6 Daftar Nama Pahlawan sebelum Tahun 1908, Siapa Saja?

6 Daftar Nama Pahlawan sebelum Tahun 1908, Siapa Saja? — Mungkin diantara kamu ada yang belum mengetahui siapa saja nama pahlawan Nasional sebelum tahun 1908.

Sebagai bangsa yang besar, kita patut mengenali siapa saja pahlawan bangsa. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah menghargai jasa-jasa pahlawan.

Oleh sebab itu, kali ini Mamikos akan memperkenalkan nama-nama pahlawan yang telah berjasa dengan cara melakukan berbagai perlawanan di daerah mereka. Yuk, simak!

Ketahui Nama-nama Pahlawan sebelum Tahun 1908

kuliahdimana.id

Mungkin kamu telah mengenal beberapa nama tokoh nasional di zaman perjuangan. Akan tetapi, perjuangan mereka berlangsung dalam kurun waktu yang berlainan.

Terlebih lagi mengingat zaman penjajahan oleh kolonial di Indonesia berlangsung hingga lebih dari tiga abad. Maka, sudah barang tentu ada ratusan tokoh di masa berbeda.

Perjuangan bangsa melawan para penjajah mengalami perubahan skema tersendiri. Sebelum tahun 1908, pergerakan para tokoh dilakukan secara kedaerahan.

Sedangkan era tahun 1908, pergerakan lebih bersifat nasional dengan diawali lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun tersebut.

Sejak saat itu, perjuangan melawan penjajah dilakukan secara bersama-sama dan bersifat nasional. Salah satu tokoh besar pada perjuangan setelah 1908 adalah Ki Hajar Dewantara.

Lantas, siapa saja tokoh bersejarah yang berperan penting melawan para penjajah di berbagai daerah sebelum tahun 1908? Berikut ini di antaranya.

1. Pangeran Diponegoro (1785 – 1855)

Pangeran Diponegoro memiliki nama lengkap Bendara Pangeran Harya Dipanegara. Ia dilahirkan di Yogyakarta tepatnya pada tanggal 11 November 1785.

Pangeran Diponegoro bukanlah orang sembarangan. Ayahnya adalah Gusti Raden Mas Suraja yang kemudian bertahta di Kesultanan Yogyakarta bergelar Hamengkubuwana III.

Pangeran Diponegoro merupakan anak dari R.A. Mangkarawati yang merupakan seorang selir. Meskipun bergelar pangeran, Diponegoro muda menolak keinginan ayahnya untuk menjadi pewaris tahta sang Sultan.

Ia beralasan karena ibunya bukanlah permaisuri melainkan selir (garwa ampeyan). Sehingga, merasa tidak layak naik tahta sebagai raja penerus sang ayah.

Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Hindia Belanda dipicu oleh pemerintah kolonial yang memasang patok-patok di tanah pribadi miliknya di daerah Tegalrejo.

Selain itu, kelakukan Hindia Belanda juga telah menyengsarakan rakyat dengan memberlakukan pajak tinggi terhadap masyarakat saat itu.

Mereka juga tidak menghargai adat istiadat setempat sehingga semakin menambah kemarahan Diponegoro. Pangeran Diponegoro kemudian menentang Hindia Belanda secara terang-terangan.

Keputusannya mendapatkan simpati serta dukungan dari rakyat. Atas nasihat dari sang paman. Diponegoro akhirnya meninggalkan Tegalrejo dan mendirikan markas di Gua Selarong.

Kemudian tercetuslah perlawanan, kala itu Diponegoro menyatakan perlawanan tersebut adalah perang sabil (peperangan melawan kafir).

Peperangan tersebut kemudian dikenal dengan Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, dari 1825 sampai 1830.

Namun pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Hindia Belanda dan diasingkan ke Semarang. Ia menghabiskan sisa hidupnya di sana dan tutup usia pada tanggal 8 Januari 1855.

2. Sultan Hasanuddin (1631 – 1670)

Nama pahlawan sebelum tahun 1908 berikutnya adalah Sultan Hasanuddin. Mungkin kamu pernah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Dari tokoh inilah nama bandara tersebut terinspirasi. Orang-orang Belanda menjulukinya Ayam Jantan dari Timur.

Nama lahirnya adalah Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Sultan Hasanuddin dilahirkan di Makassar tepatnya tanggal 12 Januari 1631.

Nama Sultan Hasanuddin sendiri merupakan gelar kesultanan setelah ia naik tahta sebagai Sultan Gowa ke-16. Masa pemerintahannya di Kerajaan Gowa berlangsung dari 1653-1669.

Sultan Hasanuddin merupakan putra Sultan Gowa ke-15 yakni Sultan Malikus Said. Sedangkan ibunya adalah I Sabbe To’mo Lakuntu.

Sang Sultan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi sejak kecil. Ini tidak lain karena didikan dari sang ayah yang sering mengajaknya pada berbagai pertemuan penting.

Selain itu, bimbingan juga diperolehnya dari Mangkubumi Kesultanan Gowa bernama Karaeng Pattigalloang. Ia naik tahta saat usianya masih sangat muda, yaitu awal 20-an.

Kedatangan VOC Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku pada pertengahan abad ke-17 membuat sang Sultan murka.

Penetapan harga yang rendah tentu saja membuat rakyat menderita. Sultan Hasanuddin menyeru Belanda agar berdagang secara adil bersama-sama, namun mereka menolaknya.

Inilah yang membuat sang Sultan melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda. VOC yang menyerang Makassar pada tahun 1660 belum bisa menundukkan Gowa.

Akan tetapi serangan terus dilancarkan oleh VOC Belanda. Pecahlah perlawanan di mana-mana dan akhirnya membuat Kesultanan Gowa semakin melemah.

Kondisi ini membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya. Sultan Hasanuddin tutup usia pada 12 Juni 1670 akibat menderita penyakit ari-ari.

3. Kapitan Pattimura (1783 – 1817)

Nama pahlawan sebelum tahun 1908 berikutnya adalah Thomas Mattulessy atau dikenal pula dengan Kapitan Pattimura.

Kapitan Pattimura adalah pahlawan yang berasal dari Maluku. Kapitan Pattimura dilahirkan di Maluku tepatnya pada tanggal 8 Juni 1783.

Ia merupakan putra dari Antoni Mattulessy. Sedangkan kakeknya, yaitu Kasimiliali Pattimura Mattulessy, putra raja Sahulau (negeri di teluk Seram).

Inggris yang menduduki Ambon menyerahkan kekuasaan kepada Belanda pada tahun 1816. Sebagai pemegang kekuasaan yang baru, Belanda menetapkan berbagai kebijakan baru.

Di antaranya menetapkan politik monopoli, pajak atas tanah, dan juga mengabaikan Traktat London I. Kebijakan tersebut sangatlah merugikan rakyat.

Pada tahun 1817, Belanda kembali datang dan mendapat pertentangan dari rakyat. Karena hal tersebut, rakyat kemudian angkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Yang terlibat dalam perlawanan tersebut antara lain para raja patih, kapitan, tetua adat, hingga rakyat. Mereka mengangkat Kapitan Pattimura sebagai pemimpin serta panglima perang.

Hal tersebut tidak lain karena pengalaman, jiwa kepemimpinan serta sifat kesatrianya. Sebagai pemimpin, Kapitan Pattimura berhasil mengkoordinir semua pasukannya.

Bahkan, ia juga berhasil menjalin persatuan dengan Kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja Bali, Sulawesi, hingga Jawa sehingga perlawanan hingga ke level nasional.

Namun,pertempuran melawan Belanda akhirnya terhenti akibat politik adu domba. Kapitan Pattimura dan tokoh pejuang lain akhirnya ditangkap.

Mereka gugur di tiang gantungan pada 16 Desember 1817. Kapitan Pattimura gugur di usianya yang masih terbilang muda, yakni 34 tahun.

4. Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864)

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan dengan nama Muhammad Syahab pada tanggal 1 Januari 1772 di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung.

Muhammad Syahab sendiri merupakan seorang ulama sehingga mendapatkan beberapa gelar. Gelarnya antara lain Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam.

Muhammad Syahab ditunjuk oleh Tuanku nan Renceh menjadi pemimpin (imam) bagi masyarakat Padri di Bonjol. Sehingga, ia pada akhirnya dikenal Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku Imam Bonjol adalah nama pahlawan sebelum tahun 1908 yang berperan penting dalam perang Padri. Perang ini menyimpan memori kelam bangsa.

Perang Padri (1803-1821) adalah pertempuran antara sesama masyarakat Minang, Mandailing, dan Batak.

Peperangan tersebut terjadi karena adanya perselisihan kaum Padri dengan Adat. Kaum Padri berkehendak menerapkan syariat Islam yang berpedoman pada Al Quran dan hadits.

Mereka mengajak kaum Adat untuk meninggalkan sebagian kebiasaan yang dinilai tidak sesuai syariat Islam. Sebelum pecahnya peperangan, terdapat beberapa perundingan.

Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan dan terjadilah perang Padri. Fatalnya, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda untuk melawan kaum Padri pada 1821.

Akan tetapi keterlibatan Belanda pada perang tersebut pastinya merugikan rakyat baik kaum Adat maupun Padri.

Akhirnya pada 1833, kaum Adat dan Padri bersatu melawan penjajah Belanda. Bersatunya kedua kaum tersebut melahirkan Plakat Puncak Pato.

Pertempuran terus dilakukan, tetapi serangan Belanda pada akhirnya membuat Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Oktober 1837.

Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur kemudian dipindahkan ke Lotta, Minahasa. Di sanalah Tuanku Imam Bonjol wafat tepatnya pada 8 November 1864.

5. Martha Christina Tiahahu (1800 – 1818)

Martha Christina Tiahahu merupakan nama pahlawan sebelum 1908 yang berasal dari tanah Maluku. Martha dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1800.

Terlahir dari ayah seorang Kapitan bernama Paulus Tiahahu, martha dikenal sebagai sosok pemberani sejak belia.

Keberaniannya diwariskan dari sang ayah yang juga bertempur bersama Thomas Mattulessy melawan Belanda dalam perang Pattimura pada tahun 1817.

Ketika menginjak usia 17 tahun, Martha juga ikut turun ke medan pertempuran bersama para tentara rakyat.

Sejak remaja, gadis berambut panjang itu selalu mendampingi sang ayah bertempur melawan penjajah baik itu di Pulau Nusalaut (tanah kelahirannya) maupun Pulau Saparua.

Pada 10 Oktober 1817, Martha bersama para raja dan patih bertempur di Pulau Saparua. Karena kehabisan persenjataan, mereka harus mundur ke pegunungan Ulath-Ouw.

Sehari setelahnya, Belanda bergerak ke Ulath untuk menyerang pasukan rakyat. Namun dengan persenjataan terbatas, rakyat berhasil memukul mundur Belanda.

Tanggal 12 Oktober pertempuran kembali pecah. Belanda melakukan serangan umum. Ini membuat pasukan rakyat mundur hingga ke hutan untuk bertahan.

Martha dan tokoh pejuang penting lainnya ditangkap dan ditahan di kapal Eversten. Para tahanan dijatuhi hukuman mati, tetapi Martha dibebaskan karena masih sangat muda.

Namun, ayahnya tetap dijatuhi hukuman mati. Sepeninggal sang ayah, Martha masuk ke hutan dan bertahan hidup di sana.

Namun ia kembali ditangkap di tahun yang sama, kemudian akan diasingkan ke Jawa menggunakan kapal Eversten.

Kesehatannya terus memburuk selama berada di kapal. Sehingga, pada 2 Januari 1818 srikandi pejuang ini meninggal dunia saat usianya hampir menginjak 18 tahun.

6. Cut Nyak Dien (1848 – 1908)

Srikandi pejuang berikutnya adalah tokoh perjuangan asal Aceh yang sangat ikonik, yakni Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien dilahirkan di Lampadang (Kesultanan Aceh) pada tahun 1848.

Ia berasal dari keluarga bangsawan Aceh yang taat beragama. Pada tahun 1873 pasukan rakyat melawan Belanda pada perang Aceh turut bertempur, yaitu Ibrahim Lamnga, suami Cut Nyak Dien.

Dalam pertempuran tersebut, Ibrahim Lamnga gugur sehingga membuat Cut Nyak Dien sangat marah. Inilah yang membuatnya ikut turun ke medan perang.

Selepas kematian sang suami, Cut Nyak Dien dilamar oleh pejuang Aceh, yaitu Teuku Umar. Awalnya ia menolak, tetapi karena diizinkan berperang maka pinangan tersebut diterimanya.

Pada 1899, Teuku Umar ditembak mati oleh Belanda. Cut Nyak Dien kemudian memimpin perlawanan. Namun, usianya yang semakin tua membuat ia akhirnya tertangkap Belanda.

Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Karena usianya semakin renta, ia tutup usia pada tanggal 6 November 1908.

Mengenang jasa dan nama pahlawan sebelum tahun 1908 ataupun setelahnya adalah bentuk penghargaan kita atas perjuangan mereka.

Maka sudah sepantasnya kita mengenal siapa saja mereka, dari mana asal usulnya, dan apa saja bentuk perjuangannya untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta