10 Contoh Literasi Singkat Tentang Pendidikan yang Inspiratif dan Penuh Motivasi
Contoh literasi singkat tentang pendidikan merupakan cerita atau pengetahuan yang menggambarkan suasana dan kondisi pendidikan tertentu.
Contoh literasi singkat tentang pendidikan – Literasi singkat tentang pendidikan sangat penting untuk menanamkan norma dan karakter pada anak-anak didik di sekolah.
Cerpen dalam literasi tentang pendidikan dapat digunakan sebagai materi tambahan dalam proses belajar.
Hal ini karena dengan belajar menuangkan ide kedalam cerita bisa digunakan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak dalam berpikir.
Contoh Literasi Singkat Tentang Pendidikan yang Inspiratif dan Penuh Motivasi
Daftar Isi [hide]
- Contoh Literasi Singkat Tentang Pendidikan yang Inspiratif dan Penuh Motivasi
- Gelar Sarjana yang Harus Kurelakan
- Impian Pendidikan yang Kutunggu
- Utopia Putih Merah yang Didambakan
- Filosofi Pensil
- Persahabatan yang Berkesan
- Akibat Sifat Sombong
- Kebohongan yang Berujung Malu
- Pentingnya Kepribadian dan Adab yang Baik dan Benar
- Pentingnya Memiliki Rasa Percaya Diri
- Ujian Bukan Perkara yang Menakutkan

Di era literasi digital seperti sekarang literasi memiliki peranan yang penting. Ada banyak manfaat literasi yang bisa didapatkan.
Dalam pembuatan literasi singkat ini sebaiknya karakter dan tokoh yang dimunculkan sesuai dengan kehidupan pembaca sehari-hari.
Dengan demikian, akan membuat pembahasan dalam literasi ini bisa menjadi gambaran bagaimana seharusnya peserta didik yang patuh dan baik terhadap guru.
Selain itu juga bagaimana bersikap yang tepat di lingkungan masyarakat.
Hal ini karena pendidikan tidak hanya sebatas edukasi formal, tetapi juga hubungan dengan masyarakat, nasionalisme, rasa idealisme, dan kecintaan terhadap alam sekitar dan nusantara.
Jika kamu sedang mencari bahan bacaan untuk literasi yang singkat, berikut ini beberapa contoh literasi singkat tentang pendidikan.
Gelar Sarjana yang Harus Kurelakan
Judul contoh literasi singkat tentang pendidikan yang pertama adalah Pilihan Antara Keluarga dan Masa Depan. Bercerita tentang dua pilihan yang tidak bisa diputuskan dengan mudah.
Ini merupakan sepenggal cerita sedih untuk aku sendiri yang memilih untuk mengakhiri dunia pendidikan yang didambakan karena terkendala oleh biaya.

Advertisement
Hal ini terjadi pada diri aku sendiri di awal tahun 2017 silam. Aku merupakan Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Surabaya.
Aku memilih memfokuskan pada jurusan Manajemen Industri. Hal ini karena sejak kecil aku mendambakan untuk mendapatkan dan memegang gelar Sarjana Ekonomi.
Namun, sayangnya realita tidak berjalan sesuai dengan semua harapan. Aku mendapati suatu kendala yang tidak bisa dipungkiri dan menjadi pilihan yang berat.
Kendala ini memaksaku untuk menerima semua yang terjadi dengan lapang dada. Ya, permasalahan yang klasik, yakni mengenai biaya.
Hal itu bukanlah kendala terbesar, tetapi keadaan kesehatan sang Ayah di kampung yang semakin memburuk dari hari ke hari.
Keuangan juga semakin menipis karena totalitas dialihkan untuk biaya pengobatan beliau. Kisah ini bermula saat tiba saatnya membayar uang semester yang seingat aku berjumlah Rp 1.900.00,- per 6 bulannya. 5 hari sebelum pembatasan pembayaran berakhir, ibu menelponku.
“Assalamualaikum nak …,” buka ibu.
“Waalaikumsalam bu,” jawabku.
“Nak, ibu mau bilang, kesehatan ayahmu terus memburuk. Biaya SPP kuliahmu memang sudah tersedia, tapi sepertinya kondisi ayahmu membuatnya harus dibawa berobat. Sedangkan uang cuma tinggal untuk SPP kamu saja,” ungkap ibu dengan nada sedih.
Aku tidak bisa berkata banyak selain air mata yang perlahan dan semakin deras terjatuh. Aku berusaha untuk tenang dan memutuskan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginanku selama ini. Dengan hati yang terasa berat aku memilih hal yang tidak diinginkan.
“Kesehatan dan kesembuhan ayah tetap jadi yang penting, perihal biaya pembayaran SPP tidak perlu khawatir, uangnya dipakai untuk biaya kesembuhan ayah aja.”
“Kamu yakin, Nak? Jadi bagaimana tentang perkuliahan? Bukannya kamu bilang kalau batas akhir pembayaran akhir minggu ini?” Tanya ibu.
“Batasnya memang minggu ini, Bu, tapi tidak apa-apa tidak perlu dipikirkan, biaya untuk pengobatan untuk kesembuhan ayah lebih penting,” tuturku.
“Lalu bagaimana dengan nasib kuliah kamu?” Ibu kembali bertanya.
“Ibu, aku sudah memikirkan matang-matang hal ini dari kemarin malam, aku memutuskan berhenti kuliah dan pulang ke kampung tinggal dengan kalian semua,” ucapku.
Sejujurnya, ini merupakan keputusan terberat dan paling menyakitkan yang pernah aku buat di dalam hidupku. Ibu terdiam sejenak dan kemudian menjawab
“Nak, ibu minta maaf tidak bisa berbuat banyak, jika itu keputusanmu ibu tidak bisa apa-apa lagi. Ibu cuma bisa berkata untuk memahami bagaimana keadaan ekonomi kita sekarang,” gumam ibu pelan.
“Iya bu, aku mengerti dan paham. Jadi, jangan pikirkan panjang lagi soal perkuliahanku, fokus saja untuk pengobatan ayah,” aku akhiri pembicaraan.
Setelah telpon kututup, rasa berkecamuk muncul di kepalaku. Aku baru saja memutuskan hal yang sejatinya tidak aku inginkan.
Semenjak hari itu aku hanya memikirkan bagaimana nasib masa depan dengan putus kuliah.
Namun, dibalik semua ini aku yakin Allah SWT menyiapkan hal yang lebih indah. Kini aku hanya bisa bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT.