3 Contoh Studi Kasus Piloting PPG Daljab 2024 untuk Guru SD SMP SMA

Laporan studi kasus Piloting PPG Daljab 2024 disusun berdasarkan situasi yang dihadapi langsung oleh guru. Namun, beberapa contoh studi kasus di bawah ini berguna sebagai referensi.

11 Oktober 2024 Asrul A

3 Contoh Studi Kasus Piloting PPG Daljab 2024 untuk Guru SD SMP SMA – Piloting PPG Daljab merupakan program yang khusus dirancang oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi sebagai pengajar professional.

Salah satu tahapan agar dapat lolos pada Piloting PPG Daljab ini yaitu menyelesaikan studi kasus. Studi kasus ini bertujuan memastikan pembelajaran PPG bisa diterapkan di dunia Pendidikan.

Kumpulan Studi Kasus Piloting PPG Daljab 2024

Contoh studi kasus Piloting PPG Daljab 2024
freepik.com/stockking

Pada Piloting PPG Daljab, salah satu komponen penilaian penting pada program ini yaitu hasil dari uraian studi kasus. Tes ini umumnya bertujuan untuk melatih guru dalam menganalisis serta menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kelas, sehingga bisa diterapkan langsung di dunia pendidikan nantinya.

Studi kasus Piloting PPG Daljab 2024 terdiri dari beberapa poin penting yang perlu disusun dan dijelaskan mulai dari deskripsi permasalahan yang dihadapi guru, upaya untuk menyelesaikan masalah, hasil dari upaya, dan pengalaman berharga dari masalah yang dihadapi.

Agar lebih siap menghadapi dan Menyusun studi kasus dengan baik, para guru dapat mempelajari beberapa contoh studi kasus terlebih dahulu. Berikut kumpulan contoh studi kasus Piloting PPG Daljab 2024.

Contoh Studi Kasus untuk Guru SD

Permasalahan yang Dihadapi

Sebagai guru kelas 5 SD, saya pernah menghadapi tantangan saat mengajar materi pecahan dalam pelajaran Matematika.

Banyak siswa mengalami kesulitan memahami konsep dasar pecahan, apalagi ketika melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.

Beberapa siswa tampak kebingungan ketika saya menjelaskan, sementara yang lain terlihat putus asa bahkan sebelum mencoba menyelesaikan soal.

Kondisi ini juga tampak dari aktivitas di kelas. Saat saya meminta siswa untuk mengerjakan soal pecahan di papan tulis, tidak ada yang berani maju. Ketika saya mengadakan diskusi kelas, hanya beberapa siswa yang berpartisipasi, sedangkan yang lainnya lebih memilih diam dan menunggu arahan.

Hal ini tentu mempengaruhi hasil ujian mereka, di mana hanya 50% siswa yang berhasil mencapai nilai di atas KKM (75). Nilai rata-rata kelas juga rendah, hanya 68.

Situasi ini cukup memprihatinkan, karena materi pecahan merupakan konsep penting untuk bisa memahami matematika di jenjang pendidikan selanjutnya.

Close