Ringkasan Konflik Sosial Lampung dan Bali Penyebab dan Penyelesaiannya
Sudah tahu informasi tentang konflik sosial Lampung dan Bali yang terjadi tahun 2012? Simak ringkasan konflik beserta penyelesaiannya berikut ini.
Ringkasan Konflik Sosial Lampung Bali 2012
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pemicu konflik sosial yang terjadi di Lampung adalah dugaan adanya pelecehan yang dilakukan pemuda dari Bali kepada perempuan di Lampung.
Terdapat penelitian yang mengulas tentang konflik tersebut dengan sumber data wawancara dan literatur yang relevan.
Kedatangan masyarakat Bali di Lampung melalui program transmigrasi sudah dilakukan sejak tahun 1960.
Masyarakat pendatang tersebut kemudian berbaur dengan masyarakat lokal hingga mendirikan perkampungan seperti Balinuraga, Baliagung, Balinapal, Sidoreno, Palas, dan Sidomakmur.
Adapun konflik yang terjadi pada konflik sosial Lampung Bali melibatkan Desa Balinuraga dan Desa Agom.
Kronologis terjadinya konflik dari sudut pandang Etnik Lampung dimulai dari dua perempuan yang berasal dari Desa Agom dan Desa Negeri Pandan yang diganggu saat jalan-jalan sore.
Korban menuturkan bahwa pemuda dari Desa Balinuraga mengganggu dengan memegang paha keduanya saat mengendarai motor sehingga keduanya terjatuh.

Advertisement
Tidak hanya itu, mereka juga dilecehkan hingga keduanya dibawa ke rumah sakit.
Pernyataan yang bertentangan diungkapkan dari pihak Etnik Balinuraga.
Dikatakan bahwa terdapat pemuda Bali yang ingin mengejar perempuan dari etnik Lampung untuk berkenalan, kemudian kendaraan keduanya terjatuh.
Saat pemuda dari Bali bermaksud menolong dengan mengangkatnya dan membawa ke rumah sakit, kedua perempuan tadi malah berteriak bahwa mereka mengalami pelecehan seksual.
Perbedaan informasi tersebut menimbulkan tanda tanya. Namun, penuturan yang sama seperti yang diutarakan oleh pihak perempuan didapatkan dari saksi sekitar.
Pada tanggal 27 oktober 2012, bentrokan antara kedua etnik akhirnya tidak terelakkan. Massa yang tidak terima adanya pelecehan seksual kemudian mendatangi lokasi etnik Bali di Desa Balinuraga.
Namun, kondisi Desa Balinuraga gelap gulita karena tidak ada penerangan dan kedatangan etnik Lampung tersebut disambut dengan lemparan batu dan tembakan dari senapan angin.
Kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu tersebut akhirnya membuat etnik Lampung kembali ke Desa Agom untuk membahas rencana selanjutnya.
Konflik masih berlanjut hingga 28 oktober 2012 dengan jumlah massa marah yang lebih banyak hingga mencapai 20 ribu orang. Bentrokan besar akhirnya terjadi hingga mengakibatkan tiga orang meninggal dunia.
Pada tanggal 29 Oktober 2012, penyerangan ke Desa Balinuraga kembali dilakukan namun secara sembunyi-sembunyi.
Etnik Lampung yang jumlahnya mencapai 30 ribu orang berhasil menyusup ke Desa Balinuraga melalui kebun dan sawah karena jalan utama sudah diblokade oleh aparat.
Penyerangan tanggal 29 tersebut membuat jatuhnya korban hingga rumah-rumah yang terbakar.
Selain itu, korban meninggal dunia juga datang dari etnik Bali dan etnik Lampung. Konflik antara kedua etnik baru dapat diselesaikan setelah keduanya menandatangani perjanjian.