya.

Semua orang di istana itu terheran-heran. Mereka memprotes, mengatakan bahwa labu itu jelas-jelas masih kosong. Namun, Abu Nawas dengan tenang menjelaskan, “Labu ini sekarang sudah terisi penuh dengan kertas burung, udara di dalam labu, dan kekaguman kalian semua!”

Khalifah Harun Al-Rasyid pun tertawa terbahak-bahak. Dia mengakui kecerdasan Abu Nawas dan memberinya hadiah yang sangat besar. Kembali, Abu Nawas membuktikan kecerdasannya yang tiada tara.

Cerita Hikayat Abu Nawas 5: Abu Nawas dan Khalifah Harun Al-Rasyid

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Khalifah Harun Al-Rasyid mengundang Abu Nawas ke istana dan memberikan kepadanya sebuah tantangan.

“Abu Nawas,” katanya. “Aku ingin kamu membawa sesuatu yang bisa membuat aku senang saat aku sedih, dan membuat aku sedih saat aku senang.”

Abu Nawas menanggapi tantangan ini dengan tenang. Dia berpikir sejenak, lalu pergi dari istana untuk mempersiapkan jawabannya. Keesokan harinya, Abu Nawas kembali ke istana dengan membawa sebuah bingkai cermin kecil.

Khalifah Harun Al-Rasyid bingung melihat benda yang dibawa Abu Nawas. “Apa ini, Abu Nawas?” tanyanya.

“Inilah jawabannya, Tuanku,” jawab Abu Nawas sambil menyerahkan cermin kecil itu kepada Khalifah Harun Al-Rasyid.

Khalifah Harun Al-Rasyid mengambil cermin itu dan melihat wajahnya sendiri di dalamnya.

Abu Nawas lalu menjelaskan, “Ketika Tuanku merasa sedih, lihatlah ke dalam cermin ini, dan Tuanku akan melihat betapa berharganya diri Tuanku, yang akan membuat Tuanku senang,”katanya.

“Namun, ketika Tuanku merasa senang, lihatlah lagi ke dalam cermin ini, dan Tuanku akan disadarkan bahwa, tak peduli seberapa bahagia Tuanku, akhirnya Tuanku tetap manusia biasa,”kata Abu Nawas lagi.

Khalifah Harun Al-Rasyid sangat terkesan dengan kecerdikan Abu Nawas. Dia menyadari bahwa Abu Nawas telah berhasil memenuhi tantangannya dengan cara yang sangat cerdas dan unik.

Khalifah Harun Al-Rasyid lalu memberikan hadiah kepada Abu Nawas sebagai tanda penghargaan atas kecerdikan dan kearifannya.

Cerita Hikayat Abu Nawas 6: Abu Nawas dan Timbangan Emas

Pada suatu hari, seorang pedagang kaya namun kikir datang ke kota Baghdad. Ia membawa sejumlah besar emas untuk ditukar dengan barang-barang lainnya.

Pedagang itu dikenal sebagai orang yang selalu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dan tidak pernah mempercayai siapa pun. Pedagang itu meminta Abu Nawas untuk membantunya menemukan timbangan yang dapat diandalkan untuk menimbang emasnya.

Ia tahu Abu Nawas adalah orang yang cerdik dan memiliki banyak koneksi di kota. Tetapi ia juga mendengar cerita tentang betapa liciknya Abu Nawas, jadi ia merasa waspada.

Abu Nawas menerima tugas itu dengan senang hati. Ia membawa pedagang itu ke sebuah toko alat timbang dan meminta pemilik toko untuk menunjukkan timbangan terbaiknya.

Setelah memeriksa berbagai timbangan, pedagang itu tetap tidak puas. Ia curiga bahwa semua timbangan itu telah disabotase untuk menipunya.

Melihat kekhawatiran pedagang itu, Abu Nawas mendapatkan ide jenius. Ia menyuruh pedagang itu menimbang batu seberat satu pon dengan salah satu timbangan. Kemudian, ia menyarankan agar batu tersebut dibawa ke toko emas dan ditimbang kembali dengan emas seberat satu pon.

Pedagang itu melakukan apa yang disarankan Abu Nawas. Hasilnya, berat batu dan emas ternyata sama, sehingga menunjukkan bahwa timbangan di toko alat timbang adalah akurat.

Pedagang itu akhirnya puas dan memberi Abu Nawas hadiah untuk bantuannya. Namun, ia tidak pernah menyadari bahwa itu semua adalah akal cerdik Abu Nawas untuk membuatnya percaya pada timbangan di toko.

Cerita Hikayat Abu Nawas 7: Kisah Abu Nawas dan Ikan Mas

Pada suatu hari, khalifah Harun Al-Rashid ingin makan ikan mas yang segar. Ia memanggil Abu Nawas dan berkata, “Abu Nawas, aku ingin kau menangkap ikan mas untukku. Ingat, ikan itu harus segar, dan aku ingin memakannya besok.”

Abu Nawas yang dikenal cerdik punya rencana. Ia tahu bahwa menangkap ikan mas bisa memakan waktu yang lama dan tidak ada jaminan ia akan menangkapnya. Jadi, ia pergi ke pasar dan membeli ikan mas segar yang baru ditangkap oleh nelayan.

Keesokan harinya, Abu Nawas pergi ke sungai bersama dengan pembantu khalifah. Ia masuk ke dalam air sambil membawa ikan mas yang telah dibelinya, dan pura-pura menangkapnya di depan pembantu khalifah tersebut.

Pembantu khalifah tersebut sangat terkesan dan memberitahu khalifah bahwa Abu Nawas berhasil menangkap ikan mas dalam waktu singkat. Khalifah pun senang dan memuji keahlian Abu Nawas.

Tetapi ketika Abu Nawas hendak pergi, khalifah berkata, “Abu Nawas, aku tahu apa yang kau lakukan. Aku melihat bahwa ikan mas itu tidak bergerak ketika kau ‘menangkapnya’. Kau cerdik, tetapi ingat, jangan pernah mencoba menipu aku lagi.”

Abu Nawas hanya tersenyum dan memberi hormat pada khalifah, lalu pergi dengan hati yang gembira karena ia berhasil menyelesaikan tugas dengan cara yang cerdik.

Penutup

Setelah menelusuri kisah-kisah seru dan menarik Abu Nawas dalam artikel ini, semoga kamu menikmati dan menarik pelajaran berharga dari petualangan penyair cerdik ini.

Cerita-cerita Abu Nawas mengajarkan kita tentang kecerdasan, keberanian, dan keahlian dalam menghadapi berbagai situasi.

Cerita hikayat Abu Nawas juga mengingatkan kita tentang pentingnya humor dan kebahagiaan dalam hidup.

Semoga kisah-kisah ini terus menginspirasi, menghibur, dan mencerahkan hari-hari Anda, sebagaimana Abu Nawas telah melakukannya selama berabad-abad.

Teruslah membaca, mengeksplorasi, dan menikmati kekayaan sastra dunia yang tak lekang oleh waktu. Selamat membaca dan jangan lupa baca kisah hikayat lain di Mamikos, ya!


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta