Source : kompas.id

7 Cerpen Karya Putu Wijaya Berbagai Judul dan Sinopsisnya

Siapa yang tidak mengenal Putu Wijaya? Seorang sastrawan besar yang sudah melahirkan berbagai karya hebat. Yuk, kenali beberapa judul cerpennya!

22 September 2026 Lintang Filia
Ringkasan Artikel
  • Putu Wijaya adalah sastrawan Indonesia dari Bali yang produktif (cerpen, novel, drama, skenario), dikenal dengan gaya unik berfokus pada realitas sosial dan konflik psikologis; karyanya banyak dimuat di media nasional seperti Kompas dan mendapat penghargaan (mis. Ubud Writer Festival).
  • Beberapa cerpen terkenal dan tema utamanya: "Malu" (ketidakadilan, stigma, martabat), "Maling" (prasangka, rasa malu, kebutuhan ekonomi), "Laila" (tekanan sosial dan pencarian kebebasan), "Laki‑Laki Sejati" (makna tanggung jawab), "Guru" (panggilan vs materi), "Bersiap Kecewa…" (kesepian, kejujuran), dan "Semar" (perlunya perdamaian).
  • Saat membaca sinopsis cerpen Putu Wijaya, perhatikan bukan hanya alur tetapi juga konflik utama, karakter, dan persoalan moral/sosial yang diangkat untuk menangkap makna lebih dalam setiap cerita.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

I Gusti Ngurah Putu Wijaya merupakan sastrawan Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Putu Wijaya dan telah menghasilkan berbagai karya sastra.

Karyanya yang berupa cerpen, novel, drama, hingga skenario film dikenal memiliki gaya tulisan yang unik bertema realitas sosial dan konflik psikologis. Oleh sebab itu, Putu Wijaya bahkan telah banyak mendapatkan penghargaan, salah satunya dari Ubud Writer Festival.

Dari banyaknya tulisan yang telah sastrawan asal Bali tersebut hasilkan, khusus kali ini Mamikos akan mengajak kamu untuk mengenal beberapa cerpen karya Putu Wijaya melalui sinopsis di artikel ini.

Daftar Sinopsis Cerpen Karya Putu Wijaya

cerpen karya Putu Wijaya
kompas.id

Cerpen-cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya sebagian besar telah banyak dimuat di Harian Kompas atau surat kabar nasional lainnya. Sebenarnya, terdapat banyak sekali cerpen Putu Wijaya yang telah diterbitkan, lho.

Di antaranya yang paling terkenal seperti Semar, Malu, atau Maling yang kerap menjadi bahan kajian ilmu sastra maupun skripsi para mahasiswa.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membaca Sinopsis Cerpen Putu Wijaya

Sinopsis cerpen sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai ringkasan jalan cerita. Kamu juga bisa memperhatikan konflik utama, karakter tokoh, dan persoalan yang diangkat dalam cerita. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah memahami maksud cerita tanpa harus langsung membaca keseluruhan cerpen.

Pada beberapa karya Putu Wijaya, persoalan yang dialami tokoh dapat berkaitan dengan kehidupan sosial, hubungan antarmanusia, maupun pilihan moral. Misalnya, cerpen Maling tidak hanya berkisah tentang hilangnya sebuah barang, tetapi juga menghadirkan situasi yang membuat pembaca melihat bagaimana tokoh-tokohnya menyikapi kesalahan dan prasangka.

Cerita Hikayat Sri Rama beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya dan Pesan Moralnya

1. Malu karya Putu Wijaya

Cerpen karya Putu Wijaya yang berjudul Malu ditulis pada tahun 2011 ini menceritakan tentang seorang pria dijebloskan ke penjara setelah dituduh mencuri barang berharga yang dia temukan di jalanan.

Meskipun berusaha membela diri, dia tetap dinyatakan bersalah dan yang berdampak serius terhadap keluarganya yang menderita  dan kesulitan setelah kepergiannya. Istrinya bahkan terpaksa menjual rumah dan meminta izin untuk menikah lagi demi menjaga kehidupan anak-anak mereka.

Selama dipenjara, ia berjuang dengan rasa putus asa dan pada akhirnya dibebaskan. Namun kebebasannya tidak seindah yang dibayangkan, ia merasa terasing dan menjadi gelandangan.

Ketika bekerja sebagai mandor kuli, ia menyaksikan kejadian di mana anak buahnya dituduh mencuri kotak nasi.

Kejadian tersebut membangkitkan kembali ingatan pahitnya yang membuatnya merasa malu akan masa lalu. Namun, ketika mengetahui bahwa anak buahnya dibebaskan, ia merasa lega.

Dalam perjalanan hidupnya yang penuh liku, ia menemukan pelajaran berharga tentang keadilan, martabat, dan perjuangan untuk kebebasan sejati, serta menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan arti yang lebih dalam.

2. Maling Karya Putu Wijaya

Selanjutnya, cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya pada tahun 2009 berjudul Maling. Cerpen ini bercerita tentang Pak Amat yang marah besar karena jambangan bunga porselen berharga miliknya hilang.

Jambangan tersebut merupakan hadiah dari Gubernur yang dianggap sebagai barang antik dari Dinasti Ming dengan nilai sangat tinggi. Pak Amat menyalahkan berbagai hal, mulai dari istrinya yang sering membuang barang-barang hingga ketidakwaspadaan mereka sendiri.

Di tengah kekesalan Pak Amat, tetangganya datang dan membawa seorang anak bernama Kentut yang dituduh sebagai pencuri jambangan tersebut. Tanpa banyak bicara, Pak Amat memukul Kentut dengan amarah.

Namun, belakangan terungkap bahwa Bu Amat sebenarnya yang memberikan jambangan itu pada Kentut untuk dijual karena keluarga mereka lebih membutuhkan uang daripada sekadar memiliki barang mewah.

Pak Amat dengan terpaksa kemudian meminta maaf kepada Kentut atas tindakannya. Di akhir dari cerpen berjudul Maling ini, Kentut yang merasa malu mengembalikan barang-barang lain yang pernah dia curi dari keluarga Pak Amat, termasuk perhiasan dan dompet milik Bu Amat.

3. Laila karya Putu Wijaya

Laila bercerita tentang seorang perempuan muda yang hidup dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan sosial dan harapan keluarga. Laila adalah sosok yang lembut tapi memiliki pikiran yang dalam.

Di balik senyum dan sikap patuhnya, Laila sering kali merasa terjebak oleh tuntutan yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Terutama keluarga yang menuntutnya untuk menikah dan menjalani hidup sesuai dengan norma yang berlaku.

Seiring berjalannya waktu Laila mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk apa arti kebahagiaan sejati baginya. Konflik batinnya semakin memuncak saat ia dihadapkan pada pilihan antara mengikuti jalan hidup yang diatur oleh orang lain atau berani memilih jalannya sendiri.

Puncak dari cerita ini adalah ketika Laila mengambil keputusan penting yang tidak hanya akan mempengaruhi hidupnya, tetapi juga mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tentang kebebasan dan kebahagiaan.

Cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya di tahun 2004 tersebut menggambarkan pergulatan batin Laila dalam menemukan identitas dan kebebasan di tengah masyarakat yang memiliki ekspektasi tertentu terhadap perempuan.

4. Laki-Laki Sejati Karya Putu Wijaya

Selanjutnya, Mamikos akan memberikan kamu sinopsis tentang cerpen karya Putu Wijaya berjudul Laki-Laki Sejati.

Cerita pendek tersebut mengisahkan seorang gadis yang bertanya pada ibunya tentang sosok laki-laki sejati. Sang ibu terkejut dengan pertanyaan itu, mengingat putrinya yang baru kemarin masih anak kecil kini telah tumbuh dewasa.

Dialog yang tercipta antara ibu dan anak ini penuh dengan gambaran tentang apa yang sebenarnya membuat seorang laki-laki disebut sejati.

Dalam percakapan yang berlangsung, sang ibu menjelaskan bahwa laki-laki sejati bukan hanya soal fisik yang kuat, tampan, atau kaya, melainkan tentang tanggung jawab, serta kesesuaian antara ucapan dan perbuatannya.

Halaman: