38 Macam Pakaian Adat beserta Nama, Gambar, dan Asalnya di Provinsi Indonesia
Indonesia kaya akan berbagai macam pakaian adat. Di artikel Mamikos ini, ada penjelasan nama, gambar dan asalnya dari provinsi di seluruh Indonesia.
27. Laku Tepu (Sulawesi Utara)

Laku tepu merupakan pakaian adat Sulawesi Utara khas suku Sangihe yang dikenakan oleh laki-laki dan perempuan. Ciri khas dari busana ini adalah dari bentuknya yang berupa terusan panjang.
Baju yang dipakai pria akan mencapai lutut dan telapak kaki, serta dilengkapi dengan ikat kepala bernama paporong.
28. Babu Nggawi (Sulawesi Tenggara)

Babu Nggawi adalah pakaian adat Indonesia asal Sulawesi Tenggara, khususnya dari Suku Tolaki.
Busana tradisional ini sering dipakai dalam upacara adat atau upacara resmi misalnya pernikahan ataupun acara resmi lainnya.
Pakaian Babu Nggawi ini dari atasan yang sering disebut Lipa Hinoru. Sementara untuk bawahannya mengenakan Roo Mendaa dengan bentuk rok panjang hingga mata kaki.
Warna Lipa Hinoru selalu disesuaikan dengan warna Roo Mendaa. Contohnya jika mengenakan Lipa Hinoru berwarna merah, maka Roo Mendaanya juga akan berwarna merah.
29. Baju Bodo (Sulawesi Selatan)

Baju Bodo merupakan busana tradisional perempuan Suku Makassar, Sulawesi. Baju Bodo juga dikenal sebagai salah satu busana tertua yang ada di dunia.
Pakaian adat Sulawesi Selatan ini memiliki bentuk segi empat, dan biasanya berlengan pendek. Pakaian ini umumnya dipakai untuk acara adat dan resmi seperti upacara pernikahan.
Tetapi di masa kini, Baju Bodo mulai direvitalisasi melalui acara lain seperti lomba menari atau menyambut tamu agung dan penting.
30. Biliu dan Makuta (Gorontalo)

Mukuta dan Biliu adalah sepasang busana adat Gorontalo yang pada dasarnya hanya dipakai saat ada upacara pernikahan. Mukuta dan Biliu memiliki nuansa sentuhan keagamaan khususnya Islam.
Pakaian Biliu atau pakaian adat untuk perempuan Gorontalo ini memiliki banyak sekali aksesoris berupa hiasan pernak-pernik.
Hal itu membuat perempuan Gorontalo yang mengenakan pakaian adat tersebut terlihat sangat glamor dan tetap memesona.
Berbeda dengan pakaian adat perempuan yang mengenakan banyak aksesoris, pakaian Mukuta jauh lebih simpel. Hanya terdapat 3 aksesoris saja yang dikenakan oleh laki-laki atau pengantin pria.
31. Cele (Maluku)

Baju Cele merupakan kain kebaya yang dikombinasikan dengan kain salele di pinggang. Motif baju ini dapat berupa garis-garis geometris atau kotak-kotak kecil.
Umumnya busana adat khas Maluku ini memiliki corak warna merah dan memiliki nilai keceriaan, berani, dan cekatan.
32. Manteren Lamo (Maluku Utara)

Menurut sejarah, konon pakaian adat ini dikenakan oleh para sultan kerajaan di Maluku Utara. Secara visual, bentuk dan bagian dari Manteren Lamo ini terdiri dari jas warna merah dengan bordir emas di tepiannya.
33. Ewer (Papua Barat)

Nama busana adat Indonesia bagian Papua Barat ini disebut sebagai pakaian adat Ewer. Pakaian ini murni terbuat dari bahan-bahan alami seperti jerami yang dikeringkan.
Dengan kemajuan dan adanya pengaruh modernisasi, pakaian adat satu ini kemudian dilengkapi dengan kain di bagian atasan.
34. Koteka (Papua)

Koteka adalah bagian dari pakaian adat Papua yang fungsinya untuk menutupi kemaluan penduduk pria Papua. Sementara untuk bagian tubuh lain dibiarkan terbuka.
Koteka memiliki makna yang secara harfiah berarti pakaian. Koteka juga dikenal dengan istilah horim atau bobbe.
35. Pummi (Provinsi Papua Selatan)

Pakaian adat Pummi adalah rok mini yang terbuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja sehingga terurai di sekeliling pinggul dan paha pemakainya.
Lazimnya, Pummi ini dipakai oleh laki-laki. Untuk perempuan akan memakai Tok yang adalah cawat atau celana dalam.
Tok ini merupakan Pummi yang terdapat rumbai-rumbai di bagian depan yang dikumpulkan kemudian ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat.
36. Yokal (Papua Tengah)

Pakaian adat dari Provinsi Papua Tengah dikenal dengan nama Yokal, yang berasal dari suku Mee dan Dani. Busana ini mencerminkan kesederhanaan dan keanggunan masyarakat pegunungan tengah Papua.
Untuk laki-laki, pakaian adatnya menyerupai koteka namun berukuran lebih kecil dan sering dipadukan dengan hiasan kepala dari bulu kasuari, gelang rotan, serta kalung dari taring babi.
Sementara itu, perempuan mengenakan rok rumbai yang dibuat dari serat kulit pohon atau daun sagu kering, serta membawa noken, tas tradisional yang melambangkan peran penting perempuan dalam keluarga dan budaya.
37. Holim (Papua Pegunungan)

Dari Provinsi Papua Pegunungan, terdapat pakaian adat bernama Holim, yang biasanya dikenakan oleh suku Dani, Lani, dan Yali. Holim adalah pakaian tradisional laki-laki berupa penutup tubuh dari labu kering yang dibentuk memanjang.
Untuk perempuan, mereka memakai rok rumbai dari serat tumbuhan, serta hiasan kepala dari bulu burung cenderawasih atau kasuari, yang menandakan status sosial dan keindahan.
Selain itu, mereka juga mengenakan lukisan tubuh dari tanah liat dan arang, yang berfungsi sebagai simbol perlindungan dan keberanian.
38. Ewer Tehit (Papua Barat Daya)

Pakaian adat dari Provinsi Papua Barat Daya disebut Ewer Tehit, berasal dari suku Tehit yang mendiami wilayah Sorong Selatan dan sekitarnya.
Busana adat ini terbuat dari bahan alami seperti serat pohon dan daun sagu yang dikeringkan, lalu disusun menjadi rok rumbai.
Laki-laki mengenakan penutup kepala dari bulu burung tropis, kalung dari gigi hewan, serta lukisan tubuh yang dibuat dari tanah liat.
Perempuan memakai hiasan dada dari kulit kerang dan gelang dari biji-bijian.
Demikian uraian macam pakaian adat beserta nama, gambar, dan asalnya yang dapat Mamikos sampaikan di kesempatan kali ini. 😊✨
Mamikos harap apa yang sudah kamu baca pada bahasan macam pakaian adat beserta nama, gambar, dan asalnya di atas dapat menginspirasi dan memperkaya wawasan kamu.
Halaman:

