Contoh Analisis Tokoh dan Penokohan dalam Cerpen yang Baik dan Benar
Supaya dapat memahami maksud dari sebuah cerpen. Pembaca dapat melakukan beberapa kajian. Di antaranya pengkajian tokoh dan penokohan yang sedang dibacanya. Berikut adalah langkah-langkahnya.
Contoh Analisis Tokoh dan Penokohan
1. Penjaga Makam
Hujan telah reda sejak sejam yang lalu. Sisa-sisa air hujan yang menempel di dedaunan yang berangsur tiris membuat reranting yang dihinggapinya nampak seperti sedang menari mengikuti alunan orkestra yang sedang dinyanyikan oleh para binatang malam.
Sesekali suara burung hantu yang menyela dikala terlantunnya sajak-sajak gaib itu mampu menambah suasana syahdu malam yang terus bergegas menuju puncaknya.
“Kematian adalah kepastian yang tidak mungkin kita hindari. Kau boleh menghadapinya dengan ketakutan. Boleh juga kau menghadapinya dengan keberanian. Tetapi sebaiknya kau jangan pernah tertawakan dia.
Hormatilah kedatanganya. Sebab menghormati kematian sama halnya dengan menghormati kehidupan,” pinta Mbah Kusdi padaku beberapa hari yang lalu.
Mbah Rusdi adalah seorang lelaki sebatang kara yang sudah hampir dua tahun ini diberi kepercayaan untuk menjaga pemakaman desa.
Siapa sejatinya lelaki ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga kini.
Meski misterius tetapi Mbah Kusdi hampir semua warga desa menaruh simpatik padanya.
Pasalnya, sejak awal keberadaannya hingga kini Mbah Kusdi termasuk orang yang ringan tangan. Ia dengan senang hati membatu siapa saja tanpa pernah pandang bulu.
Selain misterius, menurutku Mbah Kusdi ini termasuk orang yang aneh. Sebab, ia tidak mau menerima upah dalam bentuk uang untuk setiap bantuan yang ia berikan.
Dibanding diupah dengan uang. Mbah Kusdi lebih suka diupah dengan sepiring makanan.
“Di sisa hidupku ini, sebisa mungkin aku akan menjauhi uang. Aku bertindak seperti ini bukannya sok kaya atau apa, aku melakukannya karena aku ingin balas dendam pada semua jenis uang. Sebab, telah banyak kebahagiaanku terampas oleh uang.
Anak, istri, kerabat, dan bahkan semua teman dan sahabat yang pernah kumiliki hilang direbut oleh uang. Semenjak kehilangan besaran-besaran itu.
Aku telah berjanji untuk tidak akan pernah menyentuh uang lagi,” jawab Mbah Kusdi saat kutanya mengapa dia tidak mau diupah dengan uang.
Selain itu, ada hal lain yang membuat warga desa sangat sayang padanya. Mbah Kusdi memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit hanya dengan segelas air putih yang telah dido’akannya.
Untuk jasanya yang ini, Mbah Kusdi juga tidak pernah meminta imbalan pada orang-orang yang telah disembuhkannya.
“Saya tidak bisa menyembuhkan siapa pun, di sini saya hanya sebatas sebagai perantara saja. Sebab, sesungguhnya yang telah memberi mereka kesembuhan itu adalah Tuhan Sang Pemberi Kesembuhan itu sendiri.
Sekali lagi saya tegaskan, dalam hal ini posisi saya hanya sebatas perantara saja,” kilahnya jika ada orang yang mengucapkan terima kasih setelah penyakitnya sembuh berkat bantuan Mbah Kusdi.
Kemampuan istimewa yang dipadukan dengan sikap yang tak kalah istimewa inilah yang membuat semakin banyak warga merasa senang dengan kehadiran Mbah Kusdi di desa itu.
Namun, di sisi lain hal ini pulalah yang membuat Mbah Kusdi menjadi sosok yang paling dibenci oleh Nardi, seorang mantri desa yang setahun lebih dulu dari kedatangan Mbah Kusdi di desa itu.
Nardi membenci Mbah Kusdi karena semenjak kedatangannya membuat pasiennya menjadi sepi. Kebencian yang sudah tidak terkontrol ini membuat Nardi ingin menghabisi nyawa Mbah Kusdi.
Nardi berada di desa itu karena dia ditugaskan secara resmi oleh pemerintah untuk mengurus kesehatan di desa itu.
“Bagaimana pun caranya lelaki tua itu harus kubunuh,” batin Nardi saat bergegas menuju tempat tinggal Mbah Kusdi yang berupa cungkup itu. Cungkup yang didiami oleh Mbah Kusdi ini sebenarnya adalah makam dari Kiai Ageng, salah satu sosok yang diyakini sebagai pendiri desaku.
Begitu sampai di cungkup itu. Nardi melihat Mbah Kusdi tengah tertidur dengan sangat lelap. Tidak ingin membuang waktu. Nardi segera menyuntik tubuh renta itu dengan sebuah suntikan berisi racun.
Sekejap kemudian, tubuh Mbah Kusdi mengejang, dan tidak kurang dari satu menit kemudian lelaki tua itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Mampus kau tua bangka. Sekarang akulah juru sembuh di desa ini,” ucapnya lirih.
Setelah memastikan Mbah Kusdi meninggal. Nardi lantas pulang ke rumah dinasnya dengan dada membusung karena terisi oleh kemenangan.
Sementara itu tubuh Mbah Kusdi yang semula dingin dan kaku berangsur menghangat dan lentur kembali. Napas yang semula hilang telah kembali lagi. jantung yang sempat terhenti. Kini mulai berdetak lagi.
Rupanya ilmu rawa rontek sebuah ilmu kuno yang pernah dipelajari Mbah Kusdi sewaktu muda dulu masih bersemayam di tubuhnya.
Ilmu itu membuat pemiliknya mampu hidup lagi, meski pemiliknya berkali-kali mati, selama tubuh pemiliknya masih menempel di tanah masih belum mau pergi dari tubuh Mbah Kusdi.
Mendapati hal yang semacam ini Mbah Kusdi merasa sangat sedih karena kematian yang didambakannya hanya dirasakannya kurang dari setengah jam yang lalu.
Sementara itu saat Nardi menyalakan televisi tanpa sengaja tangannya menyenggol seutas kabel yang terkelupas. Sengatan listrik itu rupanya menjadi penyebab jantung Nardi berhenti berdetak untuk selama-lamanya.
Kira-kira sepuluh menit setelah kejadian itu toa di masjid mengabarkan kematian Nardi.
Sayup-sayup kabar kematian Nardi ini sampai juga di telinga Mbah Kusdi. Di dalam keremangan cungkup air mata Mbah Kusdi mengalir deras.
Ia tidak menyangka kematian sejati justru mendatangi sosok yang membuat dirinya merasakan kematian sesaat yang baru saja dialaminya malam itu.
“Tuhan mengapa misteri kematian begitu sulit untuk dimengerti?” tanya Mbah Kusdi lirih, selirih suara angin yang menyebarkan aroma wangi kamboja ke seluruh penjuru makam yang mulai terang karena sinar lampu yang dibawa oleh sejumlah warga yang akan membuatkan tempat peristirahatan terakhir untuk Nardi.
Analisis Tokoh dan Penokohan Cerpen Penjaga Makan
Tokoh
Tokoh utama dalam cerpen di atas adalah Mbah Kusdi
Tokoh sampingan dalam cerpen di atas adalah Nardi
Penokohan
- Mbah Kusdi merupakan sosok protagonis yang di dalam cerpen di atas dikisahkan gemar memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan tanpa memungut biaya.
- Mbah Kusdi juga digambarkan sebagai orang tua yang hidup dalam kesepian dan penyesalan. Salah satu yang membuatnya menyesal adalah ilmu rawa rontek miliknya yang membuatnya sulit mati.
- Nardi merupakan sosok antagonis dalam cerita di atas. Ia digambarkan sebagai laki-laki yang iri karena merasa kalah populer dari Mbah Kusdi. Selain itu dia juga telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mbah Kusdi.
Halaman:

