Advertisement
Source : Canva/@cnv-studio

7 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan secara Singkat dan Jelas

Jika kamu sedang mencari cerita rakyat Jawa Tengah yang digemari dan populer, intip contohnya dalam artikel berikut.

27 November 2025 Zuly Kristanto

Contoh 2 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan

2. Kisah Nawangwulan

Nawangwulan sangat sedih karena selendang yang membuatnya bisa kembali ke kahyangan hilang dicuri orang.

Saat ditinggal saudara-saudaranya kembali ke kahyangan. Nawangwulan semakin ketakutan. Ia saat itu berjanji kepada siapa saja yang menolongnya jika laki-laki akan dijadikan suami.

Sementara apabila yang menolongnya perempuan akan dijadikannya saudara.

Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan bernama Jaka Tarub yang memberinya pertolongan.

Seperti yang sudah diucapkannya, Nawangwulan pun akhirnya menjadikan Jaka Tarub sebagai suaminya.

Setelah menikah dengan Jaka Tarub kehidupan Nawangwulan sangat bahagia. Selang beberapa bulan kemudian Nawangwulan dan Jaka Tarub dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nawangsih.

Saat Jaka Tarub sedang berburu ke dalam hutan. Nawangwulan mengambil gabah di lumbung yang akan ditumbuk menjadi beras.

Alangkah terkejutnya Nawangwulan ketika tahu bahwa di lumbung itu dia melihat ada selendangnya yang hilang.

Saat itu dia sadar bahwa sosok yang telah mencuri selendangnya adalah suaminya sendiri. Saat itu Nawangwulan sangat marah.

Ia kemudian segera memakai selendang itu. Bertepatan saat sedang memakai selendangnya datanglah Jaka Tarub yang menggendong anaknya dalam keadaan menangis.

Namun, karena masih marah atas perbuatan suaminya. Nawangwulan terbang kembali ke kahyangan meninggalkan suami dan anaknya.

Nawangwulan berjanji akan sering mengunjungi anaknya. Dan apabila ketika anaknya akan menikah. Nawangwulan sendiri yang akan merias putri kesayangannya.

Contoh 3 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan

4. Ki Ageng Selo Sang Penangkap Petir

Suatu hari ketika sedang bekerja di sawah Ki Ageng Selo merasa kesal dengan petir yang terus menyambar.

Beberapa kali Ki Ageng Selo mengingatkan agar petir tidak mengganggunya saat bekerja. Tapi, ucapan Ki Ageng Selo ini tidak digubris oleh petir.

Merasa kesal karena perkataannya tidak dituruti. Saat petir kembali menyambar. Ki Ageng Selo segera menangkapnya dan mengikatnya pada pohon gandrik.

Petir yang tertangkap pun meronta-ronta dan mengamuk. Namun, hal itu dibiarkan saja oleh Ki Ageng Selo. Kabar tentang Ki Ageng Selo yang berhasil menangkap petir ini sampai di telinga Sultan Demak.

Sang Sultan ingin melihat bagaimana wujud petir yang ditangkap Ki Ageng Selo. Saat melihat langsung Sang Sultan sangat takjub.

Meski demikian Sultan meminta agar Ki Ageng Selo melepaskan petir yang diikat pada pohon gandrik tadi. Sebab, amukan petir itu telah menyebabkan banyak kerusakan.

Perintah dari Sultan Demak ini pun dituruti Ki Ageng Selo. Setelah dibebaskan petir kembali menyambar dan membuat salah satu dahan pohon gandrik terbakar.

Hingga saat ini dahan pohon gandrik ini masih menyala dan disimpan di sebuah masjid yang letaknya tidak jauh dari makam Ki Ageng Selo di Purwodadi, Jawa Tengah.

Contoh 4 Cerita Rakyat Jawa Tengah yang Tak Terlupakan

5. Ajisaka Melawan Prabu Dewatacengkar

Pada jaman dahulu hiduplah seorang raja jahat yang bernama Prabu Dewatacengkar.

Kegemarannya menyantap daging manusia membuat dirinya berubah menjadi raksasa yang sangat besar.

Di bawah kepemimpinan Prabu Dewatacengkar rakyat kerajaan Medangkamulan sangat menderita. Sebab, setiap hari ada saja warga yang menjadi kekejaman sang raja.

Suatu hari utusan sang raja kesulitan mencari rakyat untuk dijadikan mangsa rajanya. Di saat itu utusan sang raja hanya menemukan seorang janda tua.

Ketika janda tua itu akan dibawa ke kerajaan untuk kemudian disantap sang raja. Mereka bertemu dengan seorang pemuda tampan bernama Ajisaka.

Pemuda itu menawarkan dirinya untuk menggnatikan janda tua tadi untuk menjadi santapan sang raja.

Tawaran ini tentu membuat utusan raja senang. Ajisaka lalu dibawa ke istana. Sesampainya di istana Ajisaka bertemu dengan Prabu Dewatacengkar.

Meski berhadapan dengan sosok manusia tinggi besar yang wajahnya sangat menyeramkan. Ajisaka tak gentar. Prabu Dewatacengkar sangat senang melihat calon mangsanya masih muda.

Sang raja kemudian berkata, “Mintalah apapun kepadaku dan aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”

“Aku hanya meminta tanah seluas ikat kepalaku,” jawab Ajisaka.

Jawaban Ajisaka ini membuat Prabu Dewatacengkar terkekeh. Selepas itu Ajisaka segera melepas ikat kepalanya.

Ajaibnya saat ditarik ikat kepala Ajisaka semakin panjang. Ketika Prabu Dewatacengkar sampai di tepi laut selatan.

Ikat kepala itu dikibaskan oleh Ajisaka. Akibatnya Prabu Dewatacengkar jatuh ke laut dan berubah menjadi buaya putih.  

Sepeninggal Prabu Dewatacengkar rakyat kerajaan Medangkamulan dapat hidup dengan tenang dan tentram di bawah kepemimpinan Ajisaka.

Halaman:

Advertisement