4 Cerpen Keluarga Bahagia dan Sedih yang Bermakna dengan Penuh Pesan Moral
Membaca cerpen dapat mengisi waktu kosongmu dengan lebih bermakna. Simak cerpen keluarga bahagia dan sedih pilihan di artikel terbaru Mamikos ini.
3. Aku dan Drama Keluargaku
Pagi ini cuaca cukup cerah. Aku bangun dari ranjangku dan meraih handuk yang kuletakkan di atas bangku belajar. Sesekali aku melihat ke arah kaca di sana, aku bisa melihat mata sembab yang menandakan habis nangis kelamaan.
Selesai mandi dan semuanya beres, aku langsung keluar rumah tanpa berpamitan dan langsung ke gudang untuk mengambil sepeda lamaku.
Selama di perjalanan menuju sekolah, pikiranku hanya membayangkan kejadian semalam. Tak terasa air mata kembali mengalir.
Setelah sampai di pelataran sekolah, aku langsung memarkirkan sepeda dan berjalan lemas ke kelas. Seorang temanku merasa aneh dengan sifatku hari ini.
“Dita, apa yang sedang terjadi denganmu,” tanya Andi.
“Nggak apa-apa,” balasku pendek.
Akhirnya pelajaran terakhir hari itu pun selesai. Aku langsung berjalan ke arah sepeda yang kuparkir tadi pagi dan mengayuhnya dengan hati-hati. Saat sudah sampai di depan pintu rumah, kembali aku mendengar teriakan.
Bukan hanya teriakan, berbagai kalimat makian yang tak pantas keluar dari mulut kedua orang tuaku juga terdengar. Aku mengurungkan niat masuk ke rumah.
Segera aku mengayuh lagi sepeda sekencang mungkin dengan harapan supaya angin bisa membawa jauh beban pikiranku.
Tiba-tiba aku terhenti di taman bermain yang dulu pernah aku datangi bersama keluargaku. Tak terasa air mata kembali meleleh lagi di pipi.
Aku duduk sebentar di ayunan yang ada di sana. Beberapa menit kemudian aku ingin pulang ke rumah karena merasa perutku keroncongan.
Setelah sampai di rumah aku langsung membuka kulkas dan menemukan camilan kesukaanku dan memakannya dengan tenang.
“Dita keputusan ayah sudah bulat. Jika kamu tetap tidak setuju dengan perceraian itu, maka akan sia-sia saja.”
Mendengar hal tersebut membuatku semakin kesal, sedih, dan marah.
“Iya, cerai aja dengan cepat! Lebih cepat lebih bagus,” ujarku dengan nada tinggi.
Sebenarnya kejadian seperti ini baru terjadi semenjak kakak tertuaku meninggal. Sebelum kakakku pergi, semuanya baik-baik saja. Saling berbagi kehangatan, tapi itu bukan untukku, semuanya hanya demi kakakku.
Halaman:

