70 Contoh Kalimat SPO Bahasa Indonesia beserta Penjelasannya yang Baik dan Benar
Temukan contoh kalimat SPOK yang baik dan benar.
Kalimat SPO Bentuk Pasif
- (S) Buku cerita (P) dibaca (O) oleh Dita.
- (S) Kue ulang tahun (P) dibawa (O) oleh Andra.
- (S) Sepeda itu (P) diperbaiki (O) oleh ayah.
- (S) Baju kotor (P) dicuci (O) oleh kakak.
- (S) Soal ujian (P) dikerjakan (O) oleh siswa.
- (S) Lagu kebangsaan (P) dinyanyikan (O) oleh anak-anak.
- (S) Tanaman bunga (P) disiram (O) oleh ibu setiap pagi.
- (S) Roti tawar (P) dimakan (O) oleh adik tadi pagi.
- (S) Pintu rumah (P) ditutup (O) oleh ayah.
- (S) Surat undangan (P) dikirimkan (O) oleh panitia.
Kalimat SPO Bentuk Tanya
- (S) Apakah kamu (P) sudah membaca (O) buku itu?
- (S) Apakah Rani (P) membawa (O) tas merah ke sekolah?
- (S) Siapa (P) menulis (O) cerita ini?
- (S) Apa yang (P) dikerjakan (O) oleh siswa tadi?
- (S) Apakah kamu (P) mengerjakan (O) tugas rumah?
Kalimat SPO Bentuk Negatif
- (S) Ayah (P) tidak membawa (O) dompet ke kantor.
- (S) Siswa (P) tidak menjawab (O) soal ujian.
- (S) Dita (P) tidak membawa (O) penggaris.
- (S) Adik (P) tidak memakan (O) kue di meja.
- (S) Kami (P) tidak mendengar (O) suara musik.
Apakah Semua Kalimat Harus SPO?
Berikut adalah alasan-alasan mengapa tidak semua kalimat dalam bahasa Indonesia harus memiliki struktur lengkap SPO (Subjek, Predikat, Objek):
1. Kalimat Sudah Bermakna Hanya dengan Subjek dan Predikat (SP)
Kalimat dalam bahasa Indonesia tidak harus selalu panjang atau kompleks. Jika Subjek dan Predikat saja sudah cukup menyampaikan makna, maka kalimat itu dianggap sah dan lengkap.
Contoh:
“Anak itu menangis.”
(S: Anak itu, P: menangis)
➡ Sudah jelas dan bermakna lengkap tanpa objek atau keterangan.
2. Tidak Semua Predikat Butuh Objek
Ada jenis kata kerja yang disebut kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang tidak memerlukan objek.
Artinya, setelah predikatnya (kata kerja), tidak perlu ada kata benda yang dikenai aksi. Kalimat dengan kata kerja intransitif tetap dapat berdiri sendiri dan dipahami maknanya walau hanya terdiri dari Subjek + Predikat atau ditambah keterangan
Contoh:
“Ibu tidur.”
(S: Ibu, P: tidur)
➡ Kata “tidur” tidak butuh objek. Kalimat tetap lengkap walau tanpa “O”.
3. Keterangan Bersifat Tambahan
Keterangan (K) hanya berfungsi untuk memperjelas: waktu, tempat, cara, sebab, tujuan, dll. Ini bukan komponen wajib dalam struktur kalimat.
Contoh:
“Dia pergi.” (SP)
“Dia pergi ke pasar tadi pagi.” (SPK)
➡ Keterangan “ke pasar tadi pagi” hanya tambahan, bukan keharusan.
4. Bentuk Kalimat Perintah, Tanya, atau Seruan Tidak Selalu Mengandung SPO
Kalimat tidak selalu berbentuk berita. Dalam kalimat perintah, pertanyaan, atau seruan, struktur SPO sering kali tidak lengkap atau tidak dipakai sama sekali.
Contoh kalimat perintah:
“Duduk!” (hanya predikat, subjeknya implied: kamu)
Contoh kalimat tanya:
“Siapa itu?”
➡ Subjeknya belum diketahui, makanya ditanyakan.
Contoh seruan:
“Aduh, sakitnya!”
➡ Ini lebih ke ekspresi perasaan, tidak wajib SPO.
5. Kalimat Bisa Mengalami Penghilangan Unsur (Elipsis)
Dalam situasi tertentu, unsur kalimat bisa sengaja dihilangkan (elipsis) karena sudah dipahami dari konteks.
Contoh:
“Saya makan, dia minum.”
➡ Kalimat lengkapnya: Saya makan nasi, dia minum air. Tapi objeknya dihilangkan karena sudah dimengerti.
Halaman:


