Advertisement
Source : forbes.com

Ringkasan Cerita Fabel Kucing dan Tikus beserta Struktur dan Pesan Moralnya

Kamu pasti sudah tidak asing dengan kisah Kucing dan Tikus. Berikut adalah ringkasan sekaligus penjelasan tentang struktur cerita fabel.

30 November 2025 Sekarbumi

Pernahkah kamu mendengar cerita fabel tentang Kucing dan Tikus?

Jika belum pernah, Mamikos akan memberikan ringkasannya dalam artikel kali ini.

Eits, tenang saja. Ringkasan cerita fabel Kucing dan Tikus ini akan disertai dengan penjelasan lengkap mengenai struktur cerita dan pesan moralnya. 📖🐭🐱✨

Pengertian Cerita Fabel

Ringkasan Cerita Fabel Kucing dan Tikus
forbes.com
5 Jenis-Jenis Teks Cerita Inspiratif beserta Penjelasannya Lengkap

Cerita fabel adalah kisah-kisah fiksi yang tokoh-tokoh utamanya adalah hewan-hewan. Tapi, yang membuat cerita ini unik adalah tokoh-tokoh hewan dalam cerita ini memiliki sifat dan perilaku layaknya manusia.

Para hewan tersebut akan saling berinteraksi layaknya manusia. Biasanya, kisah-kisah mereka akan berkisar seputar moral dan perilaku.

Itu sebabnya kisah-kisah fabel kerap memiliki pesan amanat yang terkandung di dalamnya. Sangat cocok untuk mengajarkan anak-anak tentang moral.

Contoh Sinopsis Film Pendek Tentang Persahabatan yang Menarik

Ringkasan Cerita Fabel Kucing dan Tikus

Suatu hari, seekor tikus menyelinap masuk ke dalam rumah milik petani. Di dalam rumah yang besar dan hangat itu, Ia bertemu seekor Kucing.

Inilah 11 Situs Download Buku Gratis dan Legal

Tikus sudah hendak kabur saat si Kucing berbicara, “Jangan takut. Kau bisa tinggal di sini bersamaku.”

Si Tikus ragu-ragu sejenak. Si Kucing melontarkan seulas senyum ramah dan hal itu membuat Tikus merasa tenang. Ia pun menerima tawaran tersebut.

“Terima kasih sudah membiarkanku tinggal di sini.”

“Tidak masalah. Kami punya banyak persediaan makanan di gudang untuk musim dingin. Kau akan baik-baik saja di sini.”

“Baiklah. Terima kasih, Kucing!”

Tikus gembira sekali mendengar hal tersebut. Ia pun bergegas mencari sudut terhangat dan ternyaman di dalam rumah untuk dijadikan tempat tidur sekaligus bersembunyi.

Beberapa minggu berlalu dengan baik. Tikus tidak pernah muncul di hadapan si Petani. Ia pergi mencari makan sendiri saat pagi dan malam hari. Pada siang hari, saat si Petani pergi ke ladang, Tikus akan menghabiskan waktu dengan Kucing.

Suatu siang, Kucing menghampiri Tikus dan berkata, “Hai, Tikus. Aku akan pergi menjenguk keponakanku yang baru lahir. Jagalah rumah selama aku pergi.”

“Baiklah, Kucing.”

Kucing pun pergi meninggalkan Tikus di dalam rumah seorang diri. Ia baru kembali saat malam sudah sangat larut.

Tikus yang sedang makan malam segera menyapa si Kucing. “Hai, Kucing! Bagaimana keadaan keponakanmu?”

“Ah … dia baik-baik saja kok.”

Tikus mengangguk lalu kembali asyik menyantap makan malam.

Dua hari kemudian, Kucing kembali menghampiri Tikus yang sedang bersiap hendak pergi mencari makan.

“Hai, Tikus. Tolong jagalah rumah. Karena aku hendak pergi.”

“Tapi aku ingin mencari makan.”

“Nanti akan ku carikan. Kau jaga saja rumah di sini.”

Awalnya, Tikus tidak mau. Tapi pada akhirnya ia setuju saja dan berdiam diri di sudut rumah dengan perut keroncongan.

Kucing baru kembali saat malam sudah larut. Ia membawa sepotong roti kering untuk Tikus.

Karena sudah sangat lapar, Tikus tidak banyak protes dan segera menghabiskan roti itu.

“Terima kasih, Kucing. Ke mana kau pergi seharian ini?”

“Aku menjenguk keponakanku yang lain.”

Tikus tidak merasa curiga sama sekali dan asyik menghabiskan makanannya. Sementara itu, Kucing tidak memberi penjelasan lagi dan langsung pergi tidur.

Minggu berikutnya, Kucing meminta Tikus untuk menjaga rumah lagi. Kali ini, Tikus sudah mempersiapkan makanan yang cukup sehingga Ia tidak keberatan harus menjaga rumah hingga larut malam.

Tapi, kali ini Kucing pulang sebelum matahari terbenam.

“Tumben sekali kau pulang cepat, Kucing.”

Belum sempat Kucing menyahut, tiba-tiba terdengar seruan penuh amarah dari bagian belakang rumah.

Tak lama kemudian, muncul Petani bertubuh besar sambil memegang sebuah sapu. Dengan mata melotot, Petani itu mulai membongkar seluruh rumah.

Tikus bersembunyi dengan tubuh gemetar ketakutan. Si Petani akhirnya tiba di sudut tempatnya bersembunyi selama ini.

“Nah! Ketemu kau tikus nakal!” seru si Petani marah. “Kau sudah memakan habis seluruh persediaan makananku untuk musim dingin! Dasar nakal! Pergi kau! Pergi!”

Petani itu mengayunkan sapu ke tubuh Tikus, membuatnya terpental jauh.

“Ta-tapi, aku tidak memakan makananmu,” cicit Tikus sambil mengelak dari sabetan sapu.

Tapi si Petani terus mendesaknya hingga keluar rumah. Sebelum pintu tertutup, Tikus melihat Kucing yang menyeringai di balik punggung Petani.

Saat itulah Tikus menyadari bahwa selama ini Kucing sudah membohonginya. Ialah yang menghabiskan persediaan makanan si Petani.

Tikus benar-benar kesal. Tapi semuanya sudah terlambat dan Tikus pun akhirnya pergi meninggalkan rumah itu selamanya.

Halaman:

Advertisement