Advertisement
Source : unsplash/@Shashi

7 Contoh Gaya Hidup Minimalis dan Slow Living beserta Cara Menjalaninya

Yuk, cari tahu contoh gaya hidup minimalis dan slow living bersama Mamikos!

21 April 2025 Nuril Hidayah

7 Contoh Gaya Hidup Minimalis dan Slow Living beserta Cara Menjalaninya – Jika kamu pernah bertanya ke diri sendiri, apa yang membuat hidup terasa cukup dan membahagiakan, kamu tidak sendirian. Banyak orang di luar sana juga mencari cara hidup yang lebih sederhana dan mindful, seperti gaya hidup minimalis dan slow living.

Dua konsep ini lagi naik daun, terutama di kalangan anak muda yang sudah mulai berpikir soal “how to live better” bukan cuma “how to survive”. Minimalis dan slow living bukan sekadar tren, tapi cara hidup yang bisa bantu kamu lebih mindful, hemat, dan tentunya bahagia.

Nah, Mamikos akan membahas contoh gaya hidup minimalis dan slow living, lengkap dengan cara menjalaninya agar kamu bisa mulai dari hal kecil yang realistis. Siap? Yuk, kita mulai pelan-pelan saja seperti konsep slow living itu sendiri 😉 🍃 🧘

Contoh Gaya Hidup Minimalis dan Slow Living

contoh gaya hidup minimalis dan slow living
unsplash/@Shashi

1. Kurangi Barang, Tambah Ruang

Gaya hidup minimalis berangkat dari prinsip sederhana less is more atau sedikit tapi bermakna. Artinya, kamu tidak perlu memiliki banyak barang untuk merasa cukup atau bahagia.

Justru ketika kamu mengurangi jumlah barang yang kamu miliki, kamu akan merasakan ruang yang lebih lapang, bukan hanya di rumah tapi juga di pikiran. Bayangin saja, rumah jadi tidak sumpek dan kamu tidak perlu lagi stres dengan berantakan yang tidak ada habisnya.

Minimalisme bukan berarti hidup serba kekurangan, tapi lebih ke memilih dengan sadar apa saja yang benar-benar kamu butuhkan dan gunakan dalam keseharian. 

Barang-barang yang tidak memberi manfaat atau nilai emosional bisa kamu lepas, baik dengan cara disumbangkan, dijual, atau dibuang bila sudah rusak total.

Setelah kamu mulai mengurangi barang, efeknya terasa banget:

  • Ruang jadi lebih lega, baik secara fisik maupun emosional. Kamu tidak lagi merasa sesak melihat ruangan yang penuh tumpukan.
  • Waktu bersih-bersih jadi lebih singkat dan ringan. 
  • Fokus jadi meningkat, karena lingkungan yang rapi bikin pikiran lebih tenang dan tidak terdistraksi oleh barang-barang yang sebenarnya tidak penting.
  • Kamu jadi lebih menghargai barang yang kamu miliki, karena semuanya punya peran dan tempat dalam hidup kamu.
5 Inspirasi Model Plafon PVC Kamar Tidur Sederhana dan Elegan

2. Pilih Kualitas, Bukan Kuantitas

Memilih kualitas daripada kuantitas adalah prinsip penting, daripada kamu terus-menerus membeli barang murah yang cepat rusak dan akhirnya menumpuk jadi sampah, lebih baik kamu investasi pada barang-barang yang memang berkualitas tinggi.

Cara menjalaninya:

  • Latih diri sendiri apakah barang yang dibeli memang dibutuhkan atau tidak.
  • Bandingkan dahulu kualitas dan review produk.
  • Pilih barang yang multifungsi, misalnya tas yang bisa dipakai buat kerja sekaligus jalan santai.
  • Fokus pada desain yang timeless, model yang bisa digunakan bertahun-tahun dan cocok di berbagai situasi. 
  • Hitung dengan konsep “cost per use” (biaya per pemakaian). Misalnya:

Sepatu A: Rp150.000, rusak dalam 3 bulan, dipakai 30 kali = Rp5.000 per pakai.

Sepatu B: Rp450.000, awet 2 tahun, dipakai 300 kali = Rp1.500 per pakai.

Ternyata sepatu yang lebih mahal bisa jadi lebih hemat dalam jangka panjang.

Katalog Warna Cat No Drop beserta Nama dan Kodenya, Cek Biar Tidak Salah Pilih!

3. Manajemen Waktu ala Slow Living

Slow living bukan berarti kamu harus lambat seperti  kura-kura. Tapi kamu jadi lebih sadar sama waktu yang kamu miliki dan tidak asal sibuk. Di dunia yang penuh budaya hustle dan “harus selalu sibuk”, slow living mengajak kamu untuk berhenti sejenak.

Cara menjalaninya:

  1. Mulai hari dengan morning routine yang tenang, misalnya bangun 15 menit lebih awal buat minum teh sambil baca buku.
  2. Stop multitasking! Fokus ke satu hal dulu sebelum pindah ke yang lain.
  3. Jadwalkan waktu buat istirahat, tidak semua jam harus produktif.
  4. Gunakan teknik time blocking, dengan contoh berikut:
    • 08.00 – 10.00: Fokus kerja deep work
    • 10.00 – 10.15: Break/stretching
    • 12.00 – 13.00: Waktu makan siang tanpa gadget 
    • 17.00 – 18.00: Waktu olahraga/jalan sore
    • 20.00 – 21.00: Waktu tenang, tanpa layar. 

Halaman:

Advertisement