Contoh Sudut Pandang Orang Pertama, Orang Kedua, Orang Ketiga, dan Campuran dalam Cerpen
Apakah kamu sudah bisa membedakan contoh sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga pada suatu cerpen? Simak contoh-contohnya berikut.
Contoh Sudut Pandang Orang Kedua dalam Cerpen
Cerita pendek yang ditulis menggunakan sudut pandang orang kedua akan memposisikan diri penulis sebagai orang yang berperan sebagai narator.
Jadi, penulis akan menggambarkan cerita menggunakan kata ganti “kamu” sekaligus memperlakukan pembaca sebagai pelaku utama.
Perlu diketahui bahwa saat menulis sudut pandang orang kedua, penulis tidak boleh menyebut kata “aku” agar sudut pandang penceritaan tidak mengalami perubahan.
Contoh Cerpen dengan Sudut Pandang Orang Kedua
Pagi tadi mungkin adalah pagimu yang paling buruk. Semua persiapanmu untuk melamar pekerjaan ternyata harus sia-sia.
Dokumen ketinggalan, ban motor bocor, bekal minum tumpah di pakaian, hingga salah masuk ruangan interview. Sempurna sudah kesialanmu pagi ini.
Tapi, kamu tetap merasa bahagia karena senyuman manis dari pria penjual bunga di depan kantor menyambutmu. Tangannya melambai karena tahu bahwa harimu tidak indah.
Disodorkannya bunga mawar merah padamu, dan kamu gugup menerimanya. Merasa tak layak karena mawar itu jadi tampak lusuh akibat penampilanmu yang acak-acakan.
“Terima saja”, katanya. Dan kamu pun menerimanya dengan senyum terkembang. Kesialan pagi itu ternyata tidak sepenuhnya buruk.
Sekalipun berangkat dengan kesialan, kamu pikir hari itu akan ditutup dengan keberuntungan. Tuhan memang adil. Setelah ada kepayahan, pasti ada penawarnya.
Di depan rumah, tercium bau ayam kalkun. Kamu mengendus-endus asal muasal bau dan kamu pun bahagia karena ternyata ibumu sudah membuatkanmu makanan favorit.
Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga dalam Cerpen
Cerita pendek yang ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga akan memposisikan diri pembaca sebagai orang yang serba tahu.
Seluruh kegiatan tokoh hingga isi pikirannya dapat diketahui pembaca melalui penjabaran kalimat-kalimat.
Contoh Cerpen dengan Sudut Pandang Orang Ketiga
Karia memandang sekelilingnya dengan penuh tanya. Tidak biasanya orang-orang diam, padahal di taman bermain ini tidak ada permainan yang tidak seru.
Semakin ia mengamati, semakin ia penasaran mengapa wajah orang-orang itu pucat pasi, tetapi tubuh mereka menghitam. Sayangnya, tidak dihiraukannya keganjilan itu.
Karia justru mendatangi seorang penjual es krim dan menyodorkan selembar uang seribuan dari kantongnya, “Murah sekali,” pikirnya.
Tapi, ternyata ia mendapatkan es krim zaman dulu seperti yang ada di foto sang nenek, “es krim jadul, ya, Pak?” tanyanya tapi tak digubris.
Pembeli es krim yang lain pun turut mengantre di belakangnya tanpa suara. Masing-masing dari mereka menyodorkan uang, kemudian menerima es krim dan berbalik ke belakang.
Karia memutuskan untuk duduk di depan bianglala. Ia masih berpikir akan mencoba jenis wahana apa sebelum pulang ke rumah.
Sebenarnya ia sangat senang berada di sana, seperti menemukan harta karun. Sebab, tidak ada yang memberitahunya bahwa di lapangan dekat rumah ada pasar malam.
Ia mendongak ke arah bianglala. Suara sarang burung yang berdecit karena besi tuanya saling berbenturan tidak dapat terelakkan. Akhirnya ia mengurungkan niat untuk menaikinya.
“Aku akan kembali sambil mengajak mama,” ujarnya. Karia kemudian mengeluarkan sepedanya dari area parkir pasar malam. Penasaran dengan nama pasar malam, ia menoleh.
Betapa terkejutnya Karia karena pasar malam yang tadinya ramai mendadak sepi dan porak poranda dengan bekas tenda dan berbagai peralatan yang terbakar api.
Halaman:

