16 Contoh Bioteknologi Konvensional Berbagai Bidang dan Manfaatnya
Tempe, keju, dan tape adalah salah satu contoh bioteknologi konvensional yang sering kita temukan di kehidupan sehari-hari. 🧀🍞
Tanpa teknologi rumit, bioteknologi konvensional memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi, bakteri, dan jamur untuk menghasilkan produk yang lebih awet, lebih enak, atau lebih bermanfaat.
Artikel ini akan memberikan contoh bioteknologi konvensional dari berbagai bidang agar kamu mudah memahaminya dan bisa memakainya untuk tugas atau referensi belajar.
Daftar Isi
Daftar Isi
Apa itu Bioteknologi Konvensional?
Bioteknologi konvensional adalah penerapan ilmu biologi yang memanfaatkan makhluk hidup atau mikroorganisme untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia dengan cara sederhana dan alami.
Teknologi ini sudah digunakan sejak lama, bahkan sebelum manusia mengenal alat laboratorium modern dan rekayasa genetika.
Praktek bioteknologi konvensional pada prinsipnya tidak mengubah susunan gen (DNA) dari suatu organisme. Proses ini mengandalkan kemampuan alami mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi untuk bekerja melalui mekanisme biologis yang sudah ada di alam.
Salah satu proses yang paling umum adalah fermentasi. Fermentasi adalah perubahan bahan makanan oleh mikroorganisme menjadi produk baru dengan rasa, aroma, tekstur, atau daya simpan yang lebih baik.
Proses penerapan bioteknologi konvensional ini relatif mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan canggih, serta dapat diterapkan pada skala rumah tangga hingga usaha kecil.
Secara keilmuan, konsep bioteknologi konvensional banyak dijelaskan dalam buku biologi tingkat SMA dan perguruan tinggi dasar, terutama pada materi bioteknologi pangan dan lingkungan.
Hingga saat ini, bioteknologi konvensional tetap relevan karena berperan penting dalam ketahanan pangan, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
15 Contoh Bioteknologi Konvensional Berbagai Bidang dan Manfaatnya
Bioteknologi konvensional memanfaatkan proses biologis alami dengan teknologi yang relatif sederhana. Ciri utamanya, teknologi ini mengandalkan kerja mikroorganisme seperti ragi, bakteri, dan jamur melalui proses seperti fermentasi dan penguraian bahan organik.
Peralatannya pun tidak rumit, biaya cenderung lebih terjangkau, dan penerapannya banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Terutama di bidang pangan, pertanian, peternakan, dan lingkungan.
Berbeda dari bioteknologi modern yang memakai teknik canggih seperti rekayasa genetika atau manipulasi DNA di laboratorium, bioteknologi konvensional tidak mengubah materi genetik secara langsung.
Karena itu, hasilnya bisa dipengaruhi kebersihan, suhu, dan waktu proses, tetapi tetap efektif menghasilkan produk yang lebih awet, lebih bernilai, dan lebih bermanfaat.
Berikut beberapa contoh bioteknologi konvensional dari berbagai bidang yang bisa kamu temukan di kehidupan sehari-hari:
Bidang Pangan dan Minuman
Bidang pangan dan minuman merupakan contoh paling nyata dari penerapan bioteknologi konvensional. Sejak lama, manusia memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah bahan makanan agar lebih tahan lama, mudah dicerna, serta memiliki cita rasa yang lebih baik.
Proses yang paling sering digunakan adalah fermentasi, yaitu pemanfaatan aktivitas bakteri, jamur, atau ragi untuk mengubah bahan baku menjadi produk baru yang lebih bernilai.
Berikut beberapa contoh bioteknologi konvensional di bidang pangan dan minuman yang paling umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
1. Tempe
Pengrajin tempe membuat tempe melalui fermentasi kedelai dengan bantuan jamur. Jamur ini menguraikan senyawa kompleks dalam kedelai sehingga tempe menjadi lebih mudah dicerna.
Dengan proses ini, maka dapat meningkatkan nilai gizi protein, memperbaiki tekstur, serta menjadi sumber protein nabati yang terjangkau.
2. Tape Singkong
Tape singkong dihasilkan dari fermentasi singkong menggunakan ragi. Proses ini mengubah pati menjadi gula sederhana sehingga tape memiliki rasa manis dan aroma khas.
Manfaatnya bisa menambah variasi olahan pangan, meningkatkan cita rasa, dan membuat singkong lebih mudah dikonsumsi.
3. Tape Ketan
Cara membuat tape ketan cukup mudah, kamu perlu beras ketan yang difermentasi dengan ragi. Hasil fermentasi ini menghasilkan rasa manis, sedikit asam, dan tekstur lembut pada ketan.
Aktifitas ini mampu meningkatkan nilai ekonomi ketan dan menjadi bahan dasar berbagai makanan tradisional.
4. Yoghurt
Yoghurt adalah hasil dari fermentasi susu menggunakan bakteri asam laktat. Bakteri ini mengubah laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan rasa asam dan tekstur kental.
Manfaatnya pun cukup banyak, mulai dari membantu kesehatan pencernaan, memperpanjang daya simpan susu, hingga menjadi sumber probiotik alami.
5. Keju
Apakah kamu pecinta keju?
Keju sendiri adalah hasil dari pengolahan dan fermentasi susu melalui proses penggumpalan protein. Lama fermentasi dan jenis mikroorganisme mempengaruhi rasa dan tekstur keju.
Dengan mengubah susu menjadi keju, maka proses ini bisa meningkatkan daya simpan susu, memperkaya cita rasa, serta menjadi sumber protein dan kalsium.
6. Roti
Roti dibuat dengan memanfaatkan ragi yang memfermentasi gula dalam adonan. Proses ini menghasilkan gas yang membuat adonan mengembang.
Contoh bioteknologi konvensional ini menghasilkan tekstur roti yang empuk, berpori, dan memiliki aroma khas fermentasi.
7. Kecap
Kecap merupakan hasil fermentasi kedelai yang kemudian diolah menjadi cairan berwarna gelap dengan rasa gurih atau manis. Kecap pun menjadi bagian dari bumbu yang selalu ada di dapur orang Indonesia.
Proses fermentasi kedelai ini mampu menambah cita rasa masakan, memperpanjang daya simpan bahan, dan meningkatkan nilai jual kedelai.
8. Cuka
Fermentasi alkohol menjadi asam asetat adalah cara untuk membut cuka. Proses ini menghasilkan cairan asam dengan sifat antimikroba alami.
Cuka sendiri bermanfaat sebagai pengawet alami, penyedap rasa, dan bahan pengolahan makanan.
9. Nata de Coco
Nata de coco adalah hasil dari fermentasi air kelapa oleh bakteri tertentu yang membentuk lapisan serat kenyal.
Manfaatnya pun cukup banyak seperti meningkatkan nilai ekonomi air kelapa, menghasilkan produk rendah kalori, dan menambah variasi olahan minuman dan dessert.
Bidang Pertanian
Di bidang pertanian, bioteknologi konvensional membantu petani meningkatkan hasil panen dan menjaga kesuburan lahan dengan cara yang alami.
Teknologi ini biasanya memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik atau memperbaiki kualitas pertanian.
Karena prosesnya sederhana dan bisa diterapkan di tingkat rumah tangga maupun kelompok tani, bioteknologi konvensional menjadi solusi yang praktis. Berikut beberapa contohnya:
10. Kompos
Kompos terbuat dari sisa daun, jerami, atau limbah dapur yang diuraikan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Proses penguraian ini mengubah bahan organik menjadi pupuk yang lebih stabil dan aman bagi tanaman.
Manfaat pembuatan kompos adalah untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, menambah kandungan bahan organik, serta mengurangi volume sampah.
11. Pupuk Kandang Fermentasi
Petani sering memfermentasi kotoran ternak terlebih dahulu sebelum digunakan. Proses ini membantu menurunkan bau, menstabilkan unsur hara, dan mengurangi risiko “panas” yang bisa merusak akar tanaman jika pupuk masih segar.
Fermentasi pupuk kandang ini mampu meningkatkan kualitas pupuk organik, membuat pupuk lebih aman untuk tanaman, serta menekan kemungkinan munculnya patogen.
12. Seleksi Bibit Unggul
Pengembangan varietas tanaman secara konvensional dilakukan dengan cara memilih benih dari tanaman yang paling sehat, tahan hama, atau menghasilkan panen terbaik.
Para petani mengulang proses seleksi ini dari generasi ke generasi hingga memperoleh varietas yang lebih sesuai dengan kondisi lahan setempat. Hasilnya mampu menghasilkan varietas lokal yang lebih unggul, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat ketahanan tanaman.
Bidang Peternakan dan Perikanan
Selain pertanian, bioteknologi konvensional juga banyak diterapkan dalam bidang peternakan dan perikanan. Teknologi ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pakan, menjaga kesehatan hewan, serta mendukung pertumbuhan ternak dan ikan secara alami.
Dengan bantuan mikroorganisme, bahan pakan dapat diolah menjadi lebih awet dan mudah dicerna, sehingga efisiensi produksi dapat meningkat tanpa teknologi yang rumit. Contoh bioteknologi konvensional di bidang peternakan dan perikanan adalah:
13. Silase
Silase merupakan pakan ternak yang dibuat dari hijauan seperti rumput atau tanaman jagung yang difermentasi dalam kondisi kedap udara. Proses fermentasi ini membantu mempertahankan kandungan nutrisi pakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Dengan proses ini, maka peternak mampu menjaga ketersediaan pakan saat musim kering, mempertahankan nilai gizi hijauan, dan mengurangi pemborosan pakan.
14. Pakan Probiotik
Pakan probiotik berasal dari mikroorganisme baik hasil fermentasi yang ditambahkan ke dalam pakan ternak atau ikan. Mikroorganisme ini membantu menjaga keseimbangan mikroba dalam sistem pencernaan hewan.
Proses ini bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan, membantu penyerapan nutrisi, memperbaiki kesehatan pencernaan, dan mendukung pertumbuhan ternak atau ikan.
15. Pemuliaan Ternak Konvensional
Peternak bisa mendapatkan bibit bagus dengan memilih indukan yang memiliki sifat unggul, seperti pertumbuhannya cepat, produksi susu tinggi, atau daya tahan tubuh yang baik. Proses seleksi ini dilakukan secara alami dan berulangkali .
Hasilnya mampu meningkatkan kualitas dan hasil produksi ternak, mempertahankan sifat unggul, serta menyesuaikan ternak dengan kondisi lingkungan setempat.
Bidang Lingkungan
Bioteknologi konvensional juga berperan penting dalam pengelolaan lingkungan. Melalui bantuan mikroorganisme, limbah organik dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan ramah lingkungan. Penerapan teknologi ini membantu mengurangi pencemaran sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
16. Biogas
Fermentasi bahan organik, seperti kotoran ternak atau sisa limbah rumah tangga dalam kondisi tanpa oksigen akan menghasilkan biogas. Mikroorganisme akan menguraikan bahan tersebut dan menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Dengan adanya biogas akan mampu mengurangi limbah organik, menekan pencemaran lingkungan, serta menyediakan sumber energi terbarukan yang murah dan mudah diterapkan di pedesaan.
Penutup
Melalui bantuan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi, berbagai bahan mentah dapat diolah menjadi pangan yang lebih awet, lebih bergizi, dan lebih mudah dicerna.
Selain itu, bioteknologi konvensional juga membantu mengelola limbah organik menjadi kompos dan biogas, sehingga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung prinsip keberlanjutan.
Bioteknologi konvensional bermanfaat untuk peningkatan kualitas dan nilai ekonomi bahan pangan, perbaikan kesuburan tanah, efisiensi pakan ternak, serta pengurangan pencemaran lingkungan.
Teknologi ini juga berperan dalam memperkuat ketahanan pangan karena dapat diterapkan pada skala rumah tangga hingga usaha kecil dengan biaya yang relatif terjangkau. Sebagaimana beberapa contoh bioteknologi konvensional yang sudah disebutkan di artikel ini.
Namun, bioteknologi konvensional juga memiliki keterbatasan. Prosesnya cenderung membutuhkan waktu lebih lama dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti suhu, kebersihan, dan kualitas bahan baku. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak selalu seragam dan berisiko gagal jika terjadi kontaminasi.
Meski demikian, dengan penerapan yang tepat dan higienis, bioteknologi konvensional tetap menjadi teknologi yang efektif dan mudah diterapkan.
Referensi:
Bioteknologi Konvensional Contoh dan Manfaatnya” [Daring]. Tautan: https://mediaindonesia.com/humaniora/753306/bioteknologi-konvensional-contoh-dan-manfaatnya
“25+ Contoh Bioteknologi Konvensional Lengkap dengan Ciri hingga Manfaatnya” [Daring]. Tautan: https://www.detik.com/sulsel/berita/d-7316594/25-contoh-bioteknologi-konvensional-lengkap-dengan-ciri-hingga-manfaatnya
“Pengertian Bioteknologi Konvensional: Ciri, Manfaat, dan Contohnya” [Daring]. Tautan: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-bioteknologi-konvensional/
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu: