Contoh Resensi Cerpen, Buku Ilmiah dan Cara Membuatnya dalam Bahasa Indonesia
Membuat resensi sendiri bisa mendatangkan sejumlah manfaat, salah satunya bisa membuat pengetahuan kamu bertambah.
3. Contoh Resensi Buku Cerpen
Lebih tepatnya, contoh kali ini mengenai cerpen yang ada dalam buku antologi. Untuk kasus yang seperti ini, maka cerpen yang diresensikan perlu dituliskan keterangan ada di halaman berapa.
Identitas cerpen juga harus dituliskan dengan jelas seperti contoh-contoh sebelumnya. Berikut lebih lengkapnya.
Identitas Cerpen
Judul : Cinta Adalah Kesunyian
Pengarang : Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : Pusaka Sastra LKiS Yogyakarta
Jumlah Halaman : 164
Halaman yang Diresensikan : 75 – 83
Cetakan Buku : Juli 2009, cetakan ke-IV
Sinopsis Cerpen
Seorang lelaki dewasa bernama Florentino Ariza selalu membayangkan pujaan hatinya yang bernama Fermina Daza. Lelaki ini selalu membayangkan pujaan hatinya selama hidupnya tanpa mau menjalani kehidupannya.
Akhirnya dia sekarang jadi terpuruk oleh rasa cinta sampai-sampai dirinya hidup dalam kesunyian. Sampai suatu kali di dalam perjalanan hidupnya, dia bertemu dengan sosok wanita. Cinta itu berhasil didapatkannya, akan tetapi sayangnya cinta itu hanya sekejap dan akhirnya menghilang begitu saja.
Lelaki bernama Florentino Ariza ini kembali terpuruk dan kembali membayangkan pujaan hatinya sampai-sampai sekarang yang tertinggal hanyalah kesunyian.
Kelebihan dan Kekurangan Cerpen
Apa yang menjadi kelebihan cerpen ini adalah penulis yang menitikberatkan gambaran serta bahasa sastra lama. Bahasanya sangat hidup sehingga pembaca akan dibuat kagum serta lebih terinspirasi.
Apalagi di paragraf-paragraf akhir, sangat akan terlihat bagaimana ciri khas penulis dalam menggambarkan cerita yang bisa berakhir dengan hal apa saja, bukannya harus sedih ataupun senang.
Sedangkan kekurangan cerpen ini adalah ceritanya yang menggambarkan abad 20-an. Abad 20-an ini kemungkinan besar membuat banyak pembaca jadi kesulitan dalam membayangkan masa-masa itu.
Memang ada kemungkinan tidak sedikit pembaca yang akhirnya berhenti setelah di lembar kedua. Sebab, sulit untuk memahami bacaan yang kebahasaannya tinggi di masa kini.

