7 Contoh Cerita Fabel Pendek 1, 2, 3, 4, 5 Paragraf beserta Strukturnya Lengkap
Prinsip dari cerita fabel adalah bahwa semua tokohnya merupakan binatang yang bisa berlaku seperti manusia.
Analisis Ringkas
Contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf di atas, strukturnya sudah lengkap. Orientasi dibuat lebih detail.
Yaitu karakter pak Tua Rusa dan keluarga Pip yang merupakan tupai. Kemudian juga alasan mengapa pak Tua mendatangi rumah Pip.
Contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf ini mulai memasuki komplikasi atau permasalahan pada saat pembagian kacang.
Dimana Pip, sebagai anak paling besar atau paling tua menginginkan bagian untuk dirinya paling banyak.
Sementara adiknya yang kembar merasa pembagian tidak adil. Sebelumnya ibu menyuruh untuk membagi rata, artinya semua orang menerima jumlah yang sama. Inilah kemudian jadi permasalahan inti.
Resolusi contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf di atas adalah bagian dimana ibu datang kemudian membagikan kacang secara adil.
Tentu di sini adalah adil menurut versi ibu, yaitu Pip mendapat satu bagian lebih banyak dibanding kedua adiknya.
Koda pada contoh cerita fabel pendek ini adalah saling berbagi meskipun yang dimiliki terbatas. Tidak perlu bertengkar apalagi antar saudara hanya karena hal sepele. Pembagian yang adil bukan hanya dari jumlah.
4. Contoh Cerita Fabel Pendek 1, 2, 3, 4, 5 Paragraf tentang Menghargai Perbedaan
Ulu adalah seekor Katak Hijau, ia sedang berdiri di pinggir kolam. Hari itu langit sangat gelap dan suasana seperti itulah yang disukai oleh Ulu.
Tidak lama kemudian, air dari langit mulai menetes perlahan-lahan, semakin lama makin banyak.
“Hujan telah tiba!” Ulu berteriak riang gembira. Ulu kemudian mulai bersenandung sambil melompat-lompat mengitari kolam.
Ia melihat Semut kecil sedang berteduh dari air hujan di balik bunga matahari. “Wahai Semut, hujan yang ditunggu tiba kamu jangan bersembunyi!” seru Ulu kepada Semut yang berusaha keras menghindari tetesan air.
Semut menghela napas dan menatap dalam-dalam kepada Ulu, “Ulu, aku tidak suka hujan. Kamu lihat betapa tubuhku ini kecil sekali?
Air hujan akan menyeretku lalu menenggelamkanku ke kolam! Aku tidak bisa berenang sepertimu, jadi aku berteduh,” sahut Semut.
“Maka dari itu Semut, kau harus mulai berlatih berenang! Aku sejak masih berudu sudah berenang, masa kau tidak bisa? Berenang itu mudah, julurkan saja kakimu,”
Ulu mencontohkan gerakan dengan menjulurkan kakinya, “dan tendang ke belakang seperti ini! Ups, maaf, kaki kamu kan pendek.”
Sambil tertawa, Ulu melompat dan meninggalkan Semut. Semut hanya bisa menatap dengan kesal.
Semut tidak dapat berenang sebab kakinya dipakai untuk berjalan. Ulu kembali berseru, “
Hujan telah tiba! Hujan telah tiba! Hai Ikan! Aku sangat suka hujan, apa kamu juga? Ulu berhenti di pinggir kolam dan berbicara kepada Ikan di dalam kolam. Ikan mendongakkan kepalanya dan menjawab perkataan Ulu.
“Aku tidak dapat merasakan hujan, kau lihat, aku tinggal bersama air. Bagaimana caranya aku dapat menikmatinya sepertimu, Ulu?”
Ikan kembali masuk dan berputar-putar di dalam kolam. “Sedih sekali hidup kamu Ikan! Seandainya kamu sepertiku, hidup di dalam dua dunia, darat dan air, mungkin kamu akan merasakan kebahagiaan ini. Nikmati saja kehidupan kolammu, sebab kamu tidak akan pernah merasakan rintikan hujan!”
Apa yang dikatakan oleh Ulu sangat melukai perasaan Ikan. Ikan menatap tubuhnya yang bersisik, lalu menatap ke arah tubuh licin Ulu. Ikan yang bersedih hanya bisa berenang menjauh meninggalkan Ulu ke sisi lain kolam.
Ulu kembali melompat-lompat di sekitar kolam dan bersenandung. Saat Ulu tiba di bawah pohon, ia melihat Burung bertengger pada dahan sambil membersihkan bulunya.
Ulu mengira Burung sama seperti Semut dan Ikan yang tidak menikmati kehadiran hujan.
“Hai Burung, kenapa kau tidak keluar dan menikmati hujan? Apa takut bulu basah? Atau takut tenggelam ke dasar kolam seperti Semut? Atau memang tidak bisa menikmati indahnya hujan seperti Ikan?”
Setelah mengatakan hal itu, Ulu tertawa kencang-kencang. Burung menatap Ulu yang masih tertawa,” Hai Ulu, apakah kau bisa naik ke atas sini?”
Ulu menatap Burung kebingungan. “Apa maksudnya?” “Apakah kau bisa memanjat naik sampai ke sini, Ulu?”
“Apa yang kau maksud wahai Burung? Tentu saja tidak bisa!” Ulu cemberut sambil menatap kedua kakinya. Ulu menyesal punya kaki pendek sehingga tidak bisa terbang juga tidak dapat dipakai untuk memanjat pohon.
“Ulu, apa kamu tahu bahwa Sang Pencipta membuat kita dengan keunikan berbeda-beda? Aku tidak bisa berenang sepertimu atau seperti Ikan, tapi aku bisa terbang tinggi mengitari angkasa.
Burung kembali berkata bijak, “Itu maksudku Ulu, kita masing-masing memiliki kelebihan. Semut tidak bisa berenang, tetapi bisa menyusup ke tempat-tempat kecil yang tidak dapat kau lewati.
Ikan tidak dapat melompat, tetapi ia bisa bernapas di bawah air. Kamu tidak boleh menghina mereka yang juga merupakan hasil kuasa sang Pencipta!” Ulu mulai menyadari bahwa tindakan dan perbuatannya selama ini salah.
Diam-diam Ulu berpikir bahwa dirinya jahat terhadap hewan lain di sekitarnya. Ia seharusnya tidak menyombongkan kelebihan pada dirinya dan menghina teman-temannya.
“Maafkan aku, Burung.” Ucap Ulu seraya menatap sendu ke arah Semut dan Ikan yang juga memperhatikan pembicaraan mereka berdua.
“Maafkan aku teman-teman, selama ini aku telah menyinggung perasaan kalian.” Sejak saat itu, Ulu sangat menghargai teman-temannya dan mereka menyukainya kembali.
Analisis Ringkas
Contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf di atas pada bagian awal adalah struktur orientasi.
Dimana tokoh sentranya adalah Ulu si katak yang memiliki watak sombong karena kemampuannya
Kemudian teman-temannya yaitu semut, ikan dan burung yang meski tidak memiliki kemampuan seperti dirinya tetapi memiliki kelebihan lain. Permasalahan bermula (struktur komplikasi) saat turun hujan.
Contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf di atas memasuki konflik karena kesombongan Ulu. Membandingkan dirinya yang bisa menikmati hujan, tidak seperti ketiga temannya.
Resolusi dari contoh cerita fabel pendek di atas dibawakan oleh karakter burung. Dimana dengan bijaknya si burung memberi pengertian, bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan memiliki kelebihannya masing-masing.
Koda dari contoh cerita fabel pendek 1, 2, 3, 4, 5 paragraf di atas adalah, kita sebagai sesama makhluk Tuhan harus saling menghargai. Sebab diciptakan sama, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
5. Contoh Cerita Fabel Pendek 1, 2, 3, 4, 5 Paragraf tentang Gajah Baik Hati
Pada suatu siang hari suasana di tengah hutan sangat terik. Tempat tinggal Kancil, Gajah, dan hewan lainnya seperti terbakar karena itu musim kemarau. Kancil yang sedang kehausan terus berjalan mencari sumber mata air.
Di tengah perjalanan dia melihat kolam yang sangat jernih. Tanpa pikir panjang dia langsung menerjunkan diri ke dalam kolam tersebut.
Tindakan Kancil ini tentu saja sangat ceroboh, dia tidak berpikir bagaimana caranya untuk naik ke atas. Beberapa kali dia mencoba untuk memanjat, tetap tidak bisa sampai ke atas.
Si Kancil tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan berdiam diri. Ia hanya sanggup berteriak meminta tolong dengan penuh harap.
Teriakannya terdengar oleh si Gajah yang kebetulan melewati kolam itu. ‘’Hai, siapa yang di kolam itu?’’ ‘’Aku Si Kancil, sahabatmu.’’
Halaman:

