Faktor-faktor Penghambat Mobilitas Sosial dan Penjelasannya Lengkap

Faktor-faktor Penghambat Mobilitas Sosial dan Penjelasannya Lengkap — Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial?

Sederhananya, mobilitas sosial adalah suatu proses aktivitas seseorang secara sosial.

Apabila kamu penasaran dengan penjelasan lengkap seputar apa saja faktor-faktor penghambat mobilitas sosial, maka bisa menyimak ulasan Mamikos kali ini.

Sebab di sini, Mamikos sudah merangkum penjelasan faktor penghambat mobilitas sosial untuk kamu.

Mengenal Faktor yang Menghambat Mobilitas Sosial Berikut Penjelasannya

freepik.com/Yanalya

Pada opening artikel ini, kamu sudah menyimak sedikit uraian mengenai apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial itu seperti apa.

Mobilitas sosial dapat disebut sebagai proses dari keberhasilan atau kegagalan seorang individu saat ia melakukan aktivitas sosial.

Apakah individu yang dimaksud dapat berpindah dari satu posisi ke posisi yang sama (mobilitas sosial horizontal/mendatar) atau berpindah dari posisi satu ke posisi yang lebih tinggi (mobilitas sosial vertikal/ke atas).

Sesungguhnya ada banyak bentuk dan contoh dari mobilitas sosial yang dapat kamu temui dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti misalnya perpindahan kewarganegaraan seseorang (mobilitas sosial horizontal) atau kenaikan jabatan/posisi (mobilitas sosial vertikal).

Meski demikian, dalam penerapannya ini, terdapat beberapa faktor penghambat bagi seseorang dalam mobilitas sosialnya.

Poin itulah yang akan Mamikos bahas secara mendalam pada artikel ini. Mari langsung simak uraian selengkapnya mengenai apa saja faktor-faktor penghambat mobilitas sosial tersebut sebagai berikut.

Beberapa Faktor Penghambat Mobilitas Sosial dan Penjelasannya

Mamikos sudah menghimpun beberapa penjelasan mengenai apa saja faktor-faktor penghambat mobilitas sosial di bawah ini.

Simak dengan saksama agar kamu dapat lebih memahaminya nanti.

1. Faktor penghambat mobilitas sosial pertama: Sistem lapisan sosial tertutup

Faktor penghambat mobilitas sosial yang pertama dikenal dengan sistem pelapisan sosial yang tertutup dalam masyarakat.

Ini menjadi faktor pertama yang kemungkinan besar dapat menghambat naiknya seseorang atau individu untuk melakukan mobilitas sosialnya.

Contohnya saja dalam masyarakat feodal, yang diperkenankan untuk mendudukin lapisan sosial kelas atas hanyalah para keturunan bangsawan saja.

Sedangkan rakyat kecil akan tetap menempati lapisan sosial paling bawah/ kelas bawah.

2. Faktor penghambat mobilitas sosial kedua: Kemiskinan

Faktor berikutnya yang akan jadi penghambat mobilitas adalah faktor kemiskinan. Minimnya biaya yang dimiliki menjadi masalah sebagian besar masyarakat miskin yang ingin menaikkan status atau kelas sosialnya.

Tidak sedikit yang masyarakat miskin yang mengaku merasa kesulitan karena ketiadaan biaya tersebut.

Ingin mengubah nasib dengan menjalankan usaha atau menyekolahkan anak ke sekolah terbaik atau hingga jenjang paling tinggi pun sering terkendala karena dana yang dimiliki sangat minim.

3. Faktor penghambat mobilitas sosial ketiga: Kebudayaan di masyarakat

Faktor selanjutnya mengapa mobilitas sosial terhambat naik adalah karena kebudayaan di masyarakat itu sendiri.

Tak sedikit masyarakat yang justru mengambil sikap tertutup terhadap perubahan yang sering terjadi karena adanya pengaruh dari luar kebudayaan yang sudah lama ia yakini atau jalani.

Masyarakat yang masuk pada golongan ini biasanya masih memegang erat dan teguh akan adat istiadat hingga tradisi secara turun temurun.

Oleh sebab itu, masyarakat jadi kesulitan untuk melakukan mobilitas sosial sebab menolak terhadap perubahan yang ada.

Landasan yang Dapat Mendorong Mobilitas Sosial

Selain ulasan mengenai apa saja faktor yang menghambat mobilitas seperti yang sudah Mamikos tuliskan di atas, Mamikos juga merangkum beberapa landasan yang dapat jadi pendorong mobilitas sosial itu sendiri.

1. Faktor struktural

Kedudukan tinggi yang dapat dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya ialah faktor struktural dalam jumlah yang relatif.

Contoh faktor struktural adalah ketidakseimbangan antara jumlah lapangan kerja yang terbuka dengan jumlah pelamar/pencari kerja.

Faktor struktural ini juga terdiri atas beberapa hal antara lain:

Struktur Pencaharian

Dalam dunia kerja, terdapat struktur yang terdiri dari kedudukan tinggi dan yang lebih rendah.

Apabila jumlah orang berkedudukan tinggi jauh lebih banyak, maka orang dapat menjadi termotivasi untuk menaikkan kedudukan sosial dan ekonominya.

Perbedaan Fertilitas (kesuburan)

Tingkat kelahiran ini juga berhubungan erat dengan jumlah dan jenis pekerjaan dengan kedudukan tinggi atau rendah di atas.

Ekonomi Ganda

Ekonomi ganda dapat berdampak cukup serius pada jumlah pekerjaan, baik dengan yang statusnya tinggi maupun rendah.

Kesempatan mobilitas individu juga tergantung pada keberhasilan dalam melakukan pekerjaan di bidang yang diminati.

Sebab, dalam lingkup masyarakat modern atau masa kini, kenaikan status sosial seseorang bisa sangat dipengaruhi oleh faktor prestasi yang dapat dicapai.

2. Faktor Individu

Faktor individu jadi faktor berikutnya yang dapat memengaruhi mobilitas. Faktor ini mencakup dari pendidikan, penampilan, kecakapan, hingga keahlian dari individu tersebut.

Faktor individu ini juga terbagi atas beberapa poin:

Perbedaan Kemampuan/keahlian

Seorang yang cakap atau yang memiliki kemampuan lebih akan berpeluang lebih besar dalam menentukan mobilitas sosialnya.

Atau secara sederhana, ia akan lebih berpeluang dalam meraih keberhasilan hidup.

Orientasi Sikap Terhadap Mobilitas

Setiap orang memiliki sikap yang berbeda dalam mendorong prospek mobilitas sosialnya.

Dapat dibuktikan dengan bagaimana ia memiliki kebiasaan kerja, saat ia menjalani pendidikannya, penundaan kesenangan, hingga memperbaiki penampilan diri.

Kemujuran/keberuntungan

Kemujuran juga cukup berperan penting dalam mendorong kerja keras individu dalam mencapai titik hasil dan respons yang ia harapkan.

3. Status Sosial

Kita semua lahir dalam status sosial yang dimiliki orang tua kita masing-masing.

Apabila kamu tak puas status pemberian (keturunan) tersebut, maka kamu dapat mencari kedudukan sendiri di lapisan sosial yang lebih tinggi dengan melihat potensi atau kemampuan diri.

Semakin luwes struktur sosial kamu di masyarakat, maka semakin mungkin juga kamu mendapat kedudukan yang ingin diraih.

4. Kondisi Ekonomi

Keadaan ekonomi menjadi faktor pendorong seseorang dapat menjalani mobilitas.

Contohnya, seseorang yang tidak mau lagi hidup di lingkungan dengan keadaan ekonomi yang kekurangan lalu memilih pindah ke tempat lain yang lebih baik.

5. Situasi Politik atau Keamanan Negara

Situasi politik dan keadaan negara yang tidak sesuai dengan harapan, paham/pandangan, maupun hati nurani juga dapat memengaruhi situasi keamanan dan kenyamanan seseorang untuk bertahan.

Meskipun di negara tersebut terdapat sumber daya alam yang baik, namun seseorang bisa saja berpindah untuk mencari kehidupan lebih baik.

6. Kondisi Kependudukan (Demografi)

Faktor kependudukan juga dapat mendorong masyarakat untuk mencari kediaman dan penghidupan yang jauh lebih baik. Jika sudah demikian, maka mobilitas secara geografis ini dapat jadi pendorong dari mobilitas sosial.

7. Keinginan Melihat Tempat Lain

Timbulnya suatu keinginan untuk melihat tempat lain juga dapat mendorong individu untuk melangsungkan mobilitas geografis dari tempat asalnya ke tempat lain. Misalnya saja berekreasi ke daerah wisata yang belum ia kunjungi.

Informasi tadi menyudahi penjelasan Mamikos pada artikel di atas. Mudah-mudahan saja apa yang sudah Mamikos sampaikan di atas terkait faktor-faktor penghambat mobilitas sosial dan penjelasannya tersebut dapat menginspirasi kamu semua.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta