9 Contoh Bahan Bakar Ramah Lingkungan beserta Penjelasannya untuk Mengurangi Dampak Pemanasan Global

9 Contoh Bahan Bakar Ramah Lingkungan beserta Penjelasannya untuk Mengurangi Dampak Pemanasan Global – Saat ini, kampanye penggunaan bahan bakar ramah lingkungan semakin massif.

Banyak negara yang telah beralih dari bahan bakar fosil ke bahan bakar ramah lingkungan dalam rangka memenuhi hajat warga negara. Indonesia pun demikian, sebagian telah berhasil direalisasikan.

Sebenarnya, apa itu bahan bakar ramah lingkungan? Seperti apa contoh bahan bakar ramah lingkungan yang dimaksud? Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut.

Apa itu Bahan Bakar Ramah Lingkungan?

Getty Images Signature/AndrewJohnson

Bahan bakar ramah lingkungan juga dikenal dengan nama biofuel.

Bahan bakar ramah lingkungan, pun disebut sebagai bahan bakar bersih atau bahan bakar hijau, adalah jenis bahan bakar yang diproduksi dengan tujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan akibat penggunaan bahan bakar fosil konvensional.

Pada prinsipnya, bahan bakar ramah lingkungan merupakan salah satu wujud gerakan green fuel, green economy, dan sustainable development.

Bahan bakar fosil yang banyak digunakan sebagai sumber energi di sebagian besar dunia saat ini diharapkan dapat digantikan dengan bahan bakar ramah lingkungan

Sejarah Perkembangan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Bahan bakar ramah lingkungan atau biofuel, memiliki sejarah panjang yang terkait dengan penggunaan sumber energi alami sejak ribuan tahun yang lalu. 

Sejarahnya dapat dibagi menjadi beberapa periode penting:

1. Penggunaan Tradisional

Manusia telah menggunakan biofuel secara tradisional jauh sebelum revolusi industri. 

Contohnya adalah penggunaan kayu bakar untuk memasak dan pemanasan, serta penggunaan limbah organik seperti kotoran hewan sebagai sumber energi di berbagai masyarakat di seluruh dunia.

2. Awal Pemakaian secara Modern

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti bioetanol dan biodiesel mulai muncul sebagai alternatif bagi bahan bakar fosil. 

Bioetanol pertama kali diproduksi dari fermentasi gula pada tahun 1826, sementara biodiesel pertama kali ditemukan pada awal 1900-an oleh Rudolf Diesel menggunakan minyak biji kacang tanah.

3. Masa Perkembangan Teknologi

Selama paruh kedua abad ke-20, terjadi peningkatan dalam pengembangan teknologi biofuel. 

Bahan bakar ramah lingkungan semakin banyak diteliti dan dikembangkan sebagai alternatif yang ramah lingkungan terhadap bahan bakar fosil.

Terutama karena kekhawatiran akan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam.

Tujuan Penggunaan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Tujuan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan adalah untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan akibat ulah manusia dan memberikan manfaat dalam berbagai aspek keberlanjutan.

Berikut beberapa tujuan utama penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.

1. Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

Bahan bakar ramah lingkungan memiliki tujuan utama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oxide (N2O). 

Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dapat membantu memperlambat laju perubahan iklim dan pemanasan global karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

2. Kualitas Udara yang Lebih Baik

Bahan bakar ramah lingkungan membantu mengurangi polusi udara dengan mengurangi emisi partikel-partikel udara yang berbahaya.

Misalnya nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan senyawa lainnya yang berkontribusi terhadap pencemaran udara dan masalah kesehatan masyarakat.

3. Konservasi Sumber Daya Alam yang Terbatas

Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, terutama yang berasal dari sumber energi terbarukan seperti biomassa, biofuel, tenaga surya, dan tenaga angin.

Tujuannya mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam.

4. Pembangunan Berkelanjutan

Melalui upaya adopsi bahan bakar ramah lingkungan, diharapkan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan

Dengan mempertimbangkan kebutuhan energi saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan. 

5. Inovasi Teknologi

Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan juga bertujuan untuk mendorong inovasi teknologi dalam pengembangan energi terbarukan, teknologi penghematan energi, dan alternatif bahan bakar yang lebih bersih. 

Pendekatan ini nantinya dapat membuka peluang untuk penelitian dan pengembangan teknologi yang lebih maju untuk masa depan.

6. Dukungan pada Kebijakan Lingkungan

Adopsi bahan bakar ramah lingkungan sering kali sejalan dengan kebijakan lingkungan dan aturan pemerintah yang mendorong penggunaan energi bersih dan penurunan emisi karbon.

Seperti regulasi tentang emisi kendaraan, pembatasan penggunaan bahan bakar konvensional, atau insentif pajak untuk energi terbarukan.

Konvensi Internasional Terkait Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Sebelum sampai pada uraian contoh bahan bakar ramah lingkungan, terdapat beberapa perjanjian internasional maupun kesepakatan multilateral.

Isu utama yang dibahas yakni seputar lingkungan, termasuk energi yang ramah lingkungan.

1. Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC)

Konvensi oleh anggota PBB dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 1992 di Brasil. Bahasan utamanya adalah mengatasi perubahan iklim dengan mencari solusi yang berkelanjutan dalam mengelola emisi gas rumah kaca.

Keputusan dari konvensi berlaku mulai pada 21 Maret 1994, meskipun tidak secara khusus menginstruksikan sesuatu namun menegaskan dan mendorong negara-negara anggota untuk peduli dengan isu energi dan lingkungan.

2. Perjanjian Paris atau Paris Agreement

Hasil konvensi di Brasil kemudian ditindaklanjuti dengan melaksanakan Perjanjian Paris pada 12 Desember 2015 di Paris. Inti pembahasannya masih sama dengan konvensi sebelumnya.

Adanya perjanjian ini, negara-negara diminta untuk mulai menggunakan sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, serta didorong dalam penggunaan biofuel dan energi terbarukan.

Setelah jumlah negara yang menyetujui tercukupi sebagai syarat meratifikasi, akhirnya perjanjian diberlakukan mulai 4 November 2016.

3. Kesepakatan Internasional tentang Pengurangan Emisi Gas dari Penerbangan (International Civil Aviation Organization’s Agreement on Reducing Emissions from Aviation/ICAO’s RED)

Dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2016 perjanjian ini memfokuskan pada isu pengurangan emisi gas rumah kaca dari industri penerbangan.

Isi perjanjian ini memberikan arahan beserta kerangka kerja untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, mendorong penggunaan sumber energi yang berkelanjutan, serta pengembangan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. 

Fase penerapan perjanjian ini akan berlanjut hingga 2027.

4. Kesepakatan Internasional tentang Pengurangan Emisi Gas Buang dari Kapal (International Maritime Organization’s Agreement on Reducing Emissions from Ships/IMO’s RES)

Mengadopsi dari konvensi-konvensi sebelumnya, Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut menggelar perjanjian mengenai lingkungan pada 13 April 2028 dan kesepakatannya mulai berlaku pada 1 Januari 2023.

Isu yang dibawa yakni pengurangan emisi gas buang dari kapal laut. Di dalam perjanjian juga terdapat upaya pengenalan bahan bakar serta teknologi yang ramah lingkungan untuk transportasi laut.

7 Contoh Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Setelah memahami tentang seluk beluk bahan bakar ramah lingkungan, kini waktunya mengulas apa saja contoh bahan bakar ramah lingkungan.

Berikut adalah 5 contoh bahan bakar ramah lingkungan disertai peranannya dalam mengurangi dampak pemanasan global.

1. Biopelet

Contoh bahan bakar ramah lingkungan yang pertama adalah Biopelet.

Biopelet merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang bersifat padat, terbuat dari bahan-bahan biomassa seperti serbuk kayu, jerami, limbah pertanian, limbah industri kayu, serbuk gergaji, atau bahan organik lainnya. 

Proses produksi biopelet melibatkan pemadatan bahan baku menjadi bentuk silinder atau pelet kecil dengan menggunakan tekanan tinggi, tanpa menggunakan bahan perekat tambahan. 

Biopelet memiliki karakteristik ramah lingkungan karena berasal dari sumber daya terbarukan dan dapat mengurangi emisi karbon saat dibakar. 

Biasanya, biopelet digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil dalam sistem pemanas, kompor, boiler, atau pembangkit listrik.

Bahan baku utama biopelet sering kali adalah limbah atau sisa-sisa biomassa yang dihasilkan dari industri kayu, pertanian, atau kehutanan. 

Setelah bahan baku dikeringkan, dipadatkan, dan dibentuk menjadi pelet kecil, biopelet dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang efisien dan bersih. 

Cara penggunaannya sangat sederhana, yaitu dengan memasukkan biopelet ke dalam sistem pemanas, kompor, atau perangkat lain yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar padat.

Saat dibakar, biopelet menghasilkan panas yang digunakan untuk memanaskan ruangan atau untuk menghasilkan energi.

Sementara itu residu abu yang dihasilkan dari pembakaran biopelet memiliki jumlah yang lebih rendah dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil, sehingga memudahkan proses pembersihan.

2. Gas Alam

Contoh bahan bakar ramah lingkungan yang kedua adalah gas alam.

Gas alam merupakan bahan bakar fosil yang terdiri dari campuran gas-gas hidrokarbon, terutama terdiri dari metana (CH4).

Namun juga dapat mencakup sejumlah kecil gas lain seperti etana, propana, dan butana. 

Asal usul gas alam berasal dari proses pembentukan alami yang memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun. 

Biasanya, gas alam terbentuk di dalam lapisan batuan bawah tanah melalui proses dekomposisi organik dari sisa-sisa makhluk hidup laut dan darat yang tertimbun. 

Gas alam sering ditemukan bersama dengan minyak bumi, terperangkap di dalam formasi batuan tertentu di bawah permukaan tanah.

Gas alam telah banyak digunakan terutama dalam industri energi dan pembangkit listrik. 

Selain itu, gas alam juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memasok kebutuhan panas dan listrik dalam rumah tangga, industri, transportasi, dan pembangkit listrik. 

Proses pembakaran gas alam menghasilkan panas yang digunakan untuk pemanasan ruangan, memasak, dan berbagai keperluan industri. 

Di samping itu, gas alam juga digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan produk kimia, seperti pupuk, plastik, dan berbagai produk industri lainnya. 

Penggunaan yang fleksibel dan relatif bersihnya pembakaran gas alam membuatnya menjadi alternatif yang diminati dalam upaya mengurangi emisi karbon dioksida dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

3. Dimetil Eter

Dimetil eter (DME) adalah contoh bahan bakar ramah lingkungan selanjutnya.

Dimetil eter merupakan senyawa kimia yang terdiri dari dua molekul metanol. 

Senyawa ini memiliki rumus kimia CH3OCH3. Dimetil eter menjadi salah satu jenis eter yang berwujud gas pada suhu kamar dan memiliki sifat-sifat yang mirip dengan propana. 

Dimetil eter berasal dari sintesis kimia yang melibatkan reaksi antara metanol dengan katalis asam. 

Metanol yang menjadi bahan baku utama untuk dimetil eter dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk gas alam, batubara, atau biomassa.

Saat ini, Dimetil eter dianggap sebagai bahan bakar yang potensial menggantikan diesel karena memiliki sifat pembakaran yang bersih dan tidak menghasilkan emisi belerang atau partikel. 

Penggunaan DME dalam industri transportasi, terutama dalam mesin diesel modifikasi khusus, telah diuji coba sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan dan berpotensi mengurangi polusi udara. 

Selain itu, dimetil eter juga digunakan dalam produksi aerosol, cat semprot, dan bahan kimia lainnya.

4. Biogas

Contoh bahan bakar ramah lingkungan berikutnya adalah biogas.

Biogas terbentuk dari proses fermentasi biomassa organik seperti limbah pertanian, limbah hewan ternak, limbah rumah tangga, atau tanaman energi seperti rumput laut atau tumbuhan lainnya. 

Proses ini terjadi dalam kondisi anaerobik, di mana mikroorganisme memecah bahan organik secara alami dan menghasilkan campuran gas, terutama metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), serta sejumlah kecil gas lainnya seperti hidrogen sulfida (H2S) dan uap air. 

Metana dalam biogas adalah komponen utama yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memasok kebutuhan listrik, pemanas, atau bahan bakar dalam berbagai aplikasi industri, rumah tangga, atau pertanian.

Bahan baku seperti limbah pertanian, kotoran hewan, atau limbah organik lainnya dimasukkan ke dalam biodigestor di mana mikroorganisme mengurai bahan organik tersebut secara biologis. 

Gas yang dihasilkan, terutama metana, dapat dikumpulkan dan disalurkan ke peralatan yang sesuai untuk digunakan sebagai sumber energi. 

Penggunaan biogas sangat bervariasi; di antaranya adalah untuk memasok listrik melalui pembangkit listrik yang dioperasikan dengan biogas.

Menurut statistik, biogas nyatanya membantu mengurangi jejak karbon, mendaur ulang limbah organik, mengurangi dampak pemanasan global, dan memanfaatkan sumber energi yang terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.

5. Bioetanol

Bioetanol merupakan contoh bahan bakar ramah lingkungan yang berjenis bahan bakar dari proses fermentasi gula, pati, atau serat tanaman seperti jagung, tebu, atau sorgum. 

Prosesnya mengubah materi organik menjadi alkohol, yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil. 

Asal bioetanol dapat ditemukan dalam berbagai sumber, namun yang paling umum berasal dari tanaman tertentu yang kaya akan kandungan pati atau gula yang dapat difermentasi.

Misalnya, bioetanol dapat dihasilkan dari tebu, jagung, sorgum, gandum, atau serat tanaman lainnya.

Penyulingan dilakukan melalui proses fermentasi di mana gula yang terdapat dalam tanaman diubah menjadi etanol menggunakan ragi atau bakteri khusus. 

Setelah proses fermentasi, bioetanol bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan, entah murni atau dicampur dengan bahan bakar fosil seperti bensin untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Tujuan penggunaan bioetanol adalah sebagai alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil dan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. 

Penggunaan bioetanol dalam bahan bakar kendaraan memiliki beberapa manfaat, termasuk mengurangi emisi gas rumah kaca, mengurangi dampak pemanasan global, serta mendukung keberlanjutan lingkungan karena bioetanol berasal dari sumber yang dapat diperbaharui. 

Meskipun bioetanol memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, produksi massalnya masih tergantung pada ketersediaan tanaman penghasil bioetanol.

6. Biosolar B30

Contoh bahan bakar ramah lingkungan berikutnya adalah biosolar B30. 

Biosolar B30 merupakan jenis bahan bakar diesel berupa campuran dari biodiesel (B30 = 30% biodiesel + 70% solar/diesel konvensional). 

Biodiesel yang digunakan sebagai komponen utama di dalam biosolar B30 diperoleh dari bahan baku nabati atau tumbuhan, seperti minyak kelapa sawit, kedelai, jarak pagar, atau biji rami. 

Tujuan dari penggunaan biosolar B30 adalah untuk mengurangi dampak lingkungan dari bahan bakar konvensional dengan menggantinya sebagian dengan bahan bakar yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan lebih ramah lingkungan.

Asal mula biosolar B30 berkaitan dengan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan keberlanjutan lingkungan. 

Produksi dan penggunaan biosolar B30 umumnya terkait dengan negara-negara yang memiliki industri biodiesel yang sudah kuat atau negara-negara yang mengandalkan sebagian besar dari sumber daya alamnya untuk produksi biodiesel. 

Pada praktiknya, penggunaan biosolar B30 memerlukan kendaraan atau mesin diesel yang dapat menggunakan campuran biodiesel tanpa perlu modifikasi yang signifikan. 

Meskipun demikian, penggunaan biosolar B30 kadang membutuhkan pemeliharaan yang lebih sering karena sifatnya yang lebih korosif terhadap beberapa bagian mesin daripada solar biasa.

7. Biodiesel

Selanjutnya adalah biodiesel, contoh bahan bakar ramah lingkungan yang dihasilkan dari bahan-bahan organik, seperti minyak nabati atau lemak hewani. 

Proses pembuatan biodiesel melibatkan reaksi kimia yang disebut transesterifikasi, yakni reaksi yang melibatkan minyak nabati atau lemak hewani diubah menjadi senyawa ester metil yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. 

Biodiesel biasanya diproduksi dari berbagai sumber, termasuk minyak kelapa sawit, kedelai, rapeseed (rapa), biji jarak, dan minyak nabati lainnya, serta lemak hewani dari limbah industri daging atau lemak hewani lainnya.

Biodiesel dapat digunakan dalam mesin diesel konvensional tanpa perlu modifikasi yang signifikan. 

Penggunaan biodiesel dapat dilakukan baik secara murni (100% biodiesel atau B100) maupun dicampur dengan bahan bakar diesel konvensional dalam berbagai perbandingan (seperti B5, B20, dll.). 

Biodiesel juga dikenal memiliki sifat yang lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan partikel-partikel berbahaya, dibandingkan dengan bahan bakar diesel konvensional.

Biodiesel menjadi pilihan yang menarik karena dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, memanfaatkan sumber daya alam yang diperbaharui, dan mengurangi dampak pemanasan global.

Penutup

Nah, itulah uraian lengkap mengenai bahan bakar ramah lingkungan serta contoh bahan bakar ramah lingkungan.

Setiap contoh bahan bakar ramah lingkungan yang disampaikan ternyata punya peranan penting dalam mereduksi dampak pemanasan global.

Semoga bermanfaat.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta