Ada Apa dengan Malam 1 Suro? Ini Beberapa Hal yang Berkembang di Masyarakat Jawa
Penasaran dengan ada apa saja di malam 1 Suro? Yuk, cari tahu hal-hal yang berkembang di masyarakat Jawa terkait malam 1 Suro di artikel ini!
Sebab itulah yang membuat perayaan malam 1 Suro ini selalu diawali dengan pembacaan doa dengan harapan bisa mendatangkan keselamatan dan menangkal datangnya bahaya bagi yang melakukannya.
Selain itu malam 1 Suro sering pula digunakan oleh orang Jawa untuk menjalani ‘laku prihatin’ dengan cara mendatangi tempat-tempat sepi.
Di sana mereka akan melakukan perenungan diri agar bisa merenungi kesalahan yang telah diperbuat sepanjang tahun.
Setelah melakukan perenungan ini mereka berharap bisa mendapat pencerahan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun yang baru.
Selain melakukan perenungan diri, di bulan Suro ini kebanyakan orang-orang Jawa akan berusaha menumbuhkan kembali laku ‘eling dan waspada’ untuk mendapatkan keselamatan di tahun yang akan datang.
Tujuan menjalani laku eling (ingat) agar mereka tidak lupa diri dan akan selalu mengingat posisinya sebagai makhluk Tuhan serta senantiasa ingat dengan hukum sebab dan akibat dari semua hal yang dilakukannya.
Sementara itu, dengan menjalani laku waspada diharapkan akan membuatnya bisa selamat dari kejadian kurang baik yang akan mampir di kehidupannya yang akan datang.
C. Berbagai Ritual Malam 1 Suro
Banyak ritual yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa dalam merayakan malam 1 Suro. Di bawah ini adalah beberapa diantaranya.
1. Pasang Tolak Bala
Orang Jawa meyakini akan ada hal-hal kurang baik yang akan terjadi di malam 1 Suro yang disebabkan oleh gangguan makhluk gaib.
Makanya, di malam 1 Suro ini beberapa orang Jawa akan memasang tolak bala dalam berbagai wujud sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar diberikan keselamatan.
2. Gelar Berbagai Tradisi Tahunan
Beberapa tradisi juga banyak yang digelar untuk menyambut datangnya malam 1 Suro. Di kawasan Mataraman ada berbagai jenis kirab pusaka.
Kemudian di daerah pantai ada tradisi larung sesaji yang semua maksud digelarnya acara ini adalah sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan yang telah diberikan.
Sekaligus sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dari segala marabahaya di tahun yang akan datang.
3. Ruwatan
Beberapa orang Jawa yang di tahun sebelum merasakan hidupnya sulit, penuh dengan kegagalan dan ketidakberuntungan biasanya akan melakukan ruwatan di malam 1 Suro.
Adapun ruwatan yang dilakukan ini dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan yang diyakininya selama ini.
Di kalangan masyarakat Jawa setidaknya ada dua jenis ruwatan yakni ruwatan dengan cara santri dan ruwatan dengan cara Jawa.
Ruwatan santri umumnya dilakukan dengan membaca doa-doa tertentu. Sementara ruwatan cara Jawa dilakukan dengan menggunakan beberapa ubarampe yang kemudian ditandai dengan pementasan wayang dengan lakon ruwat.
Meski tata cara yang dilakukan berbeda, tetapi tujuan dari kedua ruwatan ini tetap sama yakni menghilangkan keburukan dan mendatangkan kebaikan bagi yang menjalankannya.
4. Jamasan Pusaka
Bagi orang Jawa sebuah pusaka memiliki makna yang mendalam. Ia tidak hanya sekedar senjata, melainkan suatu warisan yang harus dijaga.
Salah satu cara untuk menjaga sebuah pusaka ini adalah dengan melakukan jamasan agar karat yang menempel di pusaka bisa hilang.
Malam 1 Suro sering dipilih untuk melakukan jamasan karena di malam ini diyakini memiliki energi besar yang baik untuk pusaka.
Makanya, dengan melakukan jamasan di malam 1 Suro, mereka berharap energi baik yang muncul di malam 1 Suro ini bisa masuk ke dalam pusaka miliknya.
Halaman:

