4 Cerpen Keluarga Bahagia dan Sedih yang Bermakna dengan Penuh Pesan Moral
Membaca cerpen dapat mengisi waktu kosongmu dengan lebih bermakna. Simak cerpen keluarga bahagia dan sedih pilihan di artikel terbaru Mamikos ini.
“Nanti siang kita main, Dim!” ujar Dara kepada adiknya yang disambut dengan anggukan kepala.
Setelah sarapan, mereka menghabiskan waktu dengan bermain monopoli dan bercanda tawa. Tawa riang Dimas selalu menghiasi rumah sepanjang hari.
Saat malam hari tiba, Dara terlelap dengan perasaan bahagia. Keluarga kecilnya ini adalah harta paling berharga yang akan selalu ia jaga.
2. Waktu yang Berharga
Tak seperti ayah pada umumnya, aku hanya dapat bertemu ayah satu bulan satu kali saja. Kalaupun bertemu, pasti waktunya sangat singkat, bisa tiga atau hanya empat hari. Mungkin paling lama sekitar satu minggu ayah bisa ada di rumah.
Ayahku memang seorang pelaut yang sebagian besar waktunya ia habiskan di tengah samudra. Ketika masih kecil aku belum begitu mengerti, kenapa ayah tidak bisa pulang setiap hari seperti ayah teman-temanku.
Namun, lambat laun, aku mulai paham jika pekerjaan seorang pelaut memaksa ayah untuk tidak pulang setiap hari. Setiap momen kedatangan ayah kembali, aku akan sangat bergembira saat menyambutnya.
Aku sering diajak ayah bermain, entah dengan sekadar mengelilingi kompleks perumahan atau pergi ke pusat perbelanjaan sambil menghabiskan waktu. Di sisi lain, waktu menjelang ayah pergi untuk kembali melaut menjadi momen paling berat.
Sebab di waktu itulah ayah akan pergi bekerja berbulan-bulan lamanya. Bahkan kadang tak sempat ayah memberi kabar. Terkadang aku marah dan mengunci kamar setiap ayah akan pergi lagi bekerja.
Ayah dan ibu pun mencoba membujuk untuk keluar kamar agar bisa berpamitan. Egoku masih tinggi sehingga aku tidak menggubrisnya.
Namun, kebiasaan buruk itu lambat laun sudah mulai memudar. Kini aku sudah agak dewasa dan mencoba tegar setiap kali melihat ayah pergi melaut.
“Sabar ya, Nak. Ayah mungkin tak lama lagi bekerja di kapal. Ayah juga sebenarnya tak mau meninggalkan keluarga ayah lama-lama,” ungkap Ayah.
Ucapan tersebut terjadi beberapa bulan terakhir sering ia lontarkan ketika hendak pergi bekerja. Tampaknya ayah pun mulai bosan dan tak tenang meninggalkan keluarganya lama-lama.
Sore itu, aku berada di teras untuk kembali melepas ayah pergi. Bersama ibu, aku melihat ayah naik mobil untuk bekerja di laut demi keluarganya tercinta.
Kembali aku berharap, semoga ayah bisa pulang secepatnya dan benar-benar bisa terus bersama kami selamanya.
Halaman:

