7 Contoh Cerpen 500 Kata tentang Berbagai Tema Menarik
Jika kamu ingin mencari contoh cerpen dengan 500 kata berbagai tema yang menarik, temukan saja pada artikel berikut.
Cerpen merupakan karya sastra modern yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Biasanya sebuah cerpen dituliskan dengan panjang antara 400 kata sampai dengan kurang dari 10.000 kata. Dalam membuat cerpen yang menarik perlu memperhatikan beberapa unsur seperti tema, alur, tokoh, dan jenis pilihan kata.
Biasanya konflik yang digunakan untuk membangun suatu cerpen sifatnya tunggal dan tidak sebanyak konflik yang ditemukan pada novel. Di samping itu, pesan yang terdapat pada cerpen umumnya lebih mudah ditemukan dibanding pesan yang terdapat pada novel.
Adanya pesan yang diselipkan pada cerpen ini dimaksud supaya cerpen yang dihasilkan seorang penulis tidak sekedar memberikan hiburan kepada pembacanya. Tetapi juga memberikan suatu pencerahan atau tuntunan, pengetahuan, wawasan baru agar pembaca dapat menjadi pribadi yang lebih baik dibanding sebelumnya. 📖😊✨
Daftar Isi
Contoh Cerpen 500 Kata Berbagai Tema

Penulisan cerpen pada umumnya tidak memerhatikan jumlah kata minimal yang diperlukan.
Ada yang menulis cerpen dengan jumlah kata 100, dan ada juga yang menulis cerpen cukup dengan 500 kata.
Apabila kamu sedang mencari referensi contoh cerpen 500 kata, maka kamu sudah berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini merupakan contoh cerpen 500 kata berbagai tema yang bisa kamu jadikan inspirasi.
Simak dengan saksama setiap contoh cerpen 500 kata yang disajikan ya.
Contoh Cerpen 500 Kata 1
Kisah Pedagang Cangkul
Santosa merupakan seorang pedagang cangkul yang sering menjajakkan dagangannya dari satu pasar ke pasar lainnya.
Sebagai pedagang cangkul Santosa tahu dengan segala konsekuensi yang harus diterimanya.
Mulai jarang pulang sampai kadang dalam sehari kadang Santosa tidak berhasil menjual sebiji pun dagangannya.
Meski demikian Santosa tetap dengan tekun dan sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang harus dialami dalam menjalani profesinya tersebut.
Suatu hari Santosa berjualan cangkul sampai ke sebuah pasar yang berada di kota Blitar. Saat itu pasar yang sedang didatanginya sangat ramai.
Sayangnya meski sudah banting harga dengan harga semurah mungkin. Tetapi hari itu tidak ada satu pun pacul dagangannya yang terjual.
Hal ini tentu memuat Santosa menyesal. Sebab, dengan tidak ada cangkul yang terjual artinya tidak ada ongkos yang bisa digunakan untuk pulang.
Namun, rupanya nasib baik sedang berpihak pada Santosa. Hari itu Santosa punya seorang kenalan baru yang memberi tawaran bermalam di kediamannya.
Kenalan Santosa ini bernama Kuntet. Tanpa pikir panjang, ketika Santosa ditawari menginap di rumah Kuntet. Santosa langsung menerimanya tanpa pikir panjang.
Malam sebelum tidur Santosa dan Kuntet berbincang sebentar.
“Kamu asalnya darimana?” tanya Kuntet kepada Santosa.
“Saya dari kota Tulungagung,” jawab Santosa.
Jawaban Koplo ini membuat raut wajah Kuntet berubah. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kuntet.
Percakapan keduanya semakin asyik. Malam semakin larut dan tibalah saatnya tidur.
Sebelum tidur Santosa teringat dengan perubahan sikap pada diri Kuntet usai mendengar darimana dirinya berasal.
Sebelum tidur Santosa mencoba berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk.
Santosa mengambil beberapa pacul dagangannya dan lalu diletakkan di atas perut dan dadanya. Setelah pacul-pacul itu tertata. Barulah dia mengenakan selimut.
Sayangnya meski berkali-kali memejamkan mata, tetapi Santosa tidak dapat tidur. Lepas tengah malam Santosa yang masih terjaga.
Tiba-tiba saja Santosa melihat ada sesosok pria tinggi besar mendekatinya. Karena ingin tahu apa yang diperbuat orang itu.
Santosa pura-pura tidur. Tanpa disangka sosok yang masuk secara sembunyi itu dengan tanpa basa-basi langsung mengayunkan sebilah parang ke bagian dada dan perut Santosa.
Sesaat kemudian terdengar suara yang begitu nyaring yang muncul karena besi yang sedang diadu. Thuang….thuang…thuangg…thuang.
Tentu saja hal ini membuat sosok yang mengayunkan parang tadi kaget. Meski nyawanya tengah terancam.
Tapi Santosa masih mencoba diam dan terus pura-pura tidur. Ketenangan Santosa ini malah membuat sosok yang mengayunkan parang tadi semakin ketakutan.
Ia takut karena merasa ‘korbannya’ ini bukan sosok sembarangan. Tidak ingin celaka. Sosok itu lantas pergi.
Dari postur tubuh dan cara berjalannya. Santosa tahu kalau sosok yang mencoba membacoknya itu adalah Kuntet, si pemilik rumah.
Keesokan harinya Santosa berpura-pura seperti sedang tidak mengalami apa-apa. Tetapi, pagi itu perlakuan Kuntet kepadanya menjadi berubah.
Sebelum pamit dan pergi kembali ke pasar. Santosa dan Kuntet sempat ngopi dan sarapan bersama di suatu warung.
Setelah pamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Kuntet. Santosa segera kembali ke pasar. Begitu sampai di pasar. Santosa merasa ada sesuatu yang aneh.
Pagi itu Santosa melihat banyak orang yang telah menunggu di tempat yang kemarin dia gunakan untuk menggelar dagangannya.
Mereka yang menunggu itu tidak hanya ingin membeli pacul dagangan Santosa. Tetapi ada pula yang ingin berguru pada Santosa.
Mereka ingin berguru pada Santosa karena ingin tahu rahasia dan cara memiliki ilmu kebal yang membuat kulit sekeras besi dan tidak mempan dibacok, seperti yang dimiliki Santosa.
Ketika ditanya apa rahasianya agar bisa sakti dan punya kulit sekeras besi. Dengan santai Santosa menjawab,
“Harus selalu sabar, sumeleh, dan bersedia menerima kenyataan kalau hidup itu kadang tak seperti diinginkan tetapi seperti yang dijalani.”
Contoh Cerpen 500 Kata 2
Meracun Gendruwo
Sore itu setelah selesai mencari rumput sembari menunggu petang datang. Mbah Tarjo santai sejenak sembari memancing di sungai yang tidak jauh dari tempat merumputnya tadi.
Sembari menunggu umpan yang dilemparnya disambar ikan. Biasanya Mbah Tarjo menyalakan bediang untuk membakar singkong yang dicabutnya dari kebunnya.
Sore itu Mbah Tarjo terlihat sangat asyik menunggu umpannya disambar ikan.
Selain dia sudah mencium aroma singkong bakar yang wangi merebak mengusik perutnya yang mulai lapar.
Saat akan membongkar bediang untuk mengambil singkong bakarnya itu dari rumahnya terdengar suara istrinya memanggilnya.
“Pak…Pak…ada tamu!” panggil istrinya.
“Ya, sebentar,” jawab Mbah Tarjo singkat.
Mbah Tarjo pun ingat bahwa hari itu dia akan menerima bayaran atas tebon jagung yang dijualnya kepada salah seorang tetangganya.
Mbah Tarjo pun pulang sebentar untuk menemui tamunya itu. Sabit, pancing, dan singkong bakar ditinggalkan begitu saja.
Hanya rumput yang telah dimasukkannya ke dalam karung saja yang dibawanya pulang.
Begitu sampai rumah rumput tersebut segera diletakkannya di dekat kandang ternak miliknya.
Segera setelah itu ia pun cuci tangan dan menemui orang yang akan membayar tebon jagung kepadanya.
Nasib mujur tengah dialami oleh Mbah Tarjo, orang yang membayar tebon jagungnya itu memberikan uang lebih karena orang tadi istrinya baru saja mothel arisan.
Halaman:


