Advertisement
Source : Canva/Oliver Cole

4 Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu dan Pengamat dalam Cerpen beserta Ciri-cirinya

Dalam artikel kali ini, Mamikos akan mengulas mengenai sudut pandang orang ketiga serba tahu dan pengamat. Baca info selengkapnya berikut ini.

19 November 2025 Bella Carla

2. Sudut Pandang Orang Ketiga Pengamat

Jenis sudut pandang yang satu ini meletakkan penulis di luar karakter, dan penulis sebagai pencerita tidak mengetahui isi hati atau pikiran sang tokoh.

Jenis sudut pandang yang satu ini biasanya digunakan saat penulis ingin menciptakan kisah misterius agar dapat membuat pembaca merasa penasaran.

1. Rumah yang Tidak Lagi Rumah

Amelia masih saja berpikir. Dia masih menghitung-hitung hari di kalender. Dia masih belum bisa menentukan hari apa dia akan pergi dari sana.

Pergi dari rumah yang telah membuatnya terluka. Rumah yang kini hanyalah sebuah kata benda, dan bukan lagi kata sifat. Rumah yang hanya berupa bangunan, yang tak ada kehangatan di dalamnya.

Sudah bertahun-tahun Amelia menjadi korban kekerasan orangtuanya.

Tanpa tendeng aling-aling, Amelia selalu dipukul dan dibentak ayah-ibunya tanpa mempunyai slaah sedikit pun.

Anehnya, setiap mereka menyiksa Amelia, keduanya selalu saja berkata, “maafkan kami, nak. Maafkan kami yang tak bisa mengendalikan emosi kami.”

Amelia bingung. Apakah dia harus mendendam kepada keduanya. Atau, memaafkan mereka dengan selapang-lapangnya dada.

Yang Amelia tahu saat ini adalah dia harus pergi dari rumah yang terkutuk ini.

Dan untuk pergi dari sini, dia harus menemukan waktu dan tempat yang tepat.

Akhirnya rencana itu pun tiba. Amelia pun akhirnya memutuskan untuk pergi di sore hari, saat kedua orangtuanya bekerja.

Dia pun menjadikan Rumah Alya sebagai tempat pelariannya. Dengan tas yang berisi pakaian dan makanan, dan pipinya yang bonyok akibat dipukuli ayahnya tadi pagi, dia pun bergegas ke rumah sahabatnya itu.

Di sana, dia mencurahkan segala sakit hatinya pada sahabatnya itu. Tak terhitung lagi air mata yang menetas dari matanya.

Dia tahu bahwa sahabatnya tak akan bisa menyembuhkan lukanya. Lagian, dia juga tak memaksa.

Dia hanya ingin berbagi kegelisahannya. Dia hanya ingin mencari tempat pelarian dari kebiadaban ayah-ibunya.

Sehabis bercerita kepada sahabatnya, dia pun kelelahan dan tidur di ranjang milik sahabatnya itu.

Dalam tidurnya, dia tengah bermimpi. Dalam mimpinya, dia berada di dalam suatu telaga. Telaga yang bersih airnya dan sejuk udaranya. Di telaga itu, muncul sosok wanita yang tak dikenal olehnya.

“Jangan bersedih, suatu hari bahagia ‘kan menghampirimu,” ujar perempuan misterius itu. Kemudian, Amelia pun terbangun dari tidurnya itu.

Halaman:

Advertisement