Advertisement
Source : Pexels/@Piotr Arnoldes

7 Cerita Hikayat Abu Nawas yang Seru dan Menarik Secara Singkat

Baca kisah menarik unik mengenai Abu Nawas di artikel ini, yuk!

27 November 2025 Ririn

Cerita Hikayat Abu Nawas 4: Abu Nawas dan Sayembara Raja

Pada suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid mengadakan sayembara. Dia menaruh sebuah labu yang besar di tengah-tengah istananya dan meminta para hadirin untuk mengisinya dengan apa pun yang mereka inginkan.

Yang penting, labu tersebut harus terisi penuh. Para hadirin bingung, karena ukuran labu tersebut sangat besar.

Seorang demi seorang mencoba. Ada yang mencoba mengisi dengan beras, ada juga yang dengan kain. Namun, semuanya gagal karena tidak cukup untuk mengisi labu yang sangat besar tersebut. Khalifah Harun Al-Rasyid mulai merasa tidak sabar dan hampir membatalkan sayembara tersebut.

Tiba-tiba, Abu Nawas muncul dengan langkah gembira. Dengan santai, dia mendekati labu tersebut sambil membawa selembar kertas kecil.

Semua orang di istana tersebut bertanya-tanya, bagaimana mungkin selembar kertas kecil bisa mengisi labu yang begitu besar?

Abu Nawas kemudian melipat kertas tersebut menjadi bentuk burung, dan diletakannya di dalam labu. “Sudah terisi penuh, Tuan!” kata Abu Nawas dengan senyum cerdiknya.

Semua orang di istana itu terheran-heran. Mereka memprotes, mengatakan bahwa labu itu jelas-jelas masih kosong. Namun, Abu Nawas dengan tenang menjelaskan, “Labu ini sekarang sudah terisi penuh dengan kertas burung, udara di dalam labu, dan kekaguman kalian semua!”

Khalifah Harun Al-Rasyid pun tertawa terbahak-bahak. Dia mengakui kecerdasan Abu Nawas dan memberinya hadiah yang sangat besar. Kembali, Abu Nawas membuktikan kecerdasannya yang tiada tara.

7 Contoh Teks Hikayat Singkat beserta Struktur dengan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya

Cerita Hikayat Abu Nawas 5: Abu Nawas dan Khalifah Harun Al-Rasyid

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Khalifah Harun Al-Rasyid mengundang Abu Nawas ke istana dan memberikan kepadanya sebuah tantangan.

“Abu Nawas,” katanya. “Aku ingin kamu membawa sesuatu yang bisa membuat aku senang saat aku sedih, dan membuat aku sedih saat aku senang.”

Abu Nawas menanggapi tantangan ini dengan tenang. Dia berpikir sejenak, lalu pergi dari istana untuk mempersiapkan jawabannya. Keesokan harinya, Abu Nawas kembali ke istana dengan membawa sebuah bingkai cermin kecil.

Khalifah Harun Al-Rasyid bingung melihat benda yang dibawa Abu Nawas. “Apa ini, Abu Nawas?” tanyanya.

“Inilah jawabannya, Tuanku,” jawab Abu Nawas sambil menyerahkan cermin kecil itu kepada Khalifah Harun Al-Rasyid.

Khalifah Harun Al-Rasyid mengambil cermin itu dan melihat wajahnya sendiri di dalamnya.

Abu Nawas lalu menjelaskan, “Ketika Tuanku merasa sedih, lihatlah ke dalam cermin ini, dan Tuanku akan melihat betapa berharganya diri Tuanku, yang akan membuat Tuanku senang,”katanya.

“Namun, ketika Tuanku merasa senang, lihatlah lagi ke dalam cermin ini, dan Tuanku akan disadarkan bahwa, tak peduli seberapa bahagia Tuanku, akhirnya Tuanku tetap manusia biasa,”kata Abu Nawas lagi.

Khalifah Harun Al-Rasyid sangat terkesan dengan kecerdikan Abu Nawas. Dia menyadari bahwa Abu Nawas telah berhasil memenuhi tantangannya dengan cara yang sangat cerdas dan unik.

Khalifah Harun Al-Rasyid lalu memberikan hadiah kepada Abu Nawas sebagai tanda penghargaan atas kecerdikan dan kearifannya.

Cerita Hikayat Abu Nawas 6: Abu Nawas dan Timbangan Emas

Pada suatu hari, seorang pedagang kaya namun kikir datang ke kota Baghdad. Ia membawa sejumlah besar emas untuk ditukar dengan barang-barang lainnya.

Pedagang itu dikenal sebagai orang yang selalu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dan tidak pernah mempercayai siapa pun. Pedagang itu meminta Abu Nawas untuk membantunya menemukan timbangan yang dapat diandalkan untuk menimbang emasnya.

Ia tahu Abu Nawas adalah orang yang cerdik dan memiliki banyak koneksi di kota. Tetapi ia juga mendengar cerita tentang betapa liciknya Abu Nawas, jadi ia merasa waspada.

Abu Nawas menerima tugas itu dengan senang hati. Ia membawa pedagang itu ke sebuah toko alat timbang dan meminta pemilik toko untuk menunjukkan timbangan terbaiknya.

Setelah memeriksa berbagai timbangan, pedagang itu tetap tidak puas. Ia curiga bahwa semua timbangan itu telah disabotase untuk menipunya.

Melihat kekhawatiran pedagang itu, Abu Nawas mendapatkan ide jenius. Ia menyuruh pedagang itu menimbang batu seberat satu pon dengan salah satu timbangan. Kemudian, ia menyarankan agar batu tersebut dibawa ke toko emas dan ditimbang kembali dengan emas seberat satu pon.

Pedagang itu melakukan apa yang disarankan Abu Nawas. Hasilnya, berat batu dan emas ternyata sama, sehingga menunjukkan bahwa timbangan di toko alat timbang adalah akurat.

Pedagang itu akhirnya puas dan memberi Abu Nawas hadiah untuk bantuannya. Namun, ia tidak pernah menyadari bahwa itu semua adalah akal cerdik Abu Nawas untuk membuatnya percaya pada timbangan di toko.

Cerita Hikayat Abu Nawas 7: Kisah Abu Nawas dan Ikan Mas

Pada suatu hari, khalifah Harun Al-Rashid ingin makan ikan mas yang segar. Ia memanggil Abu Nawas dan berkata, “Abu Nawas, aku ingin kau menangkap ikan mas untukku. Ingat, ikan itu harus segar, dan aku ingin memakannya besok.”

Abu Nawas yang dikenal cerdik punya rencana. Ia tahu bahwa menangkap ikan mas bisa memakan waktu yang lama dan tidak ada jaminan ia akan menangkapnya. Jadi, ia pergi ke pasar dan membeli ikan mas segar yang baru ditangkap oleh nelayan.

Keesokan harinya, Abu Nawas pergi ke sungai bersama dengan pembantu khalifah. Ia masuk ke dalam air sambil membawa ikan mas yang telah dibelinya, dan pura-pura menangkapnya di depan pembantu khalifah tersebut.

Pembantu khalifah tersebut sangat terkesan dan memberitahu khalifah bahwa Abu Nawas berhasil menangkap ikan mas dalam waktu singkat. Khalifah pun senang dan memuji keahlian Abu Nawas.

Tetapi ketika Abu Nawas hendak pergi, khalifah berkata, “Abu Nawas, aku tahu apa yang kau lakukan. Aku melihat bahwa ikan mas itu tidak bergerak ketika kau ‘menangkapnya’. Kau cerdik, tetapi ingat, jangan pernah mencoba menipu aku lagi.”

Abu Nawas hanya tersenyum dan memberi hormat pada khalifah, lalu pergi dengan hati yang gembira karena ia berhasil menyelesaikan tugas dengan cara yang cerdik.

Halaman:

Advertisement