Rumah Adat Toraja beserta Nama, Gambar, Jenis, dan Penjelasannya

Rumah Adat Toraja beserta Nama, Gambar, Jenis, dan Penjelasannya – Indonesia terbentuk dari berbagai suku dengan budaya dan bahasa unik yang berbeda.

Sulawesi Selatan merupakan rumah bagi suku Toraja yang terkenal dengan prosesi pemakamannya yaitu Rambu Solo. 

Rumah adat Toraja ternyata menyimpan berbagai filosofi mendalam. Cari tahu informasi nama, gambar, jenis, dan penjelasan lengkapnya di artikel ini! Baca hingga tuntas, ya!

Berbagai Hal Mengenai Rumah Adat Toraja yang Wajib Kamu Tahu

https://getlost.id/2021/07/30/mengenal-tongkonan-rumah-adat-khas-toraja/

Sekitar 1 juta penduduk Sulawesi Selatan merupakan suku Toraja. Setengah dari jumlah tersebut tinggal di Kabupaten Tana Toraja.

Para penduduknya memang masih memegang teguh animisme. Meski demikian tetap diakui sebagai bagian dari agama Hindu Dharma.

Kata Toraja sendiri berasal dari bahasa Bugis yaitu “To Riaja”. Dalam bahasa Indonesia, kata atau frasa tersebut memiliki makna berdiam di negeri atas.

Hal ini pulalah yang berkaitan erat dengan saat mereka meninggal yaitu mayatnya disemayamkan di sebuah tebing.

Namun, selain pemakaman yang unik, Toraja juga terkenal dengan rumah adatnya yang unik.

Keunikannya terletak dari bentuk dan juga penggunaan warna-warna yang sarat akan filosofi mendalam dari nilai-nilai kehidupan suku Toraja.

Tongkonan: Nama Rumah Adat Toraja

Letak keunikan sebuah budaya amatlah detail dan salah satunya bisa diawali dari penamaan nama rumah adat. Hal tersebut berlaku pula untuk nama rumah adat dari masyarakat Tana Toraja.

Tongkonan merupakan nama dari rumah adat suku Toraja. Nama ini memiliki makna menduduki atau singkatnya, duduk.

Bahannya terdiri dari tumpukan kayu berhiaskan ukiran-ukiran khas Toraja dengan warna-warna khusus seperti merah, kuning, dan hitam.

Selain sebagai tempat tinggal, Tongkonan juga merupakan tempat untuk masyarakat Toraja bersosialisasi. Dipercaya bahwa Tongkonan yang pertama telah didirikan di Surga.

Kemudian, leluhur turun ke bumi dan membentuk satu rumah Tongkonan yang sama. Itulah mengapa demikian, Tongkonan juga sebagai tempat komunikasi masyarakat adat Toraja dengan leluhurnya.

Diketahui pula bahwa pada awalnya, Tongkonan hanyalah tempat yang dibangun oleh para bangsawan Toraja. Namun, perlahan dipakai sebagai rumah adat untuk semua masyarakat adat suku Toraja.

Nama-nama Ruangan Tongkonan

Rumah Tongkonan begitu unik bila dilihat dari jarak jauh dan akan terlihat megah saat dilihat dari jarak lebih dekat.

Untuk pembangunannya sendiri, tidak bisa sembarangan karena sungguh menguras tenaga sehingga tidak mudah.

Dalam pendirian satu rumah Tongkonan, dibutuhkan bantuan dari banyak orang dan harus melibatkan semua anggota keluarga besar.

Dalam pembangunannya, setidaknya sebuah rumah Tongkonan memiliki ruangan-ruangan berikut ini:

1. Ruang Utara (Tengolak)

Ruangan pertama yang ada dalam sebuah rumah Tongkonan adalah Ruang Utara atau Tengolak. Ruangan ini adalah tempat yang akan dikunjungi tamu apabila berkunjung.

Tengolak merupakan tempat khusus bagi tamu yang juga di dalamnya ada ruangan untuk tidur anak-anak dan tempat sesaji.

2. Ruang Tengah (Sali)

Ruang Tengah merupakan tempat yang paling unik bagi orang yang bukan masyarakat Toraja.

Ruangan ini lumayan multifungsi yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk pertemuan keluarga dan juga ruang makan serta tempat jasad leluhur yang telah meninggal.

Bagi masyarakat Toraja, tentu hal ini tidaklah aneh karena merupakan sebuah cara untuk tetap terhubung antara yang hidup dan yang telah tiada. Nama lain dari ruang tengah adalah Sali.

3. Ruang Selatan (Sumbung)

Ruangan yang wajib ada dalam sebuah rumah Tongkonan lainnya adalah Sumbung atau ruang tengah. Ini merupakan tempat khusus bagi kepala keluarga.

Dalam adat Toraja, kepala keluarga menempati jabatan yang tinggi dan patut dihormati. Segala keperluan dan aktivitas rumah tangga bahkan diatur oleh seorang kepala keluarga.

Selain ketiga ruangan penting tersebut, ternyata ada ruangan lain yang dibangun terpisah, yaitu Alang Sura. Tempat yang satu ini merupakan tempat lumbung padi.

Bagi masyarakat Toraja, Alang Sura merupakan Bapak yang memberikan nafkah dan Tongkonan merupakan Ibu yang memberikan perlindungan.

Itulah ruangan-ruangan yang harus ada pada sebuah Tongkonan. Masing-masing ruangan memberikan fungsi tersendiri yang amat kental dengan budaya masyarakat Tana Toraja yang unik dan patut untuk dipertahankan.

Keunikan ini tersendiri yang menyedot banyak turis lokal maupun dunia untuk mengunjunginya.

Jenis Rumah Adat Toraja

Dalam masyarakat Tana Toraja, status sosial dan kedudukan keluarga amatlah penting karena pada zaman dahulunya ada pembeda antara bangsawan dan rakyat biasa.

Hal tersebut pun masih ada dan dipertahankan. Hal ini berpengaruh pada adanya jenis rumah adat Toraja itu sendiri.

Berdasarkan status sosial dan kegunaannya, Tongkonan atau rumah adat suku Toraja terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Tongkonan Batu

Tongkonan Batu merupakan rumah adat suku Toraja bagi keluarga yang dalam tatanan masyarakat tidak memiliki jabatan apa-apa.

Inilah jenis rumah Tongkonan yang berhak ditinggali dan dibangun oleh rakyat biasa Tana Toraja.

2. Tongkonan Layuk

Tongkonan Layuk merupakan jenis rumah Tongkonan yang paling berbeda dari yang lainnya. Selain digunakan sebagai tempat tinggal, Tongkonan Layuk juga merupakan tempat pusat pemerintahan.

Oleh karena itu, wajar bila pemegang jabatan tertinggi masyarakat adat suku Toraja tinggal di Tongkonan Layuk.

3. Tongkonan Pekamberan

Nama lain dari Pekemberan adalah Pekaindoran. Jenis rumah adat suku Toraja yang satu ini dihuni oleh masyarakat yang memiliki jabatan pada tatanan kesukuan Toraja. 

Itulah jenis-jenis dari rumah Tongkonan, rumah adat suku Toraja yang terdiri dari Tongkonan Layuk, Tongkonan Batu, dan Tongkonan Pakembaran.

Selain itu, ada juga jenis rumah adat lain yaitu Banua Barung-Barung yang ukurannya lebih kecil, ditempati rakyat biasa, dan tidak ada tempat jasadnya.

Gambar Rumah Adat Toraja

Agar bisa mendapat gambaran mengenai penampakan rumah adat Toraja yaitu Tongkonan, perhatikan gambar-gambar berikut ini:

Tongkonan 1

https://getlost.id/2021/07/30/mengenal-tongkonan-rumah-adat-khas-toraja/

Tongkonan 2

https://www.gramedia.com/literasi/rumah-adat-tongkonan/

Tongkonan 3

https://www.99.co/id/panduan/rumah-tongkonan

Itulah gambar-gambar rumah adat Toraja yang bernama Tongkonan. Ukuran besar dan kecilnya, lengkap dan tidaknya ruangan – ditentukan oleh kedudukan keluarga pada tatanan masyarakat adat.

Melihat dari gambar-gambar tersebut, pasti setiap inchi-nya memiliki keunikan seperti dari bahan dan juga penggunaan warna cat yang dipakai. Dua hal tersebut akan dibahas dalam bagian berikut ini. Lanjut baca, ya!

Komponen Pembangun Tongkonan

Dengan bahan yang semuanya berasal dari alam, hampir semua rumah adat suku-suku di seluruh pelosok Indonesia berasal dari bahan kayu. Bahan khusus untuk membangun sebuah Tongkonan adalah kayu Uru.

Kayu ini kemudian digabungkan dengan bahan lain seperti bambu. Bahan bambu adalah yang utama untuk membentuk sebuah atap Tongkonan yang menyerupai perahu.

Bentuk ini memiliki filosofi yang mengingatkan para masyarakat Toraja bahwa nenek moyang mereka harus mengarungi lautan untuk bisa sampai ke Sulawesi Selatan menggunakan perahu.

Untuk bagian dinding Tongkonan, bahan utamanya adalah kayu Uru. Tidak ada bahan lain selain kayu Uru dan Bambu.

Dalam pembangunan Rumah adat Toraja, yaitu Tongkonan tak akan ditemukan bahan dari besi seperti paku.

Filosofi Di Balik Warna-warna Tongkonan

Warna selalu menjadi simbolasi sebuah pesan yang ingin disampaikan dalam instalasi apa pun.

Hal tersebut juga berlaku pada penggunaan beberapa warna yang menjadi ciri khas dan dapat ditemukan pada sebuah bangunan Tongkonan.

Hanya terdapat 4 warna yang digunakan pada rumah Tongkonan yaitu putih, kuning, merah, dan hitam. Warna putih dipilih karena melambangkan kesucian dan warna ini dianggap meyerupai warna tulang.

Lalu, warna kuning melambangkan kuasa dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Warna merah dianggap menyerupai darah yang berarti kehidupan. Sementara hitam melambangkan kematian.

Warna-warna tersebut sungguh melambangkan filosofi kehidupan masyarakat Tana Toraja. Mereka berpegang teguh dengan adanya energi yang lebih besar di dunia, yaitu Tuhan.

Mereka juga tidak terlalu fokus dengan kehidupan karena  adanya kematian yang sudah mutlak menunggu.

Itulah filosofi di balik warna-warna yang dipergunakan dalam sebuah bangunan Tongkonan, rumah adat masyarakat Tana Toraja.

Selain bahan yang berasal dari alam, ternyata semua warnanya juga berkaitan erat dengan kehidupan dan proses kehidupan itu sendiri.

Selain ada keunikan dalam filosofi warna dan bahan yang berasal dari alam, ternyata sebuah Tongkonan juga memiliki fungsi penanda status sosial keluarga yang menempatinya.

Cari tahu dengan baca bagian berikut ini!

Tongkonan sebagai Tanda Status Sosial

Status sosial yang terbentuk di masyarakat Indonesia pada umumnya juga ternyata bisa ditemukan dalam budaya Tana Toraja.

Bila salah satu penanda status sosial di masyarakat adalah rumah yang besar dan megah, hal tersebut juga ditemukan pada Tongkonan.

Hanya saja, ada sedikit hal yang berbeda. Penanda status sosial pada Tongkonan bukan dilihat dari besar dan megahnya bangunan tersebut namun dari berapa jumlah kepala kerbau.

Biasanya kepala kerbau ini dipasang pada sebuah tiang utama Tongkonan.

Semakin banyak jumlah kepala kerbaunya, berarti semakin tinggi pula status sosial dari keluarga pemilik Tongkonan tersebut.

Hal ini menjadi penanda bagi yang ingin bertamu sehingga tahu dengan siapa mereka akan berhadapan.

Itulah Rumah Adat Toraja

Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.

Daerah ini amat terkenal karena keunikan budayanya yang masih dipertahankan hingga sekarang. Beberapa kali budaya seperti kuburan di tebing dan mayat yang berjalan menjadi sorotan dunia.

Ternyata, rumah adat Toraja juga tidak kalah unik dari dua hal tersebut. Tongkonan yang merupakan nama dari rumah adat masyarakat Tana Toraja memiliki ciri khas di mana atapnya berbentuk perahu.

Hal ini melambangkan bagaimana para leluhurnya yang menumpang perahu untuk sampai ke Tana Toraja.

Tongkonan menjadi sebuah tanda status sosial bisa dilihat dari jumlah kepala kerbau yang dipasang di tiang utama bangunan. Tongkonan memiliki ruang tengah, ruang selatan, dan ruang utara.

Sebagian Tongkonan selain sebagai tempat tinggal juga ada yang merupakan tempat pemerintahan.

Semoga pembahasan mengenai rumah adat Toraja ini semakin menambah pengetahuanmu, ya!


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta