11+ Contoh Spanduk Jualan Takjil Saat Bulan Ramadan 2026 yang Menarik
Kamu sedang mencari contoh spanduk untuk berjualan takjil ketika bula Ramadan tahun ini? Kami sudah menyiapkan beberapa contohnya untuk kamu jadikan referensi.
Takjil merupakan menu pembuka ketika berbuka puasa. Pada saat bulan Ramadan, takjil sering dikonsumsi ketika adzan telah berkumandang di sore hari.
Namun dengan adanya perkembangan zaman, menu makanan untuk takjil menjadi semakin beragam dengan adanya berbagai jenis menu baru. Bahkan, menu takjil tak selalu berupa jajanan pasar tradisional.
Namun, untuk berjualan dengan mendatangkan banyak pengunjung, kamu juga memerlukan spanduk untuk bisa menarik banyaknya pengunjung. Berikut ini contoh spanduk jualan takjil saat bulan ramadan 2026. 🍱✨🌙
Daftar Isi
Contoh Spanduk Jualan Takjil Saat Bulan Ramadan 2026

1. Langsung Paparkan Menu

Kamu bisa membuat desain spanduk dengan langsung memaparkan menu makanan yang kamu jual untuk takjil. Maka hal itu akan langsung membuat pembeli melihat dan fokus dengan menu takjil yang kamu jual.
2. Gunakan Kata-kata yang Menarik Pembeli

Kamu dapat menggunakan kata-kata yang menarik pada spandukmu agar pembeli dapat semakin tertarik dengan jajanan takjil yang kamu jual.
3. Berikan Harga untuk Menarik Perhatian

Salah satu cara untuk menarik perhatian pembeli adalah dengan memberikan harga yang murah di spandukmu. Maka secara otomatis pembeli akan mengunjungi daganganmu untuk membeli takjil.
4. Paparkan Nama Toko atau Brand

Bila tempat jualanmu bisa diingat orang karena rasanya yang enak, maka kamu bisa menyematkan nama toko atau brand milikimu di spanduk.
Hal ini dapat memudahkan orang untuk menemukan gerai berjualanmu ketika ingin membeli takjil.
Contoh Spanduk Jualan Takjil 5

Contoh Spanduk Jualan Takjil 6

Contoh Spanduk Jualan Takjil 7

Contoh Spanduk Jualan Takjil 8

Contoh Spanduk Jualan Takjil 9

Contoh Spanduk Jualan Takjil 10

Contoh Spanduk Jualan Takjil 11

Contoh Spanduk Jualan Takjil 12

Arti Takjil
Dikutip pada laman milik Muhammadiyah, istilah “takjil” diambil dari sebuah hadis Nabi Muhammad Riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: “Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan (Ajjalu) berbuka”.
Ajjalu yang memiliki arti sebuah turunan atau pergeseran makna dari adanya istilah Arab yaitu ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan yang memiliki arti “momentum”, “tergesa-gesa’, ‘menyegerakan’, atau ‘mempercepat”.
Sedangkan menurut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terdapat dua buah makna untuk dapat mengartikan takjil.
Arti dari takjil pertama menurut pada KBBI adalah “mempercepat dalam berbuka puasa”, sedangkan dalam pengertian yang kedua adalah “makanan untuk berbuka puasa”.
Maka, takjil bisa juga diartikan sebagai “segera untuk berbuka puasa apabila sudah tiba pada waktunya”.
Tujuan dari Takjil
Tujuan utama dari takjil adalah agar dapat bermanfaat secara besar bagi tubuh yang sudah selama lebih dari 12 jam tidak bisa mendapat asupan makanan maupun bentuk cairan.
Jika tidak segera menyegerakan dengan minum air setelah adzan mulai berkumandang, maka dikhawatirkan tubuh akan dapat sakit karena adanya dehidrasi.
Dan juga sangat dianjurkan agar dapat berbuka puasa dengan mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang manis seperti kurma, susu ataupun air.
Namun sayangnya, orang-orang sudah terlanjur menyebut istilah dari takjil ini di luar dari makna yang sesungguhnya.
Dalam bentuk perkembangannya, takjil kini telah dimaknai sebagai bentuk hidangan pembuka saat akan berbuka puasa.
Dan biasanya bentuk makanan ringan yang juga disertai dengan minuman baik minuman manis atau air putih.
Kata dari “takjil” ini akhirnya memang selalu identik dengan makanan, sehingga kurma, gorengan, dan bahkan biji salak pun disebut juga sebagai takjil.
Sejarah dari Tradisi Takjil di Indonesia
Catatan dari Snouck Hurgonje dalam De Atjehers yang telah disusun pada tahun 1891-1892 mengungkapkan, bahwa tradisi takjil ini sudah dikenal dengan lekat oleh masyarakat Aceh pada saat bulan Ramadan kala itu.
Setiap akan jelang waktu untuk berbuka, tulis Snouck Hugronje, warga Aceh akan beramai-ramai dalam bersiap untuk menyantap takjil bersama di masjid, biasanya dengan menu khasnya yang berupa e bu peudah ataupun bubur pedas.
Tak hanya ada di Aceh saja. Muhammadiyah yang telah didirikan di Yogyakarta sejal pada tahun 1912 disebut-sebut juga telah berperan dalam menyebarkan arti takjil sebagai sebuah tradisi yang selalu dilakukan di saat bulan Ramadan.
Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya yang berjudul Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010), menyebutkan bahwasannya Muhammadiyah telah berperan besar dalam penyebaran sebuah tradisi takjil di tanah air.
Ditambahkan juga oleh Abdul Munir Mulkhan, bahwa Muhammadiyah juga mempopulerkan kebiasaan dari mengakhiri sahur menjelang pada waktu subuh dan juga mengadakan acara takjil untuk dapat menyegerakan umat Islam ketika berbuka puasa.
Menu untuk Takjil Buka Puasa
1. Es Pisang Hijau

Ketika sedang berbuka puasa, umat muslim dapat menyegerakan dengan minum terlebih dahulu. Salah satu rekomendasi untuk menu takjil adalah meminum es pisang hijau.
Minuman es pisang hijau ini berasal dari daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Minuman ini juga terdiri dari kukus yang kemudian dibalut dengan kulit dadar hijau, mutiara, sirup, kuah kental, dan juga santan.
Es pisang hijau ini menggunakan tambahan es serut atau bongkahan es. Ketika sedang berbuka puasa, minuman ini akan sangat cocok untuk disantap sebagai makanan pembuka.
Halaman:



