9 Kenali Ciri-ciri Pengajuan KPR yang Mungkin Ditolak Beserta Solusinya
Apakah Anda mulai khawatir tentang status pengajuan KPR rumah? Berikut adalah ciri-ciri KPR rumah yang ditolak.
9 Kenali Ciri-ciri Pengajuan KPR yang Mungkin Ditolak Beserta Solusinya – Mengajukan KPR rumah pasti membuat Anda khawatir mengalami penolakan. Bagaimana ciri-ciri KPR ditolak?
Selain banyak dokumen pribadi yang perlu dipersiapkan, ternyata Anda juga perlu memperhatikan kondisi keuangan agar KPR disetujui.
Namun, banyak kesalahan yang membuat pengajuan KPR tidak kunjung disetujui.
Artikel ini akan membantu Anda untuk mengidentifikasi tentang faktor penyebab, ciri-ciri KPR ditolak, dan solusi setelahnya.
Simak penjelasan mengenai ciri-ciri KPR ditolak di bawah ini!
Faktor Penyebab KPR Ditolak
Daftar Isi [hide]

Sebelum kita masuk pada pembahasan ciri-ciri KPR ditolak, ada baiknya Anda mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan ditolaknya pengajuan KPR.
Secara garis besar, faktor penyebab KPR ditolak berkaitan dengan situasi dan kesehatan finansial Anda, seperti:
1. Skor Kredit Rendah
Skor kredit adalah angka numerik yang mencerminkan sejarah kredit seseorang, dan ini menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan oleh lembaga keuangan ketika memutuskan untuk memberikan kredit atau tidak.
Skor kredit biasanya diperoleh dari lembaga pemantau kredit berdasarkan sejarah pembayaran, jumlah utang, lama sejarah kredit, tipe kredit yang dimiliki, dan aplikasi kredit baru.
Jika skor kredit pemohon rendah, ini bisa menjadi alasan utama penolakan. Skor kredit mencerminkan sejarah kredit dan kemampuan untuk membayar utang.
2. Rasio Utang yang Tinggi
Rasio utang, khususnya rasio utang-pendapatan (DTI), menjadi kunci dalam penilaian kredit oleh lembaga keuangan.
Jika DTI pemohon terlalu tinggi melewati batas yang ditetapkan, bisa menjadi tanda pemohon memiliki beban utang yang berat.
Bank menganggap beban utang berat sebagai potensi risiko pembayaran tinggi.
Mereka juga mempertimbangkan pengeluaran hidup dan perubahan tiba-tiba dalam keuangan pemohon, seperti penurunan pendapatan.
Oleh karena itu manajemen DTI seperti membayar utang atau mengurangi pengeluaran dapat meningkatkan peluang persetujuan kredit.

Advertisement
Bank ingin memastikan peminjam memiliki kapasitas finansial untuk membayar kembali kredit tanpa kesulitan keuangan yang berlebihan.
3. Penghasilan yang Kurang Memadai
Jika penghasilan bulanan tidak mampu menutup cicilan kredit, bank cenderung menolak permohonan kredit.
Bank memeriksa rasio antara penghasilan dan cicilan kredit yang diinginkan oleh pemohon untuk memastikan bahwa pemohon memiliki kapasitas finansial yang memadai.
Penghasilan yang kurang memadai dapat menimbulkan kekhawatiran terkait kemampuan pemohon untuk membayar kembali kredit tanpa mengalami kesulitan keuangan.
Oleh karena itu, penting bagi pemohon untuk memiliki penghasilan yang stabil dan memadai agar dapat memenuhi persyaratan pembayaran kredit yang diajukan.
4. Sejarah Pembayaran Buruk
Sejarah pembayaran yang buruk atau riwayat tunggakan dapat menjadi alasan utama penolakan pengajuan kredit oleh bank.
Jika pemohon memiliki catatan pembayaran yang tidak baik, seperti pembayaran tagihan yang terlambat atau tunggakan, bank cenderung menilai pemohon sebagai risiko pembayaran yang tinggi.
Sejarah pembayaran yang buruk mencerminkan kurangnya kedisiplinan keuangan atau kemampuan untuk membayar utang dengan tepat waktu.
Bank mungkin enggan memberikan kredit kepada individu dengan riwayat pembayaran yang meragukan.
5. Masalah dengan Dokumen
Ketidaksesuaian atau kelengkapan dokumen dapat menjadi faktor penolakan pengajuan kredit.
Bank mengharapkan pemohon menyediakan semua dokumen yang diperlukan dengan benar dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Jika terdapat kekurangan atau kesalahan dalam pengajuan dokumen, hal ini dapat menyulitkan proses evaluasi kredit.
Bank memerlukan informasi yang lengkap dan akurat untuk membuat keputusan yang tepat terkait dengan pemberian kredit.
Oleh karena itu, penting bagi pemohon untuk memastikan bahwa semua dokumen yang diminta telah disiapkan dengan teliti dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh lembaga keuangan.
6. Nilai Properti yang Tidak Memadai
Jika nilai properti yang dijaminkan tidak mencukupi untuk menutup jumlah kredit yang diminta, ini bisa menjadi alasan bagi bank untuk menolak pengajuan kredit.
Bank melakukan penilaian terhadap nilai properti yang dijaminkan sebagai jaminan kredit.
Jika nilai tersebut tidak memadai untuk menutupi jumlah kredit yang diminta, bank mungkin merasa bahwa risiko yang terkait dengan kredit tersebut terlalu tinggi.
Properti yang dijaminkan berfungsi sebagai jaminan yang dapat diambil alih oleh bank jika peminjam gagal membayar kredit.
Bank cenderung mengevaluasi hubungan antara nilai properti dan jumlah kredit yang diminta untuk memastikan bahwa properti dapat menjadi jaminan yang memadai.