Contoh Cerpen beserta Sinopsis dan Strukturnya Lengkap
Apakah kamu sudah tahu struktur penulisan cerpen? Simak informasinya beserta contoh cerpen yang dilengkapi sinopsisnya berikut ini.
Evaluasi
Terbukti kata abah. Allah selalu punya rencana terbaik. KeajaibanNya membuat aktivitas para nelayan kembali seperti semula, bahkan tidak sampai menunggu Minggu.
Sabtu malam di pesisir pantai sudah dipadati nelayan yang akan berangkat melaut.
Aku terbangun mendengar deru perahu bermotor yang dipadu dengan sahut-sahutan suara nelayan yang saling menyemangati.
Nelayan dengan perahu bermotor sudah berangkat lebih dulu, sedangkan nelayan lain yang menggunakan perahu tradisional atau perahu berlayar masih berkutat dengan persiapan jaring ikannya masing-masing, tak terkecuali abah.
Tiupan angin cukup kencang untuk membuat perahu layar mengarungi lautan.
Maha Kuasa Allah, dengan kekuatanNya, malam ini angin yang bertiup dari darat ke lautan seakan memberi harapan baru bagi para nelayan.
Esok hari, angin dengan arah berlawanan akan membawa nelayan kembali pulang, membawa penghidupan.
Tiba-tiba aku teringat surat yang sering dibaca abah berulang-ulang sebelum melaut. Surat Yusuf ayat 22. Kata beliau, ayat tersebut senantiasa mengingatkan abah untuk bersyukur.
Sayangnya, sekalipun abah sering melaut, aku tidak diijinkan abah untuk ikut.
Tugasku menjaga rumah selagi abah belum kembali. Sejak ibu tiada, rumah berukuran kecil ini tidak pernah dihuni lebih dari dua orang selain aku dan abah.
Beliau bekerja siang-malam untuk membiayaiku di sekolah menengah yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Hampir seluruh teman-temanku adalah anak nelayan.
Cita-cita mereka adalah sekolah di luar daerah, kemudian menjadi pegawai negeri. Orang tua mereka juga mengharapkan anaknya tidak menjadi nelayan.
Kehidupan dari laut memang tidak selalu pasti. Pernah suatu ketika aku mengutarakan pada abah bahwa aku ingin menjadi nelayan, namun abah menentang kuat.
“Abah akan tetap berusaha menyekolahkanmu tinggi-tinggi, agar engkau, Hikam, bisa menjadi pegawai negeri, bisa lebih baik dari abah. Kalau kau memang tidak ingin menjadi pegawai pemerintah, jadilah apa saja, tapi jangan nelayan.” Nasihat abah panjang lebar.
Aku tahu alasan abah memintaku untuk tidak menjadi nelayan pasti karena beliau begitu menyayangiku. Namun aku punya alasan kuat untuk cita-citaku.
Semburat matahari mulai terlihat. Sebagian perahu yang melaut malam tadi sudah menepi di pesisir. Aku berlari-lari kecil karena kulihat perahu abah mulai terlihat di kejauhan.
Biasanya beliau meminta tolong kuli untuk membantu membawakan hasil tangkapan, namun kali ini aku berniat membantu abah sendiri.
Senyum abah merekah seiring dengan mendekatnya perahu ke tepi pantai. Aku yakin, abah mendapat banyak ikan hari ini.
“Bagaimana, Abah?” tanyaku sambil membantu abah mendorong perahu untuk menepi.
“Alhamdulillah…esok hari engkau bisa membayar sekolah, Hikam.” ujar beliau sambil mengelus kepalaku. Kulihat ada banyak ikan tertangkap di jaring abah.
Beberapa ikan berukuran sangat besar, beberapa yang lebih kecil ukurannya seperti paha orang dewasa, dan ikan-ikan yang sebesar telapak tangan banyak tersangkut di jaring abah.
Aku membantu abah melepaskan ikan-ikan dari jala dan memasukkannya dalam ember.
Ikan-ikan itu menggelepar-gelepar di tangan, membuatku kesulitan untuk memindahkannya, namun abah dengan cekatan memasukkan ikan tangkapannya ke dalam ember.
Hampir satu jam berkutat dengan ikan, inilah saatnya menjual ikan-ikan tadi ke pasar yang lokasinya tidak jauh dari pantai.
Ketika akan mengangkat ember, bang Togar, nelayan senior di kampung sedang meminta para kuli membantu membawakan hasil tangkapannya. Aku menyenggol lengan abah,
Resolusi
“Abah, lihat Bang Togar.” kemudian abah melirik sekilas.
“Biarkan saja,itu rezeki dia, yang ini rezeki kita.” ujar abah sambil menunjuk ember yang kubawa.
“Tapi Bang Togar curang, Abah. Dia menangkap ikan yang masih kecil. Dia pakai pukat, pakai racun, pakai bom, pakai…” kalimatku terputus.
“Apakah kau iri dengan rezeki yang ia peroleh, Hikam?”
Aku menggeleng kuat, “Hikam hanya…mm…kasihan ikannya. Kasihan laut kita, Abah. Pasti banyak yang rusak kalau menangkapnya dengan cara kasar begitu. Kasihan Bang Togar juga menjemput rezekinya dengan cara yang tidak halal. Orang lain yang tidak peduli dengan laut kita akan meniru cara Bang Togar. Sekali dua kali sih tidak masalah, tapi hidup kita terlalu mengandalkan laut, Abah. Hikam takut laut kita rusak dan tidak dapat memenuhi kebutuhan kita lagi.”
Abah tertawa kecil, “Tapi jangan lupa, masih banyak nelayan yang jujur, yang mau bersabar menjemput rezekinya dengan cara halal.”
Kemudian, abah berjalan mendahuluiku menuju pedagang pasar yang sudah melambai-lambai menantikan hasil tangkapan.
Pikiranku berkecamuk. Tidak ada yang dapat menjamin bahwa kalau hari ini hanya Bang Togar yang curang, besok tidak ada yang meniru.
Ketika kebutuhan hidup meningkat, akan ada nelayan lain yang memilih jalan seperti bang Togar. Dan hal tersebut tidak boleh dibiarkan.
Tawar-menawar antara pedagang pasar dan abah berlangsung cepat. Abah menerima beberapa lembar uang limapuluh ribuan setelah terjadi kesepakatan.
Inilah saat yang paling ditunggu. Abah memberikan separuh uang yang beliau peroleh padaku,
“Untuk membayar uang sekolah.” ujar abah.
“Abah, apakah Hikam harus sekolah setinggi-tingginya?” tanyaku. Aku tidak berani menatap abah. Kakiku menyaruk-nyaruk pecahan kerang di atas pasir.
“Tentu saja! Kalau perlu, merantaulah yang jauh agar ketika kau pulang, Hikam, alih-alih menjadi pegawai pemerintah, kau bisa menjadi orang besar!” ujar abah berapi-api.
“Abah, Hikam ingin menjadi nelayan, meneruskan Abah.” ujarku lirih. Abah tersentak.
“Apa yang bisa kau banggakan dari seorang nelayan, Hikam? Jika diberi pilihan, abahmu akan memilih tinggal di kota, menjadi kuli atau pedagang ketimbang nelayan. Kau tau, sekalipun laut kita kaya, namun perjuangan untuk mendapatkannya bertaruh nyawa! Kau tidak tau bahaya apa yang sedang menunggu di tengah laut sana, angin apa yang akan menghempaskan perahumu, atau makhluk laut seperti apa yang akan merusak kapalmu!” Abah menjelaskan dengan nada tinggi.
“Laut terlalu berbahaya untukmu, Hikam.” nada bicaranya merendah. Tanpa menoleh sedikit pun, abah berjalan meninggalkanku.
Halaman:

