Teks Negosiasi, Pengertian, Struktur, Tujuan & Ciri Teks Negosiasi

Posted in: Pelajar
Tagged: teks negosiasi

Sesuai namanya teks negosiasi merupakan alat berupa dokumen yang ditulis khusus untuk merampungkan negosiasi. Teks ini bisa melibatkan paling sedikit dua orang dari pihak yang berbeda. 

Teks jenis ini banyak digunakan dalam keseharian. Nyatanya Anda mungkin pernah membuat teks jenis ini secara tidak sadar untuk mencapai kesepakatan. Lebih formalnya lagi teks ini banyak digunakan sebagai memorandum antar dua perusahaan.

Pengertian Teks Negosiasi

unsplash.com

Negosiasi sendiri menurut Oliver adalah proses transaksi antar kedua belah pihak untuk menentukan hasil akhir berdasar persetujuan. Bila diadaptasi maka teks negosiasi adalah teks yang dibuat untuk tawar menawar demi mendapat hasil akhir berdasar persetujuan bersama.

Sesuai dengan KBBI yang menyatakan teks ini merupakan teks yang digunakan untuk merampungkan kesepakatan bersama. Kesepakatan secara formal dan tertulis memang biasanya digunakan dalam proses berbisnis.

Namun, tidak menutup kemungkinan bagi Anda yang ingin menggunakan teks ini dalam proses negosiasi lainnya. Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengikat tentang penggunaan teks jenis negosiasi ini. 

Struktur Teks 

Tentu saja setiap teks memiliki strukturnya sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan strukturnya sedikit mirip. Termasuk pada teks yang ditujukan mencapai suatu kesepakatan alias negosiasi. Berikut struktur yang ada di dalam teks tersebut:

1. Orientasi

Struktur pertama adalah orientasi. Bagian ini jadi bagian awal atau bagian pembuka dalam teks. Permulaan yang baik dapat mengantarkan pada hasil yang baik pula. Karenanya bagian awal selalu dimulai dengan hal yang cukup formal.

Layaknya awalan teks pada umumnya, teks ini biasa menggunakan salam atau sekedar sapaan saat hendak memulainya. Tidak perlu menggunakan sapaan yang terlalu panjang cukup awali dengan sapaan umum yang singkat dan jelas. 

2. Permintaan

Setelah orientasi Anda diharuskan untuk menulis bagian permintaan. Bagian atau struktur permintaan ini berisikan terkait hal apa yang akan dirundingkan antar kedua belah pihak. Permintaan bisa dituliskan tanpa kesepakatan terlebih dulu.

Terlebih bila Anda yang menjadi pihak penawar negosiasi maka penentuan negosiasi bisa diputuskan sendiri. Tidak ada aturan baku terkait batasan permintaan yang akan disampaikan selagi tidak keluar dari konteks negosiasi.

3. Pemenuhan

Beralih ke bagian lain, selain permintaan tentu juga akan hadir pemenuhan. Tentu saja ini berkaitan dengan pemenuhan akan apa yang diminta. Sederhananya bagian ini berisikan kesanggupan yang hendak dilontarkan.

Kesanggupan bisa menyentuh kedua belah pihak. Ini dilandaskan atas fungsi dari teks negosiasi itu sendiri, yakni dibuat untuk memperjelas kesepakatan dan kesanggupan atas kedua belah pihak yang berbeda. 

4. Penawaran

Kesanggupan ternyata bukan akhir dari teks perundingan ini. Ada bagian lain yang harus dilalui yakni bagian penawaran. Dalam penulisan teks maka bagian penawaran ini bisa berisi tentang penawaran dari pihak kedua.

Tidak hanya itu, bagian ini juga bisa diisi dengan perundingan dialog, paragraf atau poin langsung antar kedua belah pihak. Bisa dikatakan bagian ini merupakan bagian yang cukup krusial karena di sinilah negosiasi dilakukan. 

5. Persetujuan

Beralih ke bagian lain nantinya akan tertulis bagian persetujuan. Dimana kedua belah pihak akan menyepakati perjanjian atau negosiasi yang sudah sama-sama dilayangkan. Bagian ini bisa berisikan kata sepakat.

Bahkan dalam memorandum negosiasi formal bagian ini bisa ditulis dengan menghadirkan kolom penulisan nama kedua belah pihak hingga saksi yang hadir. Namun, pada teks perundingan umum biasanya hanya berupa dialog dengan kalimat yang mewakili.

6. Penutup 

Terakhir, ada bagian penutup yang juga ada di setiap jenis teks. Dalam bagian ini umumnya hanya berisi salam akhir sekaligus jadi penanda proses negosiasi berakhir. Namun, Anda juga bisa menyebutkan simpulan dari seluruh proses negosiasi.

Gunakan salam yang sesuai dengan jenis salam yang ditulis di bagian awal. Bila ingin menyematkan simpulan sebaiknya jangan terlalu panjang. Fokuslah pada hasil negosiasi berupa kewajiban dan hak dari kedua belah pihak.

Tujuan Pembuatan

Sebelum menuju ciri teks, sudahkah Anda mengetahui apa tujuan dari pembuatan teks penawaran atau negosiasi ini? Sedikitnya ada lima hal yang jadi tujuan pembuatan teks. Tujuan atau maksud teks tersebut meliputi:

  1. Membuat perjanjian secara tertulis
  2. Mencapai kesepakatan bersama
  3. Mengarah pada tujuan bersama yang praktis
  4. Menjadi sarana paling aman untuk menyelesaikan masalah
  5. Membuat kontrak bersama

Tujuan lain mungkin bisa hadir sesuai dengan jenis penggunaan teks. Selain itu, tujuan juga bisa bertambah atau berubah bergantung pada pihak mana yang menggunakan teks ini. Hal terpenting yakni pahami dulu tujuan teks sebelum membuatnya.

Ciri Teks Negosiasi

Beralih ke ciri teks penawaran atau negosiasi yang berbeda dengan jenis teks lainnya. Sedikitnya ada 5 ciri yang bisa lekat dengan jenis teks ini. Bila menemukan 5 ciri teks di bawah ini Anda bisa mengidentifikasinya sebagai teks penawaran.

1. Memiliki Paling Sedikit 2 Partisipan

Ciri pertama yakni memiliki paling sedikit dua partisikan. Partisipan sendiri sederhananya adalah orang yang berinteraksi di dalam teks. Bayangkan apa yang terjadi di dunia nyata bila seseorang hendak bernegosiasi tapi tidak menemukan pihak negosiator lainnya.

Bisa dipastikan negosiasi tidak akan berjalan hingga akhirnya orang tersebut menemukan partisipan lain. Sama halnya dengan yang terjadi dalam teks butuh sedikitnya dua orang untuk dijadikan subjek negosiasi.

2. Mengandung Kesepakatan secara Tertulis

Kesepakatan bisa diidentifikasi sekalipun kata ‘kesepakatan’ tersebut tidak ditulis secara rinci termasuk dalam teks penawaran. Pada teks ini tidak jarang kata kesepakatan tidak dituliskan melainkan tergambar dari setiap kalimat dan strukturnya.

Contohnya kalimat bertuliskan “saya beli 10 kilo mangga dengan harga yang telah disebutkan ya, bu”. Dari kalimat tersebut bisa disimpulkan telah terjadi kesepakatan. Inilah yang selanjutnya menjadi ciri teks mengandung kesepakatan secara tertulis.

3. Mengarah ke Penyelesaian Masalah

Paragraf atau dialog yang dituliskan mengarah ke penyelesaian suatu masalah. Tentu saja negosiasi diadakan saat muncul perselisihan atau beda paham pendapat. Baik dalam skala kecil maupun besar masalah yang dialami harus sama antar kedua pihak atau partisipan.

Maka salah satu hal yang jadi ciri teks ini adalah penyelesaian perselisihan. Tanpa disadari perselisihan atau masalah bisa timbul dimana saja dan kapan saja. Salah yang bisa menyelesaikannya adalah negosiasi.  

4. Kepentingan Bersama Jadi Prioritasnya

Selanjutnya, teks ini tidak hanya menyelesaikan masalah secara sepihak tapi dua pihak sekaligus. Ciri teks mengandung kepentingan bersama bisa dilihat saat Anda membaca teksnya. Tidak hanya itu, kepentingan bersama ini jadi prioritas terpenting dalam teks ini.

Kembali lagi ke poin awal bahwa teks memiliki paling sedikit dua partisipan dan mengarah ke penyelesaian masalah. Maka kepentingan bersama jadi prioritas juga jadi salah satu poin penting dalam teks ini. Konteks prioritas bersama ini harus ada sebagai salah satu ciri utamanya.

5. Menghasilkan Kesepakatan yang Saling Menguntungkan

Kepentingan bersama bisa jadi membicarakan masalah yang ada namun tidak berhenti di hal tersebut. Teks ini juga memiliki ciri menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan di kedua belah pihak. 

Anda bisa mengidentifikasi hal ini di akhir bagian teks. Sama halnya bila tugas membuat teks datang pada dari guru pelajaran. Buatlah hasil kesepakatan yang saling menguntungkan di akhir teks meskipun tidak tertulis secara jelas. 

Contoh Teks Negosiasi

Masih bingung dengan bentuk teks? Tenang, Anda bisa memperhatikan teks di bawah ini sebagai referensi. Contoh teks penawaran atau negosiasi bisa dibentuk sederhana berdasarkan dialog antar partisipan. Berikut contohnya:

1. Negosiasi di Pasar

Pembeli: “Permisi, semua udangnya terlihat sangat fresh, seperempat kilo udang ini berapa ya, pak?”

Pedagang: “Murah saja Bu, Rp 12.000,- bisa tambah takar menjadi per kilo, ini langsung dari tambak masih segar. Semua jenis di sini berbeda, bebas memilih jenis mana yang akan dibawa pulang.”

Pembeli: “Wah, bisa turun lagi harganya? Bagaimana jika jadi Rp 10.000,- seperempat kilo, pak?”

Pedagang: “Harganya lebih dekat dengan tidak makan Bu, Rp 11.000,- pas dibungkus dan sejenis, oke? Saya berikan sebagai pelaris.”

Pembeli: “Boleh, tolong udang bambu yang diameternya sama dibersihkan lalu dibungkus, seperempat kilo saja.”

Padangan: “Siap!”

2. Negosiasi di Sekolah

Siswa: “Selamat pagi pak, apakah saya bisa mendapat waktu untuk keluar sekolah membeli kertas karton?”

Guru Piket: “Kenapa tidak pergi dari jam luang atau disiapkan sebelum pertemuan?”

Siswa: “Saya langsung diberi tugas ini tadi dari guru satu kejuruan daerah, pak.”

Guru Piket: “Baik, hanya 12 menit. Beli kertas karton di tempat fotokopi di jalan simpang saja, ya.”

Siswa: “Baik pak, terima kasih izin keluarnya.”

3. Negosiasi di Koperasi

Pengunjung: “Halo, saya mendengar Mekar Jaya merekrut lagi anggota jangka berkala hari ini, betul pak?”

Pengelola: “Betul pak, opsi tersebut ada.”

Pengunjung: “Apa saya bisa mengisi peluang itu sekarang juga, pak?”

Pengelola: “Untuk posisi paruh seperti anggota, bisa saja diisi dengan arahan langkah langsung hari ini. Tentu bisa dimulai sekarang.”

Pengunjung: “Wah, bila benar hari ini juga saya berhalangan. Apa bisa besok?”

Pengelola: “Bisa, baiknya bawa kaos dan datang tepat, ya. Bawa juga laptop serta pulpen.”

Pengunjung: “Baik, saya pilih penawaran yang kedua. Persiapan akan disiapkan dari pagi.”

Pengelola: “Baik pak, silakan.”

4. Negosiasi di Hotel

Resepsionis: “Selamat datang, selamat sore, ada yang bisa saya bantu.”

Reservat: “Malam mbak, bisa pesan bantal ekstra untuk saya?”

Resepsionis: “Bisa pak, untuk berapa lama?”

Reservat: “3 hari full sendiri, mbak.”

Resepsionis: “Baik, banyak bantal pilihan dengan corak menawan dan beragam. Tersedia guling untuk anak ataupun dewasa. Bantal reguler untuk dewasa bisa disesuaikan dengan jenis kamar yang digunakan. Apakah ada hal lain untuk bantal, pak?”

Reservat: “Apa ada penawaran diskon untuk bantal reguler?”

Resepsionis: “Saat ini belum ada pak, sementara saya rasa jenis reguler cocok dengan jenis ruang yang Anda sekarang gunakan.”

Reservat: “Yang reguler saja ya, mbak.”

Resepsionis: “Boleh pak, tulis nomor pintu dan lantai berapa, nanti pihak dari kami akan mengirim bantal reguler segera.”

Teks penawaran atau negosiasi tidak sesulit yang dibayangkan. Terlebih pada jenis negosiasi sederhana yang biasa ditugaskan oleh guru sekolah. Anda bisa mengikuti contoh di atas dan menyesuaikannya dengan tema yang diberikan. 


Klik dan dapatkan info kost di dekatmu:

Kost Jogja Harga Murah

Kost Jakarta Harga Murah

Kost Bandung Harga Murah

Kost Denpasar Bali Harga Murah

Kost Surabaya Harga Murah

Kost Semarang Harga Murah

Kost Malang Harga Murah

Kost Solo Harga Murah

Kost Bekasi Harga Murah

Kost Medan Harga Murah