Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman
Kebersamaan dan keberagaman sudah menjadi nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat Indonesia. Nah, berikut adalah beberapa contoh cerita inspiratif tentang kebersamaan dan keberagaman.
Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman – Indonesia memiliki banyak sekali suku bangsa yang tersebar di setiap pulau.
Maka, nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman selalu ditanamkan dalam diri setiap anak bangsa sejak dini.
Mamikos kali ini akan memberikan beberapa contoh cerita inspiratif tentang indahnya kebersamaan dan keberagaman agar tali persahabatanmu semakin kuat.
Daftar Isi
Definisi Kebersamaan dan Keberagaman

Sebelum kita masuk ke dalam cerita inspiratif, ada baiknya jika kita membahas sedikit tentang kebersamaan dan keberagaman.
Kebersamaan diambil dari kata “bersama” yang artinya suatu hal yang dilakukan secara bersama-sama.
Biasanya, kebersamaan tercipta ketika sekelompok orang dalam suatu wilayah merasa sepenanggungan dan seperjuangan.
Sementara itu, keberagaman diambil dari kata “ragam” yang artinya macam-macam jenis. Jadi, keberagaman adalah sesuatu yang terdiri dari bermacam-macam jenis.
Nah, sekarang, mari kita menyimak beberapa contoh cerita inspiratif tentang indahnya kebersamaan dan keberagaman berikut ini.
Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman 1

“Ayah, hari ini pulang malam lagi?” tanya Siska pada Andi saat mereka sedang sarapan.
“Ya, Sayang.”
Siska dan adiknya, Farel, tampak kecewa. Tapi Siska segera tersenyum dan berkata lagi, “Kalau begitu, kita menunggu di rumah Opung Ami saja ya, Yah?”
Andi mengerutkan kening tanda tidak suka. “Buat apa? Kalian tunggu saja di rumah.”
“Kita takut sendirian di rumah, Yah,” gumam Farel. “Lagi pula, Opung Ami sering bikin kue yang enak, Yah!”
“Tidak,” larang Andi tegas. “Jangan ke rumah orang tua itu. Nanti kalian akan dicekoki ajaran-ajaran agamanya yang sesat!”
“Tapi, Yah—”
“Tunggu di rumah.”
Siska dan Farel tidak berani membantah lagi. Walau begitu, mereka tampak murung sampai Andi akhirnya berangkat kerja.
Sejak bercerai, Andi memang sering sekali kerja hingga tengah malam. Alasannya tentu saja demi mendapatkan uang lebih untuk memenuhi keperluan anak-anaknya yang masih kecil.
Tapi, akhir-akhir ini, Andi mulai sadar bahwa ia terlalu tidak acuh pada anak-anaknya. Mereka sering kali menunggu Andi pulang di rumah, hanya berdua.
Sampai beberapa minggu yang lalu seorang wanita tua pindah ke rumah di samping mereka. Namanya Ami, tapi anak-anak memanggilnya Opung yang berarti Nenek.
Dari cerita Siska, mereka sering menginap di rumah Opung jika Andi bekerja lembur. Opung Ami sangat baik dan merawat mereka layaknya cucu sendiri.
Walau begitu, Andi justru merasa kesal dan waswas. Pasalnya, Ami memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka.
Andi takut anak-anaknya akan dicekoki hal-hal yang tidak berguna, atau lebih parah lagi, dicuci otaknya oleh Ami.
Memikirkan hal itu, Andi pun memutuskan untuk tidak lembur hingga larut malam. Ia buru-buru pulang karena tidak ingin anak-anaknya pergi ke rumah Ami.
Betapa terkejutnya Andi saat melihat banyak polisi dan petugas pemadam kebakaran di sekitar rumahnya. Banyak pula orang-orang yang berkerumun, penuh rasa ingin tahu.
“Ada apa ini?!” seru Andi panik. “Pak Polisi, itu rumah saya! Ada apa?!”
“Gas meledak, Pak,” sahut seorang Polisi yang sedang sibuk mengatur kerumunan. “Sepertinya Anda lupa mematikan kompor dengan benar.”
“Anak-anak saya!” pekik Andi sambil berusaha menerobos masuk. Tapi ia segera ditahan oleh para petugas pemadam kebakaran dan polisi. “Anak-anak saya masih di dalam, Pak!”
“Ayah!”
“Ayah!”
Di tengah kekalutannya, Andi menoleh saat mendengar suara Siska dan Farel. Kedua anaknya itu tampak berdiri di balkon rumah Ami.
“Ayah! Kita di sini!”
Seketika itu juga hati Andi terasa lega. Buru-buru ia berlari menuju rumah Ami.
“Anak-anakmu baik-baik saja, Di,” kata Ami saat membukakan pintu bagi pria itu. “Mereka sedang berkunjung saat rumahmu meledak.”
“Terima kasih, Opung,” ucap Andi dengan suara tercekat. “Terima kasih banyak.”
“Bukan masalah. Siska dan Farel sudah seperti cucuku sendiri.” Ami tersenyum ramah, membuat kerutan di wajahnya semakin banyak. “Tapi, jika aku boleh memberimu nasihat, jangan pulang larut malam lagi ya? Kasihan anak-anakmu, Di.”
Andi mengangguk. Matanya berkaca-kaca saat ia melihat Siska dan Farel berlari menghampiri.
Ia memeluk kedua anaknya itu erat-erat sambil mengucapkan rasa syukur berkali-kali.
Jika mereka tidak sedang berkunjung ke rumah Ami … jika Ami tidak menerima mereka dengan tangan terbuka … entah apa yang akan terjadi.
Sejak itu, Andi tidak lagi bersikap diskriminatif terhadap Ami. Ia mulai berteman dengan Ami dan turut memberikan perhatian pada wanita tua yang hidup seorang diri itu.
Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman 2

Tony sangat terkejut saat melihat bahwa salah seorang teman satu regunya berasal dari Afrika dan berkulit hitam.
Hal itu menambah kesan misterius dan menakutkan, sehingga tanpa sadar, Tony pun memasang sikap permusuhan pada teman dari Afrika itu.
Namanya adalah Diallo dan ia baru berusia 23 tahun. Mengetahui hal tersebut, Tony semakin tidak suka dengannya.
Dalam benak Tony, latar belakangnya yang berasal dari Afrika saja sudah membuatnya menakutkan, apa lagi usianya yang masih sangat muda, berbeda tujuh tahun dengan Tony.
Pastilah si Diallo ini tidak akan mau menurut dan terus membangkang.
Sebagai pemimpin regu, Tony pun bersikap tegas. Tapi, sikap tegasnya itu meningkat berkali-kali lipat saat berhadapan dengan Diallo.
Tak jarang Diallo harus melakukan push up dan sit up dua kali lebih banyak dari teman-temannya yang lain. Namun, alih-alih kesal, Diallo menjalani semua itu tanpa banyak protes.
Hal ini membuat Tony semakin kesal. Ia pun mulai melontarkan berbagai macam jenis umpatan dan sumpah serapah untuk Diallo.
Lagi-lagi pemuda itu tetap tenang. Pandangannya selalu lurus dan suaranya selalu lantang dan mantap saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Tony.
Suatu hari, regu Tony mendapatkan tugas untuk menyelinap masuk ke sarang teroris. Mereka harus menyelamatkan para sandera lalu menangkap para teroris hidup-hidup.
Tony dan regunya pun bersiap. Mereka menyusun rencana yang matang dan mulai melaksanakannya.
Butuh waktu cukup lama bagi regu Tony untuk menyelamatkan seluruh sandera. Mereka berhasil melakukannya secara diam-diam.
Akan tetapi, saat Tony hendak menyelinap keluar setelah memastikan seluruh sandera dan rekannya selamat, tiba-tiba seorang teroris muncul dan menodongkan senjata.
Tony hendak berkelit, tapi seorang teroris muncul dan hendak memukulnya dari belakang. Tiba-tiba, seseorang menembak dari kejauhan.
Bidikannya sangat tepat dan akurat, menghantam kaki dan tangan dua teroris tersebut. Seketika itu juga mereka terkapar ke lantai.
Tony terkejut dan memandang berkeliling, berusaha mencari asal tembakan tersebut.
“Anda baik-baik saja, Kapten?” tanya Diallo yang tiba-tiba muncul di samping Tony bersama beberapa tentara lainnya.
Mereka segera membekuk para teroris yang terluka dan membawa mereka pergi. Sementara Diallo membantu Tony keluar dari gedung.
“Anda baik-baik saja, Kapten?” tanya Diallo lagi saat mereka sudah berhasil keluar.
“Kau …. Mengapa kau membantuku?”
“Tentu saja saya akan membantu Anda, Kapten. Anda adalah kapten regu ini. Tanpa Anda, kami akan kacau balau.”
Diallo mengatakan itu sambil menyeringai. Wajahnya yang berkulit cokelat gelap jadi tampak berseri-seri.
Mendengar jawaban itu, Tony menjadi tertegun. Diam-diam ia mulai menyesal karena sudah bersikap tidak adil pada Diallo.
“Bersama itu lebih baik daripada sendiri, Kapten.” Seorang tentara datang menghampiri dan menepuk pundak Tony. “Syukurlah Diallo berhasil menyelamatkan Anda.”
Tony sekarang benar-benar menyesal karena sudah membenci Diallo tanpa alasan.
“Maafkan sikapku selama ini, Diallo,” ucap Tony akhirnya.
“Tidak masalah, Kapten.” Diallo menyeringai lagi.
Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman 3

Ada seorang pria tua bernama Haris yang tinggal seorang diri di sebuah rumah reyot di Kompleks Garuda. Tidak ada yang berani mendekati rumah tersebut karena Pak Haris sangat galak.
Beberapa hari yang lalu, ia melempari anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya dengan batu kerikil.
Beberapa minggu yang lalu, ia mengusir Pak Pos yang datang mengirimkan surat-surat tagihan.
Dan beberapa bulan yang lalu, ia memukul wajah Pak RT yang datang berkunjung untuk menanyakan kabar.
Sejak itu, tidak ada lagi yang berani mencoba mendekati rumah Pak Haris. Warga Kompleks Garuda akhirnya membiarkan saja pria tua itu dengan kesendiriannya.
“Sudah seminggu ini Pak Haris tidak terlihat,” kata Bu Seno saat sedang berkumpul di acara Arisan Para Istri Kompleks Garuda. “Biasanya ia akan menyiram tanaman di pagi hari dan memberi makan ayam-ayamnya.”
“Apakah ia sakit?” tanya Bu Wira.
“Mungkin saja,” sahut Bu Susan. “Tapi, segan sekali rasanya jika kita harus berkunjung ke rumahnya.”
“Betul. Karena ia pasti akan mengusir kita sambil marah-marah!”
Ibu-ibu yang lain pun setuju. Tidak ada yang mau berkunjung ke rumah Pak Haris untuk sekadar menanyakan kabarnya.
“Tapi, malang sekali kalau ternyata ia benar-benar jatuh sakit,” kata Bu Seno lagi. “Ia tidak punya sanak saudara yang bisa mengurusnya.”
“Kalau ia sampai meninggal, kita juga yang repot,” sahut Bu Wisnu.
“Hush, Bu! Jangan bicara sembarangan!”
“Yang penting, kita harus menengok keadaannya terlebih dahulu!” kata Bu Seno dengan tegas.
Akhirnya, para ibu setuju. Mereka pun menyusun rencana dan bergegas pulang untuk memberi tahu suami masing-masing.
Keesokan harinya, Bu Seno dan Pak Seno yang masuk ke halaman rumah Pak Haris untuk mengetuk pintu depan. Sementara para suami-istri yang lain menunggu di luar pagar.
Halaman rumah Pak Haris tampak tidak terurus. Rumputnya sudah sangat tinggi dan dipenuhi kotoran ayam.
Pak Seno dan Bu Seno mengetuk pintu sambil berseru memanggil Pak Haris. Tapi tidak ada yang menyahut.
Mereka lalu mencoba mengetuk pintu belakang. Saat masih tidak ada sahutan, Pak Seno pun mencoba membuka pintu. Ternyata tidak terkunci! Pak Seno dan Bu Seno bergegas masuk.
Keadaan dalam rumah juga sangat berantakan. Pakaian kotor dan sampah berserakan, piring-piring kotor menumpuk di tempat cuci, dan Pak Haris tampak tergeletak tak sadarkan diri ruang tamu.
Pak Seno dan Bu Seno buru-buru menelepon ambulans dan membawa Pak Haris yang malang ke rumah sakit.
Sementara itu, para ibu dan bapak yang tetap tinggal di Kompleks Garuda segera bergotong royong merapikan rumah Pak Haris.
Saat Pak Haris membuka mata, ia terkejut melihat Pak Seno dan Bu Seno yang duduk berjaga di sampingnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Pak Haris dengan suara serak.
“Anda pingsan karena anemia, Pak. Kata dokter, sudah beberapa hari Anda kurang asupan gizi.”
“Jangan khawatir, Pak. Para ibu dan bapak di Kompleks Garuda sedang mengurus rumah Anda. Nanti setelah Anda boleh pulang, kita akan makan siang bersama,” sambung Bu Seno sambil tersenyum.
Pak Haris tidak bisa menahan air matanya. Pria tua malang itu menangis tersedu-sedu. Pak Seno dan Bu Seno menepuk-nepuk lengan Pak Haris.
“Jangan khawatir, Pak. Ayam-ayam Anda sudah dirawat dengan baik oleh warga Kompleks Garuda,” kata Pak Seno sambil menyeringai.
Mau tidak mau, Pak Haris ikut tertawa mendengar seloroh tersebut.
Itulah beberapa contoh cerita inspiratif tentang kebersamaan dan keberagaman yang mungkin pernah terjadi di sekitarmu.
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya




