Nonton Film Seni Merayu Tuhan (2026) yang Diadaptasi dari Buku Habib Jafar, Cek Sinopsis dan Daftar Pemain
Seni Merayu Tuhan merupakan cermin hangat bagi anak muda yang sedang patah hati, kehilangan arah, dan belajar untuk memeluk takdirnya dengan ikhlas.
Lutesha sebagai Sophia
Aktris dan model yang beberapa bulan belakangan laris manis membintangi banyak film ini lahir di Jakarta pada 23 Juni 1994 dan sudah dikenal luas lewat akting memukaunya dalam berbagai film seperti Penyalin Cahaya (2021) dan The Big 4 (2022).
Di film ini Lutesha akan memerankan karakter bernama Sophia, kekasih Hikmah yang penuh perhatian dan selalu menjadi tempat keluh kesah sang tokoh utama.
Teuku Ryzki sebagai Hotib
Mantan anggota boyband cilik, Coboy Junior (CJR) ini lahir di Jakarta pada 4 Januari 1998 dan semakin serius menekuni dunia seni peran dan komedi.
Di film ini, ia membawakan karakter bernama Hotib, sahabat setia Hikmah yang memiliki sifat suportif, humoris, dan selalu hadir mendampingi Hikmah di masa-masa terpuruknya.
Rieke Diah Pitaloka sebagai Halimah
Aktris senior, penulis, sekaligus politisi Rieke Diah Pitaloka lahir di Garut pada 8 Januari 1974 dan namanya sudah sangat terkenal lewat peran ikoniknya sebagai Oneng dalam sitkom laris Bajaj Bajuri.
Di film ini berperan sebagai Halimah, seorang ibu tunggal yang sangat mencintai putranya Hikmah dan senantiasa mengingatkan anaknya untuk menjalankan ibadah.
Meski sosoknya wafat di awal cerita, namun peninggalan kasih sayang serta bayangannya dalam mimpi menjadi pemicu utama transformasi batin Hikmah.
Pemeran Pendukung dalam Film
- Arie Kriting sebagai Marbot
- Onadio Leonardo sebagai Geri
- Alfie Alfandy sebagai Ustad Basir
- Sita Nursanti sebagai Susi
- Irgi Fahrezi sebagai Ayah Hikmah
- Habib Husein Ja’far Al Hadar sebagai Cameo
Fakta Menarik Film Seni Merayu Tuhan
Film ini menyimpan sejumlah fakta menarik yang seru untuk disimak, di antaranya adalah:
a. Adaptasi Buku Bestseller Karya Habib Jafar
Buku karya Habib Husein Ja’far Al Hadar yang diambil sebagai judul film ini sudah terkenal akan keberhasilannya menjangkau generasi muda lewat bahasa spiritualitas yang renyah, pop, dan relevan dengan kehidupan perkotaan.
Mengangkat gagasan tersebut ke layar lebar menjadi salah satu langkah penting karena ini merupakan adaptasi film perdana dari karya beliau.
Pendekatan tersebut juga mengubah pemikiran-pemikiran esai spiritual yang abstrak menjadi sebuah narasi visual drama sebab-akibat yang nyata, sehingga pesan tentang kepasrahan dan cara “merayu” Tuhan bisa dipahami secara lebih emosional.
b. Kolaborasi Penulis Skenario Handal Indonesia
Naskah film ini tidak hanya ditulis dari satu sudut pandang, melainkan hasil racikan kolaborasi nama-nama besar di industri perfilman Indonesia yang juga pasangan suami istri di dunia nyata yaitu Salman Aristo (Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku) dan Gina S. Noer (Dua Garis Biru, Keluarga Cemara).
Kehadiran para penulis pemenang penghargaan tersebut memastikan struktur drama, dinamika konflik keluarga, dan emosi karakter terbangun dengan sangat solid. Habib Jafar sendiri turut terlibat langsung dalam penulisan skenario untuk menjaga agar esensi dakwah, kedalaman filosofi doa, serta humor-humor khasnya tetap otentik.
c. Nahkoda Sutradara Berpengalaman
Cesa David Luckmansyah dipercaya menduduki kursi sutradara karena membawa rekam jejak panjang di industri perfilman nasional, khususnya dalam mengolah ritme penceritaan dan kedalaman karakter.
Pengalamannya yang matang di dunia penyuntingan gambar (editing) hingga penyutradaraan membuat alur emosi tersaji secara mulus tanpa terasa menggurui atau puitis berlebihan.
d. Pendekatan Dakwah Modern dan Tema Sensitif yang Inklusif
Hal yang membuat film Seni Merayu Tuhan sangat segar adalah keberaniannya menyentuh berbagai isu nyata anak muda perkotaan tanpa menghakimi.
Film ini menyoroti dinamika hubungan asmara beda agama antara Hikmah dan Sophia serta konflik kepatuhan anak terhadap orang tua secara jujur.
Tidak sengaja hadir dengan nada penceramah yang kaku atau membagi karakter secara dikotomi hitam-putih (baik-buruk), film ini justru memilih pendekatan empati yang merangkul
Halaman:

