7 Contoh Cerpen tentang Senja Terindah Singkat dan Menarik
Apakah kamu sedang mencari contoh cerpen senja terindah singkat dan menarik? Dapatkan inspirasi dari sini.
Contoh Cerpen tentang Senja 3
Senja kembali menggelar tirai ungunya. Sisa jejak langkah matahari masih nampak tertinggal di langit sebelah barat.
Tidak lama kemudian satu demi satu gemintang mulai nampak untuk melaksanakan kewajibannya. Sementara itu, rembulan masih nampak malu-malu untuk menampakan diri.
Dia masih berselimut awan sembari merias dirinya. Sehingga kemunculannya nanti benar-benar sesuai dengan yang diharapkan khalayak.
Di dalam semak belukar yang ada di sebuah gubuk kecil, di tepian telaga yang jernih seorang anak kecil yang sedari tadi sembunyi terlihat masih ragu untuk pulang ke rumahnya.
Ia ragu dan juga takut pulang karena sore tadi ia telah menumpahkan air telaga yang dibawa pulang bapaknya untuk mandi dirinya dan adik-adiknya.
Ketika malam mulai beranjak dan serangan nyamuk-nyamuk liar mengusik keteguhannya untuk tidak pulang.
Tanpa ia duga, tiba-tiba datang seorang wanita tua datang untuk duduk-duduk di gubuk kecil, di tepian telaga itu.
Meski anak itu belum mengenali wanita tua itu dengan baik. Tetapi anak kecil itu, sudah mendengar banyak hal tentang wanita tua yang senantiasa menutupi betisnya dengan selembar kain. Tidak jelas kenapa dia harus menutup betisnya dengan kain seperti itu.
Wanita tua itu sungguh misterius dan penuh dengan keanehan. Tak banyak yang tahu dari mana dia berasal.
Ada yang mengatakan dia dulu adalah putri seorang mpu. Keanehan lain yang ada pada wanita tersebut adalah keberadaan selembar kain yang selalu menutup betisnya.
Sebagian orang mengira wanita tua itu tidak pernah mengganti kain penutup betisnya itu. Sedangkan sebagian lagi mengira jika wanita tua itu memiliki persediaan kain khusus untuk dijadikan kain penutup betisnya.
Maka tidaklah mengherankan apabila bentuk kain penutup yang ia kenakan selalu sama, baik corak, warnanya, ukuranya, dan bahkan cara mengikatnya.
Tentang mengapa wanita tua itu selalu menutup betisnya juga ada dua versi, yang pertama menyebutkan, wanita itu menutup betisnya karena ia memiliki luka yang serius.
Sedangkan yang kedua menyebutkan bahwa ia merupakan wanita pinilih atau wanita pilihan.
Maksud wanita pilihan ini adalah wanita yang memiliki anugrah khusus. Dan anugrah yang dimaksud ini adalah anugrah yang pernah dimiliki oleh Ken Dedes, seorang wanita yang memiliki betis bercahaya.
Contoh Cerpen tentang Senja 4
Diantara sekian banyak santri putri yang kukenali namanya. Ada satu nama yang mampu menyita perhatianku. Arinis namanya.
Terdorong rasa suka yang begitu mendalam. Akupun berani untuk menyatakan perasaan sukaku itu kepadanya. Dan rupanya diapun memiliki perasaan yang sama bagiku.
Dia juga menaruh suka padaku dan hal itulah yang menyebabkannya mau menerimaku sebagai kekasihnya.
Seharusnya mendapati kenyataan seperti ini membuatku bahagia. Tetapi hal ini justru membuatku bingung.
Aku tidak tahu bagaimana cara melanjutkan atau mempertahan hubungan ini sampai pada jenjang berikutnya. Aku sadar betul bahwa ini adalah pesantren dan tidak mungkin kami berpacaran di muka umum.
Aku harus mencari jalan lain. Kebetulan semenjak masuk di dalam pesantren itu aku memiliki kegemaran menulis.
Entah darimana datangnya kegiatan yang dulu kubenci itu kini menjadi kugemari. Sesekali aku mengirimkan tulisanku ke media cetak lokal. Suatu ketika pada sebuah senja.
Aku menerima sebuah bukti cetak yang dikirim oleh media cetak yang memuat tulisanku aku mendapati nama yang tidak asing. Ya, di koran yang memuat tulisanku itu juga tertulis nama Arinis.
Begitu tahu akan hal itu, keesokan harinya aku menanyakan kepada Arinis apakah nama itu memang benar namanya.
Arinis pun mengiyakannya. Mulai saat itulah terbuka jalanku untuk terus melanjutkan hubungan percintaanku dengan Arinis. Jalan itu kami namakan jalinan asmara dalam tinta.
“Mas, yakin dengan jalan ini?”
“Mas, sangat yakin. Jika kita ditakdirkan untuk berjodoh, tidak ada yang mampu memisahkan kita.”
“Baiklah, mas. Semoga ini menjadi jalan kita agar kita bisa sampai pada titik tersebut. Dan semoga Allah SWT meridhoi jalan kita ini, ya mas.”
“Ya, semoga saja. Dik.”
Semenjak saat itu aku dan Arinis semakin sering menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan kami ke sejumlah media cetak.
Tulisan-tulisan itu bagi kami adalah wakil kami. Mereka menyatakan kebenaran akan apa yang kami rasakan.
Kegelesihan, kegembiraan, suka, maupun duka semuanya kami tumpahkan semuanya dalam tulisan tersebut. Wakil kami itu kadang berwujud puisi dan kadang cerita pendek.
Melalui tulisan itulah kami mampu mengenal satu sama lain. Meski jarang bertemu langsung cukuplah kami mengenal satu sama lain melalui tulisan tersebut.
Membaca tulisan Arinis seolah mampu menyelami pribadi gadis jelita itu. Begitu pula sebaliknya dengan Arinis.
Melalui tulisanku Arinis juga seolah mengenalku lebih dalam. Saling berbalas tulisan itu terus kami lakukan sampai kami lulus dari pesantren.
Setelah lulus dari pesantren. Kami memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang sah.
Kami tidak menyangka tembok pesantren yang pernah menjadi penghalang bagi kami. Justru melatih kami dan mengajarkan bahwa semua ada waktunya dan butuh proses.
Perjalanan cinta kami ini juga mengajarkan cinta harus dilandasi saling mengerti sekaligus memahami.
Dengan begitu cinta akan menjadi kokoh, sekokoh tembok pembatas yang sempat kubenci.
Halaman:
