Advertisement
Source : Pexels/@Amina Filkins

Kumpulan Contoh Teks Anekdot tentang Pendidikan Singkat Lucu dan Menarik

Kalau kamu ingin membuat teks anekdot di bidang pendidikan, cermati contoh teks anekdot tentang pendidikan singkat di bawah ini, ya.

25 Agustus 2024 Ririn

7. Contoh Teks Anekdot tentang Pekerjaan Impian

Di sebuah kelas di sekolah menengah, Bu Lestari sedang memberi pelajaran tentang pekerjaan impian.

“Ani, apa cita-cita kamu nanti setelah lulus?” tanya Bu Lestari.

“Bu, saya ingin menjadi pilot,” jawab Ani dengan penuh semangat.

Seorang teman laki-laki di belakangnya, Budi, tertawa, “Pilot? Bukannya perempuan lebih cocok jadi pramugari?”

Tanpa berpikir panjang, Ani balas, “Oke, Budi. Nanti kalau saya jadi pilot, kamu bisa jadi pramugara di pesawat saya. Saya akan pastikan kamu selalu sibuk melayani penumpang!”

8. Contoh Teks Anekdot tentang Putus Sekolah

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Arif sedang asik bermain catur dengan temannya, Bayu. Kedua anak muda ini dikenal sebagai anak-anak yang putus sekolah di kampungnya.

“Yow, Arif! Kamu dengar nggak berita terbaru? Pemerintah bilang pendidikan di Indonesia sudah merata loh,” kata Bayu sambil bergerak memainkan bidak catur.

Arif yang sedang memikirkan langkah berikutnya, tertawa, “Benarkah? Mungkin maksud mereka, kita semua merata punya kesempatan buat putus sekolah ya?”

Bayu tertawa keras, “Iya, bener juga! Mereka memang juara bikin kita merasa sama-sama spesial!”

35 Contoh Soal Anekdot beserta Jawabannya PG dan Essay

9. Contoh Teks Anekdot tentang Administrasi

Di sebuah sekolah di pinggiran kota, Pak Arman, seorang guru yang sangat berdedikasi, dikenal sebagai guru yang selalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan administratif.

Dari pagi hingga sore, ia selalu terlihat sibuk mengurusi berbagai macam formulir, laporan, dan administrasi lainnya yang tak kunjung habis.

Suatu hari, saat jam istirahat, seorang siswa datang kepada Pak Arman yang tengah sibuk mengurusi tumpukan kertas di meja gurunya.

Dengan ragu-ragu, siswa itu berkata, “Pak, saya ingin bertanya tentang materi yang diajarkan kemarin, saya masih belum mengerti.”

Pak Arman menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap muridnya dengan sedih, dan menghela napas panjang. Pria itu lalu tersenyum simpul.

“Lihatlah, tugas administratif ini sudah menunggu dan seolah-olah lebih penting dari mendidik kalian. Kita harus memastikan semua kertas ini rapi sehingga kita dapat memberikan pendidikan berkualitas tinggi!”

Siswa itu pun hanya bisa terdiam, mengangguk-angguk, sebelum pergi dengan kepala tertunduk. Sedangkan Pak Arman kembali duduk.

Dia menghadapi tumpukan kertas yang seolah tidak pernah berkurang, seraya bertanya-tanya kapan ia bisa kembali benar-benar mengajar seperti seharusnya.

Halaman:

Advertisement