7 Contoh Cerpen 500 Kata tentang Berbagai Tema Menarik
Jika kamu ingin mencari contoh cerpen dengan 500 kata berbagai tema yang menarik, temukan saja pada artikel berikut.
“Terima kasih, Pak,” ucap Mbah Tarjo saat menerima uang tersebut.
Setelah berbincang sejenak orang yang membayar tebon jagung itu pun pergi.
Uang yang diterimanya itu lantas diberikan sepenuhnya kepada istrinya. Setelah menyerahkan uang kepada istrinya.
Mbah Tarjo pun segera kembali ke pinggir sungai untuk melihat umpannya dan ingin menikmati singkong yang dibakarnya tadi.
Namun, alangkah kagetnya saat kembali ia mengetahui bahwa singkong yang dibakarnya tadi sudah tidak ada.
Awalnya, Mbah Tarjo menduga bahwa singkong yang dibakarnya itu dimakan orang atau anak-anak kecil yang kebetulan tengah mandi di sungai tersebut.
Tetapi, alangkah kagetnya saat ia mendekat bekas pembakaran singkong tadi itu ia mendengar suara orang yang bersendawa.
Anehnya, meski suaranya begitu dekat ia dengar. Tetapi tidak ada orang lain di tepian sungai tersebut kecuali dirinya sendiri.
Saat itu Mbah Tarjo sadar bahwa yang mengambil singkong bakarnya bukanlah manusia melainkan sosok genderuwo.
“Ah, sial, rupanya gendruwo yang ada sembunyi di pohon kluwih itu tidak tahu diri. Susah aku membakarnya malah dia yang menikmati. Hmm…awas ya,” gumam Mbah Tarjo.
Akhirnya sore itu Mbah Tarjo pulang dengan tangan hampa. Sore hari berikutnya Mbah Tarjo berniat mengusili genderuwo yang kemarin telah mencuri singkong yang dibakarnya.
Selesai merumput Mbah Tarjo kembali membuat bediang. Namun, kali ini yang dibakarnya bukannya singkong melainkan gadung.
Tak lama kemudian gadung yang dibakarnya itu matang. Aroma sedap gadung yang telah matang itu pun segera membubung.
Saat gadung yang dibakarnya itu matang, Mbah Tarjo lalu pura-pura pulang ke rumahnya. Dan rupanya siasat yang dilakukan oleh Mbah Tarjo ini pun berhasil.
“Hmmm, makan saja gadung yang kubakar itu,” gumam Mbah Tarjo dalam batin.
Sesaat kemudian Mbah Tarjo kembali lagi ke tempatnya memancing dan memastikan bahwa genderuwo itu benar-benar mengambil gadungnya.
Ketika itu Mbah Tarjo melihat gadung yang dibakarnya itu lenyap. Melihat gadung yang dibakarnya itu lenyap ada perasaan bahagia yang dirasakan oleh Mbah Tarjo.
Saat asyik meneruskan memancing itu tiba-tiba Mbah Tarjo mendengar ada suara orang yang muntah-muntah.
Suara orang muntah itu terdengar dengan begitu jelasnya didengar oleh Mbah Tarjo.
Dari suara muntahannya Mbah Tarjo yakin bahwa gendruwo yang memakan gadung bakarnya itu tengah keracunan.
“Makanya jangan suka mengambil kepunyaan orang, kalau begini kamu sendiri yang tanggung akibatnya,” kata Mbah Tarjo, sembari terus memancing.
Contoh Cerpen 500 Kata 3
Kisah Monyet yang Iri pada Kuda
Beberapa hari ini Monyet merasa iri dengan kehidupan Kuda, sahabatnya. Ia mulai bosan dengan pekerjaannya.
Sebagai penjaga gudang yang dikerjakan Monyet setiap hari adalah menjaga dan memastikan semua barang di dalam gudang dalam keadaan aman dari tindak pencurian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
Guna memastikan barang-barang di dalam gudang itu aman Monyet harus selalu siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.
Pada awalnya Monyet sangat menikmati pekerjaannya ini. Sebab selama menjalankan pekerjaan ini Monyet akan menempati sebuah ruangan ber-AC yang dilengkapi dengan berbagai peralatan yang canggih.
Namun karena saat bekerja hanya duduk sembari mengawasi layar komputer dan sesekali berkeliling gudang, lama kelamaan Monyet merasa bosan dengan pekerjaannya itu.
Monyet merasa iri dengan Kuda sahabatnya. Monyet beranggapan bahwa pekerjaan Kuda lebih menyenangkan daripada pekerjaannya.
Ia berpikiran demikian karena setiap harinya Kuda dapat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengambil barang yang nantinya akan ditaruh di gudang yang dijaganya.
Suatu hari ketika di sebuah kantin, ketika Monyet dan Kuda sedang beristirahat untuk makan siang. Monyet bertanya kepada Kuda.
“Hai, Kuda bagaimana pekerjaanmu sekarang?”
“Meski terasa lebih berat karena semakin banyak barang yang harus kuambil setiap harinya. Tetapi aku tetap menyukai pekerjaanku karena aku dapat mengunjungi tempat-tempat yang dulu hanya kuketahui lewat buku-buku pelajaran saja.”
“Begitu ya? Kok aku jadi iri dengan kamu, ya?”
“Iri kenapa?”
“Pekerjaanmu itu loh yang membuatku iri. Kedengarannya pekerjaanmu itu menyenangkan sekali. Jauh berbeda dengan pekerjaanku.”
“Memangnya kenapa dengan pekerjaanmu?”
“Pekerjaanku sungguh membosankan. Setiap hari yang kutahu cuma itu-itu saja. Tidak seperti kamu yang setiap hari bisa menemui hal-hal baru. Andai aku bisa seperti kamu, pastinya aku akan gembira sekali.”
Usai mengatakan sesuatu yang beberapa hari terakhir mengganjal di hatinya. Monyet tadi lalu meminum es jeruk manis yang dipesannya.
Kuda yang mulai mengetahui penyebab kemurungan sahabatnya beberapa hari terakhir ini mulai mencoba meluruskan pemikiran sahabatnya.
“Kamu mungkin iri kepadaku. Tetapi tidakkah kau tahu kalau sebenarnya aku juga pernah iri denganmu?”
“Iri denganku? Apa yang membuatmu iri?”
“Tentu saja pekerjaanmu. Coba kamu pikir, selama bekerja kamu tidak pernah kepanasan. Kamu juga tidak perlu menarik beban seberat beban yang kutarik. Setiap hari yang kamu lakukan hanya duduk di ruangan yang teduh dan sejuk.
Awalnya aku sempat merasa iri dan ingin merasakan bagaimana rasanya punya pekerjaan seperti pekerjaan yang kamu miliki itu. Tetapi setelah kupikir dengan sungguh-sungguh.
Aku tidak cocok dengan pekerjaan semacam itu. Dan apabila kamu mampu berpikir dengan sungguh-sungguh kupikir kamu juga tidak akan cocok dengan pekerjaan yang kulakoni selama ini.”
Monyet lalu terdiam. Dia mencoba menjernihkan pikirannya. Setelah terdiam untuk sementara waktu. Akhirnya, monyet bersuara.
“Kau benar temanku. Aku merasa iri padamu karena hanya melihat pekerjaanmu dari sudut enaknya saja. Dan hal itulah yang membuatku lalai pada bagian susahnya. Untuk itu aku ingin minta maaf padamu.”
“Kalau mau minta maaf jangan padaku. Minta maaflah kepada Tuhan. sebab kupikir kamu telah lupa menyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.”
Sekali lagi Monyet terdiam. Namun didiamnya kali ini. Jauh di dalam hatinya Monyet berdo’a sembari meminta maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang telah dilakoninya.
Semenjak saat itu dia tidak lagi merasa iri lagi karena mulai hari itu Monyet tahu bahwa semua yang diberikan oleh Tuhan adalah yang terbaik bagi umatnya.
Halaman:


