7 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan secara Singkat dan Jelas
Jika kamu sedang mencari cerita rakyat Jawa Tengah yang digemari dan populer, intip contohnya dalam artikel berikut.
Setiap daerah di Indonesia hampir bisa dipastikan memiliki cerita rakyat. Isi dari cerita rakyat yang ada di Indonesia kebanyakan memberikan petuah-petuah kehidupan.
Salah satu ciri khas yang dimiliki cerita rakyat adalah tidak diketahui siapa pengarangnya dan kapan cerita ini dibuat. Penyebaran cerita rakyat seringkali melalui seni tutur yang artinnya tidak dituliskan. Hal inilah yang kemudian membuat cerita rakyat mempunyai banyak variasi.
Dalam artikel ini, kamu akan diberikan contoh beberapa cerita rakyat yang paling terkenal dan tak terlupakan dari Jawa Tengah. Jadi, baca terus artikel berikut sampai selesai, ya! 📖😊✨
Daftar Isi
Berikut Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan

Di bawah ini kamu akan diberikan beberapa contoh cerita rakyat tak terlupakan dari Jawa Tengah
Contoh 1 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan
1. Asal Mula Rawa Pening
Betapa terkejutnya Endang Sawitri ketika anak yang dilahirkannya berupa cahaya yang kemudian menjelma menjadi seekor naga raksasa.
Sang anak yang berwujud naga raksasa itu kemudian bertanya kepada ibunya mengenai siapa ayahnya.
“Ayahmu adalah Ki Ageng Salokantara,” jawab Endang Sawitri.
Sang naga kemudian menemui nama yang disebutkan ibunya. Namun, Ki Ageng Salokantara menolak mengakui naga tadi sebagai anaknya.
Ki Ageng Salokantara hanya mau mengakui sang naga sebagai anaknya kalau wujudnya sudah berubah menjadi manusia.
“Bagaimana cara agar aku bisa berwujud manusia?” tanya sang naga yang saat itu diberi nama Baru Klinting.
“Bertapalah dengan melingkari Gunung Telomoyo. Saat tubuhmu mampu melingkari Gunung Telomoyo. Saat itulah kamu akan dapat berubah wujud menjadi manusia.”
Baru Klinting segera menuruti perintah Ki Ageng Salokantara. Seiring berjalannya waktu tubuh Baru Klinting semakin besar dan semakin memanjang.
Suatu hari ketika Baru Klinting sedang menjalankan tapanya. Tiba-tiba ada seorang pemburu yang menancapkan tombaknya secara tidak sengaja ke tubuh Baru Klinting.
Sontak saja saat tombak itu diangkat darah segera mengucur. Saat tahu bahwa tombaknya telah menancap pada tubuh seekor ular raksasa. Sang Pemburu langsung memotong-motong tubuh Baru Klinting.
Kabar mengenai pemburu yang berhasil menangkap ular raksasa segera tersebar luas. Sehingga banyak penduduk yang turut mengambil daging Baru Klinting.
Ajaibnya, setelah beberapa dagingnya diambil. Baru Klinting berubah menjadi seorang anak kecil.
Setelah bertapa dalam waktu yang lumayan lama. Anak kecil yang merupakan perubahan dari Baru Klinting merasa sangat lapar.
Ia kemudian mendatangi penduduk yang telah mengambil dagingnya untuk meminta makan. Sayangnya, hampir semua penduduk tidak memberinya makan.
Untungnya ia bertemu dengan seorang nenek baik hati. Nenek itu memberinya makan. Usai makan Baru Klinting meminta agar nenek yang memberinya makan untuk naik lesung.
Sebab, tidak lama lagi akan ada air bah yang akan menenggelamkan kampung tesebut. Setelah itu Baru Klinting berjalan menuju suatu lapangan.
Ia kemudian menancapkan satu batang lidi. Saat itu di lapangan sedang banyak orang berpesta makan daging ular.
Baru Klinting menantang semua orang yang ada di sana. Ia berkata bahwa siapapun yang berhasil mencabut lidi tersebut akan diberi daging ular dengan jumlah yang sangat banyak,
Semua orang yang ada di tempat itu tergiur dengan sayembara tersebut. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang berhasil mencabutnya.
Saat orang terakhir tidak mampu mencabut lidi yang ditancapkan Baru Klinting. Ia meminta agar lidi tersebut dicabut Baru Klinting.
Begitu lidi dicabut keluarlah air dari dalam tanah. Awalnya hanya kecil tetapi seiring dengan berjalannya waktu. Air semakin membesar hingga menenggelamkan kampung tersebut.
Semua warga kecuali nenek yang baik hati tadi tenggelam karena mereka lebih mementingkan harta yang dimilikinya dibanding nyawanya sendiri.
Halaman:



