5 Keberagaman Suku-suku yang Ada di Indonesia Beserta Penjelasan dan Gambarnya

5 Keberagaman Suku-suku yang Ada di Indonesia beserta Penjelasan dan Gambarnya – Indonesia memiliki keberagaman suku dengan adat istiadat, budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Ini tentunya menjadi kelebihan dan keunikan tersendiri bagi negara kita. Yuk ulik lebih banyak lagi informasi tentang keberagaman suku yang ada di Indonesia dalam artikel ini.

Berikut Keberagaman Suku-suku yang Ada di Indonesia

https://unsplash.com/@yobbyrony

Letak geografis Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki beragam suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Ditambah lagi ada banyak etnis asing yang datang dan menetap di Indonesia, hal ini tentu memperkuat keberagaman suku yang ada di Indonesia.

Suku adalah sekelompok orang yang mempunyai bahasa, kebudayaan dan sejarah yang sama.

Biasanya, sekelompok orang ini tinggal di wilayah yang terpisah dan memiliki kesamaan dalam hal adat istiadat, kepercayaan dan tradisi.

Selain itu, suku juga bisa diartikan sebagai komunitas yang terdiri dari keluarga-keluarga berdekatan secara geografis dan mempunyai hubungan kekerabatan yang erat.

Di Indonesia, terdapat belasan ribu jumlah suku di mana masing-masing suku memiliki ciri khasnya tersendiri. Berikut ini adalah 5 suku yang populer dan paling banyak di Indonesia:

1. Suku Jawa

https://unsplash.com/@kyrhmt

Menurut
Sensus Penduduk 2010, suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia
dengan jumlah populasi sekitar 95.217.022 jiwa. Jumlah ini setara dengan 40,22
persen jumlah penduduk Indonesia.

Sebagian besar masyarakat suku Jawa tinggal di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun, mereka juga tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatera bahkan ada yang sudah bermigrasi ke luar negeri seperti Malaysia.

Mayoritas suku Jawa merupakan penganut agama Islam, dengan beberapa minoritas seperti Kejawen, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu.

Demikian pula peradaban orang Jawa yang sudah dipengaruhi interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha selama lebih dari seribu tahun. Pengaruh ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi dan bentuk kesenian Jawa.

Masyarakat Jawa masih memegang teguh kepercayaan Kejawen, di mana Kejawen merupakan ajaran yang dianut oleh para filsuf Jawa.

Kejawen sendiri menjadi ajaran utama dalam membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang lebih baik.

Perlu
kamu pahami bahwa Kejawen adalah suatu kepercayaan, bukan sebuah agama. Kejawen
lebih merujuk pada seni, budaya, tradisi, ritual, sikap, dan filosofi
masyarakat Jawa yang tidak terlepas dari spiritualitas suku Jawa.

Seiring dengan agama yang dianut oleh pengikutinya, aliran Kejawen pun mulai berkembang hingga akhirnya dikenal sebagai Islam Kejawen, Kristen Kejawen, Buddha Kejawen, dan Hindu Kejawen.

Kini, kepercayaan Kejawen sudah dianggap kuno bagi sebagian orang, namun masih banyak masyarakat yang masih menjalankan tradisi, upacara, dan ritual Kejawen seperti mitoni, nyadran, tedhak siten, wetonan, dan lain-lain.

Suku Jawa juga dikelompokkan bersama suku lainnya yang ada di Pulau Jawa, seperti suku Samin, suku Nagaring, suku Boyan, suku Naga, suku Osing, dan suku lainnya yang mendiami Pulau Jawa.

Terkenal dengan keramahtamahannya, masyarakat Suku Jawa biasanya berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan sesama orang Jawa. Uniknya, setiap daerah memiliki dialek Jawa yang berbeda-beda.

Tak hanya itu saja, Suku Jawa juga dikenal kaya akan kesenian. Salah satu bentuk kesenian suku Jawa yang masih populer dan dilestarikan hingga saat ini adalah seni tari.

Ada beberapa tari yang biasa dipertunjukkan, yakni Tari Reog, Tari Gambyong, dan Tari Serimpi.

2. Suku Sunda

Gramedia.com

Suku
Sunda merupakan salah satu suku mayoritas juga di Indonesia. Berasal dari Jawa
Barat, menurut Sensus Penduduk 2010 populasi masyarakat suku Sunda mencapai 15,5%
dari penduduk Indonesia atau terbesar kedua setelah Suku Jawa. Oleh karena itu,
bisa dikatakan bahwa suku Sunda merupakan suku kedua terbesar di Indonesia.

Kata ‘Sunda’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, di mana kata ‘Sund atau Sundsha’ berarti putih, berkilau, bersinar, dan terang.

Dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno, ‘Sunda’ diartikan sebagai murni, suci, tak tercela, tak bernoda, atau bersih.

Menilik
dari sejarahnya, Suku Sunda merupakan keturunan Austronesia (ras Mongolid atau
ras yang tersebar dari Taiwan hingga Hawaii) yang berada di Taiwan. Kemudian,
mereka bermigrasi melalui kepulauan Filipina hingga tiba di Jawa sekitar 1.500
hingga 1.000 SM.

Namun,
ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa suku Sunda berasal dari
Sundalandia, yakni ras yang mendiami semenanjung cekungan besar. Kini, cekungan
tersebut sudah membentuk Laut Jawa, Selat Jawa, dan Selat Malaka.

Nah,
orang Sunda memiliki ciri khas yang menjadi identitas suku ini. Salah satunya
adalah kesulitan melafalkan huruf ‘F’.

Diketahui, orang Sunda sulit melafalkan huruf tersebut karena di dalam aksara dan bahasa Sunda Kuno tidak mengenal huruf ‘F’.

Biasanya, mereka akan melafalkan huruf ‘F’ menjadi ‘P’, dimana hal ini sudah terjadi secara turun-temurun dan dari generasi ke generasi.

Ciri khas orang Sunda lainnya yang paling dikenal adalah penyuka lalapan. Hampir dalam setiap menu makanan sehari-hari, tersedia lalapan dan sambal.

Orang Sunda merasa aka nada yang kurang jika menyantap makanan utama, namun tidak ada lalapan sebagai pendamping.

Untuk
berkomunikasi sehari-hari, orang Sunda biasanya menggunakan bahasa Sunda dengan
sesama orang Sunda. Nah, bahasa Sunda sendiri berkembang menjadi beberapa
dialek, yakni:

  • Sunda Banten: Bahasa
    Sunda yang digunakan masyarakat Baten.
  • Sunda Selatan: Bahasa
    Sunda yang digunakan komunikasi orang Pringan, seperti Cimahi, Garut, Bandung,
    Sumedang, dan Tasikmalaya.
  • Sunda Utara: Bahasa Sunda
    yang digunakan oleh orang Bogor dan masyarakat di wilayah pantai utara.
  • Sunda Tengah Timur:
    Bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakat Kuningan dan Majalengka.
  • Sunda Timur Laut: Bahasa
    Sunda yang biasa dipakai berkomunikasi masyarakat Kuningan dan Cirebon.
  • Sunda Tenggara: Bahasa
    Sunda yang biasa digunakan masyarakat Banjar, Ciamis, bahkan hingga beberapa
    daerah di Jawa Tengah.

Jika orang Jawa memiliki kepercayaan yang dikenal dengan Kejawen, orang Sunda juga punya kepercayaannya tersendiri yang masih lestari hingga kini, yakni Sunda Wiwitan.

Para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan ini masih bisa ditemukan di daerah pedesaan Jawa Barat atau Banten.

Berbicara soal tradisinya, suku Sunda memiliki beragam tradisi yang hingga kini masih dilakukan.

Beberapa tradisi tersebut antara lain, Seren Taun, Upacara Tingkepan, Pesta Laut, Sepitan atau Sunatan, Papandang dan Tari Jaipong.

3. Suku Batak

upload.wikimedia.org

Menurut Sensus Penduduk 2010, suku Batak merupakan suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia dengan jumlah populasi sekitar 8.466.969 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan 3,58 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Suku Batak bermukim di wilayah Sumatera Utara, seperti di Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Asahan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Simalungung.

Mayoritas orang Batak sendiri menganut agama Kristen dan sebagian lainnya beragama Islam. Namun, adapula masyarakat suku Batak yang menganut agama Malim dan kepercayaan Animism.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, jumlah penganut Malim dan animism pun mulai berkurang.

Dikutip dari buku Suku Bangsa Duni dan Kebudayaannya (2013: 57), suku Batak terbagi menjadi enam kategori atau puak, yakni Batak Angkola, Batak Karo, Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing.

Dimana setiap puak punya ciri khas marga yang berfungsi sebagai tanda adanya tali persaudaraan di antara mereka.

Umumnya, satu puak bisa memiliki banyak marga dan untuk menentukan seorang suku Batak berasal dari keturunan mana, mereka biasanya menggunakan Torombo.

Nah, Torombo seorang Batak akan membantu untuk mengetahui posisinya dalam sebuah marga. Hingga kini, orang Batak masih meyakini bahwa kekerabatan menggunakan Torombo ini dapat diketahui asal-usulnya yang berujung pada si Raja Batak.

Terkenal dengan nada bicaranya yang tegas masyarakat suku Batak biasanya berbicara menggunakan bahasa Batak dan sebagian juga ada yang menggunakan bahasa Melayu.

Uniknya, setiap puak punya logat yang berbeda-beda. Seperti contohnya orang Karo akan menggunakan logat Karo, orang Pakpak akan menggunakan logat Pakpak, orang Toba, Angkola dan Mandailing akan menggunakan logat Toba.

Berbicara soal keberagaman budayanya, masyarakat suku Batak memiliki rumah adat yang bernama Rumah Bolon.

Bila diartikan, Rumah Bolon berarti rumah besar karena ukurannya yang memang cukup besar. Konon katanya, perancang Rumah Bolon ini adalah seorang arsitektur kuno Simalungun.

Tak
hanya itu saja, suku Batak juga dikenal punya beragam kesenian. Salah satu
bentuk kesenian suku Batak yang masih populer dan dilestarikan hingga sekarang
ini adalah Tari Tor-Tor yang bersifat magis. Ada pula Tari Serampang Dua Belas
yang hanya bersifat hiburan.

Dan terakhir, suku Batak juga punya warisan kebudayaan berbentuk kain, yakni kain ulos.

Nah, kain ulos ini adalah kain hasil tenun suku Batak yang kerap ditampilkan dalam upacara perkawinan, upacara kematian, penyerahan harta warisan, upacara menari Tor-Tor hingga menyambut tamu yang dihormati.

4. Suku Bugis

goodnewsfromindonesia.id

Suku Bugis merupakan suku yang masuk dalam suku Deutro Melayu. Konon katanya, suku ini masuk ke Indonesia tajun 500 SM pada migrasi pertama dari daratan Asia, tepatnya Yunan.  

Kini, suku Bugis dikenal sebagai kelompok etnik pribumi yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Kelompok etnis Bugis menjadi salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan, selain suku Makassar, suku Mandar, dan suku Toraja.

Di Sulawesi Selatan sendiri, suku Bugis mendiami wilayah Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Pare-pare, Kabupaten Baru, Kabupaten Sinjai, dan Kabupaten Bulukumba.

Selain itu, orang Bugis juga sudah tersebar hampir di seluruh daerah Indonesia.

Melansir dari Jurnal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang berjudul “Religiusitas dan Kepercayaan Masyarakat Bugis-Makassar”, disebutkan bahwa terhitung 97% orang Bugis merupakan penganut agama Islam.

Mereka menganut agama Islam secara taat dalam artian kepercayaan. Meskipun dalam prakteknya belum tentu dapat sepenuhnya menjalankan syariat Islam, namun mereka tidak mau dikatakan bukan Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang Bugis yang menjalankan praktek-praktek kepercayaan Attoriolong khususnya di komunitas tolotang di Kabupaten Sidrap dan Komunitas Ammatoa Kajang di Bulukumba.

Diketahui, Attoriolong adalah kepercayaan nenek moyang dulu sebelum masuknya agama Islam.

Contoh praktek Attoriolong ini adalah seperti massorong sokko patanrupa (memberikan persembahan kepada dewa berupa empat macam beras ketan), mappanre galung (memberi makan sawah), maccera tasi’ (memberi persembahan pada laut), dan lain sebagainya.

Uniknya,
orang Bugis termasuk salah satu suku bangsa yang memiliki aksara dan bahasa.
Padahal, tak banyak suku di Indonesia yang memiliki bahasa dan sekaligus aksara
tulisannya sendiri.

Dalam hal bahasa, orang Bugis biasanya menggunakan bahasa Bugis (basa ogi). Di mana bahasa Bugis ini mempunyai beragam dialek lagi tergantung wilayah masing-masing.

Merujuk pada laman Peta Bahasa Kemendikbud, disebutkan bahwa ada 27 dialek dari bahasa Bugis, mulai dari dialek Bone, dialek Pinrang, dialek Pangkep, dialek Soppeng, dialek Sinjai, dan lain sebagainya.

Selain di daerah Sulawesi, bahasa Bugis juga digunakan di beberapa daerah lain seperti Bali, Kepulauan Seribu Jakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Nah, masing-masing daerah tersebut tentunya juga punya ragam dialek yang berbeda-beda.

Sementara pada tulisan, orang Bugis memiliki aksara khusus yang disebut dengan aksara lontara. Dulunya, naskah-naskah lontara berisikan nasihat atau mantra-mantra yang ditulis di atas daun lontar.

Oleh karena itu, aksara ini dikenal dengan aksara lontara. Aksara lontara sendiri terdiri dari 23 huruf, di mana masing-masing huruf dapat dibubuhkan tanda baca bunyi berupa ‘O – E – E’.

5. Suku Dayak

kebudayaan.kemdikbud.go.id

Suku
Dayak merupakan suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan. Mengutip dari Sosial
Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Volume 3 Nomor 2 Tahun 2016, Dayak merupakan
sebutan untuk penduduk asli Pulau Kalimantan. Suku ini memiliki 405 sub sub
suku yang masing-masing memiliki adat istiadat dan budaya yang mirip.

Menilik dari sejarahnya, orang Dayak adalah penduduk asli dari Pulau Kalimantan. Dayak menjadi istilah umum untuk 200 sub kelompok lebih etnis suku yang tinggal di sungai, atau pegunungan pedalaman bagian tengah dan selatan pulau Kalimantan.

Meskipun Suku Dayak berasal dari Kalimantan, namun orang-orang suku ini dapat ditemukan di pulau Kalimantan bagian Malaysia dan Brunei.

Dilansir
dari laman Bobo, suku Dayak terhitung memiliki 268 sub-suku yang dibagi menjadi
6 rumpun yaitu Rumpun Iban, Rumpun Apokayan, Rumpun Punan, Rumpun Klemantan, Rumpun
Murut, dan Rumpun Ot Danum. Masing-masing sub suku tersebut memiliki adat,
budaya, dan tradisi yang hampir serupa.

Rumpun
Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan adalah Dayak Puan. Sedangkan,
rumpun Dayak lainnya adalah rumpun hasil asimilasi antara Dayak Punan dengan
kelompok Proto Melayu yang merupakan moyang Dayak yang berasal dari Yunan,
Tiongkok.

Dari keenam rumpun yang ada, suku Dayak terbagi lagi menjadi ratusan sub-etnis. Meskipun jumlahnya ratusan, namun umumnya tetap mempunyai kesamaan ciri-ciri budaya yang khas.

Dimana ciri-ciri ini biasanya menjadi faktor penentu bagi suatu sub-suku di Kalimantan agar dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak.

Ciri khas ini antara lain memiliki rumah panjang dan hasil budaya material berupa Mandau, sumpit, beliung (kapak Dayak), tembikar, mata pencaharian, dan seni tari.

Dalam kesehariannya, orang Dayak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Dayak yang termasuk ke dalam kategori bahasa Austronesia di Asia.

Berbicara soal keyakinan, awalnya orang Dayak memiliki keyakinan tradisional yang dikenal dengan nama Kaharingan.

Namun, sejak abad ke-19 sudah mulai banyak orang Dayak yang memilih mengikuti ajaran Islam. Kini, sudah banyak pula orang Dayak yang memilih menganut agama Kristen.

Demikian informasi yang bisa Mamikos rangkumkan untuk kamu seputar keberagaman suku-suku yang ada di Indonesia.

Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan kamu seputar keberagaman suku di Indonesia ya!

Jika kamu ingin mengulik lebih banyak lagi informasi seputar suku bangsa di Indonesia, kamu bisa kunjungi situs blog Mamikos dan temukan informasinya di sana.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta