Cerita Asal Usul Sejarah Banyuwangi Jawa Timur Singkat dan Lengkap
Penasaran dengan cerita asal usul terjadinya Banyuwangi? Dapatkan kisah lengkapnya di dalam artikel berikut ini.
Namun, Sri Tanjung tetap tenang dan membela dirinya.
“Kangmas, saestu, kula boten nindakaken tumindak punapa kemawon ingkang boten pantes. Kula ngantos temukeng pati tansah setya dhateng kangmas Sidopekso,” ucap Sri Tanjung sambil menangis.
Sayangnya, Patih Sidopekso, yang telah dibutakan oleh emosi dan pengaruh Prabu Sulahkromo, ternyata tetap tak bisa mempercayai istrinya.
Di tengah rasa kemarahannya, dia membawa Sri Tanjung ke tepi sungai dan bersiap untuk menghukumnya.
“Duh Gusti, saumpami kula ingkang lleres, kawula nyuwun kasantosan kasalametan,” ucap Sri Tanjung dengan tenang sebelum menerima hukumannya.
Dia tahu, keadilan Tuhan akan datang meskipun manusia berbuat tidak adil.
Bagian 4 – Banyu Wangi
Di tepian sungai, Patih Sidopekso yang marah tak bisa menahan perasaannya lagi.
Sembari menenteng keris di genggaman, ia menghunuskan senjata tersebut ke arah Sri Tanjung dengan perasaan remuk.
Sri Tanjung mundur ke belakang dengan perlahan ke mulut tebing tepian sungai yang begitu curam dan dalam
Di saat-saat terakhir, Sri Tanjung berkata, “Kangmas, saumpami kula ingkang leres, toyaning lepen punika bakal wangi. Nanging menawi kula salah ugi kadunungan dosa, toya kali niki bakal sami kados sakniki, anyir.”
Patih Sidopekso hanya diam mendengar serapah istrinya, Sri Tanjung. Dia berjalan ke depan dengan mengarahkan keris pada istrinya.
Sri Tanjung sadar bahwa sudah waktunya dia menghadap yang Maha Kuasa. Lantas dia mundur ke belakang, terus, lalu menjatuhkan diri ke sungai yang sedang mengalir deras.
Pada akhirnya Sri Tanjung meninggal dunia dengan menceburkan diri ke dalam sungai.
Tidak berselang lama kemudian, sebuah keajaiban terjadi.
Dari tempat Sri Tanjung terjatuh, air sungai yang tadinya keruh dan berbau anyir tiba-tiba berubah menjadi bening dan mengeluarkan wangi yang harum.
Patih Sidopekso tertegun. Dia terdiam menutup mulut, lalu tersungkur ke tanah tatkala menyaksikan perubahan ajaib pada aroma sungai.
Patih Sidopekso tertunduk di tepi sungai, menangis begitu hebat dengan penuh penyesalan. Pada saat itulah dia baru sadar bahwa Sri Tanjung telah difitnah oleh Prabu Sulahkromo, Raja Blambangan tempat dia mengabdikan diri.
Sementara itu, kenyataannya istrinya memang setia. Patih Sidopekso lalu memekik ke langit
“Yungallah Sri Tanjung… sliramu setya temenanan,” tangisnya dengan penuh sesal.
Kabar tentang keajaiban air sungai yang wangi ini tersebar luas ke seluruh negeri Blambangan, bahkan sampai ke pelosok-pelosok.
Sejak saat itu, daerah di sekitar sungai tersebut dikenal dengan nama “Banyuwangi,” yang berarti “air yang harum,” sebagai tanda penghormatan dan pengingat akan kesetiaan dan kejujuran Sri Tanjung.
Halaman:

