7 Contoh Cerpen Singkat dengan Nilai-nilai yang Terkandung di Dalamnya
Membaca cerpen memang menyenangkan. Tetapi, selain menghibur, cerpen juga punya nilai-nilai yang disampaikan, lho. Simak contohnya di sini.
2. Dompet yang Membawa Berkah
Namaku Andi, seorang pemuda lulusan SMA yang baru saja merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Setiap hari aku berkeliling membawa map berisi berkas lamaran. Beberapa perusahaan sudah kukunjungi, namun tak ada satu pun yang memberikan kepastian. Hidup di perantauan dengan tabungan seadanya membuatku sering merasa cemas. Makan pun harus kuhemat, kadang hanya cukup dengan sebungkus nasi kucing untuk bertahan.
Suatu sore, ketika aku berjalan pulang dari sebuah kantor yang baru saja menolakku, mataku tertuju pada sebuah benda di pinggir jalan. Itu adalah dompet hitam yang tampak lusuh. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, khawatir ada orang yang mengira aku mencuri. Namun karena jalan cukup sepi, aku memberanikan diri memungutnya.
Ketika kubuka, isi dompet itu cukup mengejutkan. Ada beberapa lembar uang seratus ribuan, kartu identitas, dan juga kartu ATM. Sesaat hatiku bergejolak. “Dengan uang ini, aku bisa makan enak dan bertahan lebih lama di kota,” pikirku. Tapi kemudian suara hati kecilku berbisik, “Bagaimana jika pemilik dompet itu sedang kesulitan lebih besar darimu? Bagaimana kalau uang ini untuk biaya sekolah anaknya?”
Aku pun menutup dompet itu kembali. Tekadku bulat untuk mengembalikannya. Dengan alamat yang tertera di KTP, aku berjalan kaki cukup jauh hingga sampai di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Setelah mengetuk pintu dan menjelaskan maksud kedatanganku, seorang pria paruh baya menyambutku. Ternyata benar, dialah pemilik dompet itu.
Wajahnya langsung berbinar ketika menerima dompet tersebut. Ia terus mengucapkan syukur dan berterima kasih kepadaku. “Nak, kau tidak tahu betapa berharganya dompet ini. Uang di dalamnya adalah modal saya untuk berdagang esok hari. Tanpa uang itu, saya tidak bisa membeli bahan dagangan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya.” Namun, pria itu tak berhenti mengucapkan terima kasih. Sebelum aku berpamitan, ia menawarkan sesuatu yang tak pernah kuduga. Ia memiliki kios kecil di pasar, dan ia membutuhkan tenaga tambahan. Ia pun menawarkanku pekerjaan sebagai asisten di kiosnya.
Sejak hari itu, hidupku berubah. Aku mungkin tidak langsung bekerja di perusahaan besar seperti yang kuimpikan, tapi setidaknya aku memiliki pekerjaan tetap untuk bertahan hidup. Aku menyadari, kejujuran akan selalu membawa kebaikan, meski awalnya terlihat sebagai pilihan yang berat.
Nilai-nilai dalam Cerpen
Dalam cerpen tersebut, tokoh Andi digambarkan sebagai pemuda yang sedang kesulitan mencari pekerjaan dan hidup pas-pasan di kota. Namun, ketika menemukan dompet berisi uang, ia memilih untuk mengembalikannya kepada pemiliknya meski dirinya sendiri sedang sangat membutuhkan.
Nilai yang terkandung dalam cerpen ini adalah nilai moral kejujuran dan nilai sosial tentang kepedulian. Kejujuran Andi membawanya pada keberkahan yang tak terduga, yaitu mendapatkan pekerjaan yang justru ia butuhkan.
Cerpen ini mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik dan jujur, karena kebaikan akan kembali kepada kita dengan cara yang mungkin tak disangka-sangka.
3. Sepeda Tua yang Menghidupi
Namaku Raka. Aku tinggal di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Kehidupanku sederhana, bahkan bisa dibilang serba kekurangan. Ayah sudah lama meninggal, dan ibuku bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga. Aku sendiri masih duduk di kelas 3 SMP, tapi setiap sore aku ikut membantu ibu mencari tambahan penghasilan.
Aku memiliki sepeda tua peninggalan ayah. Catnya sudah terkelupas, rantainya sering lepas, dan remnya kadang tidak berfungsi dengan baik. Namun sepeda itu adalah satu-satunya harta berharga yang kupunya. Setiap hari aku mengayuh sepeda tua itu ke sekolah, lalu sepulangnya kupakai untuk mengantarkan pesanan sayur ke rumah-rumah tetangga.
Suatu sore, ketika aku mengayuh sepeda pulang, aku melihat seorang anak kecil menangis di pinggir jalan. Di tangannya ada tas sekolah yang tampak kotor. Aku berhenti dan bertanya, “Kenapa kamu nangis?” Anak itu menjawab dengan terbata, “Sepeda aku jatuh ke sungai, Kak. Aku takut dimarahi Bapak.”
Aku menoleh ke arah sungai kecil di dekat jalan. Benar saja, sebuah sepeda mini terperosok ke dalam air. Tanpa pikir panjang, aku menaruh sepedaku di pinggir jalan dan turun ke sungai. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil menarik sepeda itu keluar. Anak itu tersenyum lega, lalu mengucapkan terima kasih berulang kali.
Namun, akibat membantu, celana seragamku basah kuyup. Sesampainya di rumah, ibuku justru tersenyum sambil berkata, “Tak apa basah, Nak. Allah pasti senang kalau kita menolong orang lain.” Kata-kata ibu itu menenangkan hatiku.
Beberapa hari kemudian, aku dikejutkan oleh kedatangan seorang pria ke rumah. Ternyata ia ayah dari anak kecil yang kubantu. Ia datang membawa bingkisan sembako dan uang sebagai tanda terima kasih. Awalnya aku menolak, tetapi ia memaksa sambil berkata, “Kebaikanmu sudah membuat anak saya belajar berani. Terimalah ini.”
Sejak saat itu, aku semakin yakin bahwa sepeda tua peninggalan ayah bukan sekadar barang usang. Sepeda itu telah membawaku pada banyak pengalaman berharga, termasuk kesempatan untuk berbuat baik pada orang lain.
Nilai-nilai dalam Cerpen
Nilai yang terkandung adalah nilai sosial berupa tolong-menolong serta nilai moral berupa ketulusan. Meski serba kekurangan, Raka tetap mau menolong tanpa pamrih, dan kebaikan itu berbalas dengan cara yang indah.
Halaman:
