7 Cerpen Karya Putu Wijaya Berbagai Judul dan Sinopsisnya
Siapa yang tidak mengenal Putu Wijaya? Seorang sastrawan besar yang sudah melahirkan berbagai karya hebat. Yuk, kenali beberapa judul cerpennya!
2. Maling Karya Putu Wijaya
Selanjutnya, cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya pada tahun 2009 berjudul Maling. Cerpen ini bercerita tentang Pak Amat yang marah besar karena jambangan bunga porselen berharga miliknya hilang.
Jambangan tersebut merupakan hadiah dari Gubernur yang dianggap sebagai barang antik dari Dinasti Ming dengan nilai sangat tinggi. Pak Amat menyalahkan berbagai hal, mulai dari istrinya yang sering membuang barang-barang hingga ketidakwaspadaan mereka sendiri.
Di tengah kekesalan Pak Amat, tetangganya datang dan membawa seorang anak bernama Kentut yang dituduh sebagai pencuri jambangan tersebut. Tanpa banyak bicara, Pak Amat memukul Kentut dengan amarah.
Namun, belakangan terungkap bahwa Bu Amat sebenarnya yang memberikan jambangan itu pada Kentut untuk dijual karena keluarga mereka lebih membutuhkan uang daripada sekadar memiliki barang mewah.
Pak Amat dengan terpaksa kemudian meminta maaf kepada Kentut atas tindakannya. Di akhir dari cerpen berjudul Maling ini, Kentut yang merasa malu mengembalikan barang-barang lain yang pernah dia curi dari keluarga Pak Amat, termasuk perhiasan dan dompet milik Bu Amat.
3. Laila karya Putu Wijaya
Laila bercerita tentang seorang perempuan muda yang hidup dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan sosial dan harapan keluarga. Laila adalah sosok yang lembut tapi memiliki pikiran yang dalam.
Di balik senyum dan sikap patuhnya, Laila sering kali merasa terjebak oleh tuntutan yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Terutama keluarga yang menuntutnya untuk menikah dan menjalani hidup sesuai dengan norma yang berlaku.
Seiring berjalannya waktu Laila mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk apa arti kebahagiaan sejati baginya. Konflik batinnya semakin memuncak saat ia dihadapkan pada pilihan antara mengikuti jalan hidup yang diatur oleh orang lain atau berani memilih jalannya sendiri.
Puncak dari cerita ini adalah ketika Laila mengambil keputusan penting yang tidak hanya akan mempengaruhi hidupnya, tetapi juga mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tentang kebebasan dan kebahagiaan.
Cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya di tahun 2004 tersebut menggambarkan pergulatan batin Laila dalam menemukan identitas dan kebebasan di tengah masyarakat yang memiliki ekspektasi tertentu terhadap perempuan.
Halaman:

