3+ Contoh Cerita Mudik Lebaran Singkat Bersama Keluarga Naik Motor, Mobil, dan Kereta Api
Jika kamu sedang mencari contoh cerita mudik lebaran singkat bersama keluarga, maka kamu dapat menemukan contohnya pada artikel berikut.
Sering kali mudik menjadi cerita tersendiri yang sulit untuk terlupakan. Di sepanjang perjalanan mudik, seringkali kita berjumpa hal-hal yang menyenangkan dan membekas di hati.
Kadang kita menemukan sahabat baru pada saat melakukan mudik. Mereka yang sebelumnya orang asing, seringkali akan menjadi seperti saudara sendiri ketika bertemu pada saat mudik.
Saking mengesankannya cerita tentang mudik. Sering sekali guru menyuruh muridnya untuk membuat cerita mudik. 📖✨
Daftar Isi
Contoh Cerita Mudik Lebaran

Di bawah ini adalah contoh cerita mudik lebaran yang bisa kamu jadikan referensi.
1. Contoh Cerita Mudik Lebaran Naik Motor
Kakek Berhati Baik
Pagi itu kami sekeluarga sudah berencana berangkat mudik lebih awal. Rencananya kami akan pulang ke kampung halaman selepas solat subuh.
Malamnya, semua barang yang akan dibawa sudah ditata sedemikian rupa. Sehingga paginya kami sudah siap berangkat.
Sayangnya rencana kami untuk pulang pagi gagal. Sebab, selepas subuh hujan turun dengan begitu derasnya.
Derasnya hujan ditambah jarak pandang yang banyak berkurang membuat ayah menyarankan agar berangkat setelah hujan reda.
Karena terlalu menunggu hujan reda. Kamu sekeluarga tertidur dan baru bangun sekitar pukul delapan. Namun, hujan di luar masih sangat deras dan angin bertiup dengan kencangnya.
Hujan baru reda sekitar pukul sembilan pagi. Kami pun berangkat dari rumah. Sepanjang perjalanan mudik. Kami berkali-kali berhenti untuk berteduh.
Sebab, hujan berkali-kali turun tanpa bisa diduga. Meski memakai jas hujan. Kami lebih memilih berhenti untuk berteduh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Hal inilah yang membuat perjalanan kami menjadi molor. Perjalanan mudik dari rumah ke kampung halaman yang biasanya memakan waktu 6 jam. Kini menjadi hampir 10 jam.
Ketika tiba di perbatasan kabupaten dan langit yang terang dengan gemintang di angkasa. Kami sangat bahagia karena tak lama lagi akan sampai di kampung halaman.
Sayangnya, tiba-tiba motor kempes karena kena paku. Apesnya lagi desa itu adalah desa terakhir sebelum memasuki hutan sepanjang 3 kilometer yang menjadi perbatasan kabupaten.
Tentu kami sekeluarga bingung. Ayah menyuruh aku dan ibu turun. Sementara tas dan ransel ditaruh di motor.
Sempat terbesit rasa bahagia karena melihat tulisan tambal ban. Tetapi, rasa itu hanya sekilas karena begitu didatangi tukang tambal ban itu tak ada di tempat.
Saat kami sedang kebingungan, seorang kakek tua datang menyapa dan bertanya tentang masalah yang kami hadapi.
Setelah mengetahuinya, kakek itu menyuruh kami untuk mampir di rumahnya. Beliau bernama Kakek Sarip.
Ia bercerita tengah menunggu anak cucunya yang juga sedang dalam perjalanan mudik. Tapi, sayangnya kendaraan yang ditumpangi anak dan cucunya mengalami kendala yang membuat mereka baru sampai besok pagi.
Kakek Sarip tinggal berdua dengan istrinya. Sore itu istrinya sudah terlanjur masak banyak dan sayang kalau tidak ada yang memakannya.
Maka dari itu, kakek Sarip mengajak kami makan bersama. Selain itu kakek Sarip juga mengijinkan kami menginap di rumahnya.
Keesokan harinya anak-cucu kakek Sarip tiba. Aku sangat terkejut bahwa ternyata cucu dari kakek Sarip ini adalah Noufal, temanku satu kelas.
Aku tak pernah mengira kalau mudik tahun ini benar-benar mengesankan.
Halaman:


