Advertisement
Source : Pexels.com/@shubham-sharma-1420648/

7 Contoh Cerpen tentang Senja Terindah Singkat dan Menarik

Apakah kamu sedang mencari contoh cerpen senja terindah singkat dan menarik? Dapatkan inspirasi dari sini.

19 November 2025 Zuly Kristanto

Salah satu cerpen yang banyak diminati pembaca adalah cerpen tentang senja.

Selama ini banyak yang mengira cerpen tentang senja adalah cerpen tentang percintaan.

Padahal selain berisi tentang percintaan, cerpen tentang senja dapat pula berisi tentang kemanusiaan atau pendidikan. 📖😊✨

Ide Cerita Penulis

Contoh Cerpen Tentang Senja Terindah Singkat dan Menarik
Pexels.com/@shubham-sharma-1420648/
Contoh Cerpen Kenangan Manis Kehidupan dalam Bahasa Indonesia Secara Singkat

Salah satu kendala yang sering ditemui penulis ketika akan membuat cerpen adalah menemukan ide cerita.

Mengenai kesulitan mendapatkan ide cerita inilah yang menjadi penyebab terbesar yang sering membuat seseorang mengurungkan niat untuk menulis cerita.

Meski tidak bisa dibilang mudah, tetapi untuk mencari ide cerita bukan sesuau yang mustahil untuk dilakukan. Banyak cara yang dilakukan untuk mencari ide cerita.

15 Contoh Cerpen tentang Diri Sendiri dalam Kehidupan Sehari-hari yang Pernah Dialami Singkat

Selain dapat dengan jalan menonton film atau melakukan sebuah perjalanan. Kadang ide cerita bisa muncul ketika kita membaca karya orang lain.

Dalam artikel ini mamikos menyajikan artikel mengenai contoh cerpen tentang senja terindah singkat dan menarik. Semoga artikel ini dapat membantumu menemukan ide cerita pada cerpen yang akan kamu bikin.

Contoh Cerpen Persahabatan dan Pertemanan Singkat dan Menarik Beserta Strukturnya

Contoh Cerpen tentang Senja 1

Senja mulai tiba. Lampu-lampu taman dan jalan satu per satu mulai menyala.

Ketika itu Gora baru bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Dalam kesempatan itu ai bercerita bahwa selama ini dirinya telah banyak membantu orang tuanya bersih-bersih rumah.

Senja mulai tiba. Lampu-lampu taman dan jalan satu per satu mulai menyala. Ketika itu Gora baru bercerita tentang masalah yang dihadapinya.

Dalam kesempatan itu ai bercerita bahwa selama ini dirinya telah banyak membantu orang tuanya bersih-bersih rumah.

Namun seringkali ia justru dimarahi karena dianggap pemalas. Meski ia sudah bersih-bersih rumah, ia tetap disuruh mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya sudah dilakukannya.

Gora sangat kaget dengan reaksi gurunya. Ia tidak menyangka gurunya akan tersenyum usai mendengar kisahnya.

“Lho, kok tersenyum Pak? Apa ada yang salah dengan cerita saya?” Gora bertanya.

“Tidak, tidak ada yang salah dengan cerita kamu. Justru bapak bangga dengan kamu, Gor. Sebab, kamu telah berani mengatakan kepada bapak tentang masalah yang tengah kamu hadapi itu kepada bapak.”

“Lantas kenapa bapak tersenyum?”

“Bapak tersenyum karena bangga dengan keberanianmu.”

Sesaat kemudian suasana di taman itu kembali lengang. Hingga kemudian Pak Rudi yang duduk di samping Gora memecah keheningan.

“Gor, sekarang kamu lihat burung yang terbang di atas sana!” Dapatkah kamu melihat jejaknya?”

“Tidak, pak. Saya tidak bisa melihat jejak-jejaknya,” jawab Gora.

“Begitulah Gor, tidak semua yang ada di dunia ini harus meninggalkan jejak dan harus diketahui orang lain. Seperti jejak-jejak burung yang terbang tadi. Bisa jadi kamu disuruh untuk mengulangi pekerjaan yang sebenarnya sudah kamu lakukan karena kamu belum sungguh-sungguh mengerjakannya. Sehingga hasilnya kurang memuaskan,” lanjut Pak Rudi.

Rupaya apa yang dikatakan Pak Rudi ada benarnya. Gora pun mengakuinya.

“Benar pak, saya tidak menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan sebaik mungkin. Sebab, saya selalu tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan tersebut.”

“Nah, benarkan? Mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa dan tidak sungguh-sungguh itulah yang menjadi inti dari permasalahan yang sedang kamu hadapi, Gor. Jadi, mulai sekarang janganlah tergesa-gesa dan lakukan semua pekerjaan apapun itu dengan sebaik mungkin. Dengan begitu bapak yakin kamu tidak akan  dimarahi lagi oleh orang tuamu,” terang Pak Rudi.

“Terima kasih atas sarannya, Pak.”

Di senja itu Gora merasa bahagia karena dia merasa mendapat jalan keluar atas masalah yang tengah dihadapi.

Contoh Cerpen tentang Senja 2

“Ah, apakah manusia memang tak boleh berbuat salah?” tanyaku pada angin pada suatu senja.

Angin yang mendengar pertanyaanku senja itu hanya diam. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.

Ia hanya membelai rambutku dengan halusnya. Belaiannya di senja itu membuatku teringat dengan belaian ibuku yang tahun-tahun lalu.

Hidup di perantauan memang tidaklah selalu menyenangkan. Bayang-bayang kampung halaman selalu mampu menciptakan kerinduan tersendiri bagi setiap perantau. Perasaan seperti inilah yang kurasakan.

Aku rasa kenangan kampung halaman memang tidak bisa di beli dengan apapun.

Namun, aku sepenuhnya sadar bahwa inilah jalan hidupku. Hidup jauh dari kampung halaman demi keinginan merubah nasib agar menjadi lebih baik.

Dalam pertemuanku dengan angin di sela-sela senja sembari membaca apa yang tersembunyi dalam sepi.

Aku seolah mendengar sebuah bisikan dari angin yang mengatakan bahwa semua yang hidup di dunia ini tak akan terlepas dari adanya sebuah penilaian.

Pada awalnya aku memang tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya. Akan tetapi setelah senja pergi sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang dikatakan oleh angin senja.

Selepas angin membisikkan kata-kata itu. Aku mencoba meresapi perkataannya.

Ketika angin mulai dingin membasuh kulitku ada aroma wangi bunga melati yang hingga dalam rongga hidungku. Angin senja tiba-tiba berubah menjadi sesosok yang jelita.

Ia menggandheng tanganku dan lalu mengajakku ke sebuah tempat yang belum pernah kudatangi.

Tempat itu sungguh indah dan damai. Di sana ia mengajakku duduk untuk menyaksikan matahari yang turun secara perlahan ke peraduannya.

Dengan tetap memandangi matahari yang tenggelam. Ia berpesan, “Belajarlah dari matahari. Ia tahu kapan saatnya untuk bekerja. Dan tahu kapan saatnya beristirahat.”

Aku tentu saja kebingungan mencerna kata-katanya. Seolah mengerti apa yang tengah kurasakan. Ia melanjutkan kembali kata-katanya.

“Kau terlalu keras dalam bekerja sampai lupa kalau tubuhmu punya hak untuk istirahat. Jangan kau berlebihan dalam mengejar dunia.

Sebab, semakin kau kejar sibuk mengejar dunia. Dunia akan semakin jauh darimu. Demi kesejateraan hidupmu istirahatkan pikiran dan tubuhmu.”

Apa yang dikatakannya tak hanya menyadarkanku. Tetapi juga dihinggapi sebuah pertanyaan yang sampai kini belum kutemui jawabannya.

Halaman:

Advertisement