15 Contoh Kalimat Tulisan Aksara Jawa beserta Artinya dalam Kehidupan Sehari-hari
Jika kamu ingin mencari contoh kalimat yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa, kamu dapat menemukan contohnya pada artikel berikut.
Aksara jawa merupakan sebuah aksara tradisional yang ada dan digunakan oleh masyarakat Jawa yang tinggal di pulau Jawa.
Di masa lalu, aksara ini digunakan dalam berbagai keperluan. Selain digunakan untuk menulis surat-surat penting berupa surat perjanjian kedinasan, aksara Jawa juga digunakan untuk menulis berbagai jenis karya baik berupa fiksi maupun non-fiksi.
Meski penggunaan aksara Jawa di masa sekarang jauh berkurang, beruntungnya di masa sekarang masih ada buku bacaan khusus anak dan majalah yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Simak ulasan contoh kalimat tulisan aksara Jawa secara lengkap yang ada di artikel ini. ππβ¨
Daftar Isi
Tulisan Aksara Jawa

Untuk menjaga keberadaan aksara Jawa supaya tidak punah tergilas zaman pengajaran penulisan aksara Jawa yang baik dan benar masih terus dilakukan di sekolah-sekolah.
Selain itu, untuk memasyarakatkan kembali aksara Jawa yang sudah mulai ditinggalkan oleh orang Jawa.
Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengenalkan kembali aksara Jawa kepada masyarakat Jawa dengan menggunakan aksara Jawa dalam penulisan nama jalan, nama dinas, maupun tempat-tempat publik dan wisata.
Aksara Jawa yang dikenal saat ini memiliki nenek moyang aksara brahmi yang berasal dari salah satu daerah di India.
Selain itu aksara Jawa yang masih dipakai hingga saat ini sering disebut dengan aksara dentawyanjana ini diperkirakan muncul dan mulai dipergunakan semenjak abad 15 M.
Aksara Dentawyanjana sendiri pernah berjaya hampir 500 tahun lamanya di tanah Jawa. sebelum pada akhirnya mulai kemunduran sejak memasuki abad ke-20.
Penjajahan Belanda yang melarang rakyat Indonesia untuk membaca atau bersekolah turut memiliki andil besar dalam kemunduran penggunaan aksara Jawa di kalangan masyarakat Jawa sendiri.
Aksara Dentawyanjana mulai digunakan setelah aksara Jawa kuno dan bahasa Jawa kuno telah ditinggalkan oleh masyarakat Jawa yang kemudian membuat aksara dan bahasa jawa kuno mengalami kepunahan.
Legenda Aksara Jawa
Sebelum sampai ke contoh kalimat tulisan aksara Jawa, mari membahas dulu legenda kemunculan aksara Jawa.
Belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali membuat atau menciptakan aksara Jawa yang kita kenal sekarang.
Namun, dikalangan masyarakat Jawa, banyak yang memiliki keyakinan bahwa kelahiran aksara Jawa ini ada kaitannya dengan cerita mitos sosok pengelana sekaligus agamawan dari India yang bernama Ajisaka.
Sosok Ajisaka sendiri bagi beberapa kalangan kejawen begitu sangat dihormati.
Sebab, beberapa orang meyakini bahwa Ajisaka adalah sosok suci yang telah sukses melepaskan orang Jawa kala itu dari kebatilan seorang raja yang gemar memangsa daging manusia.
Ada banyak versi yang mengisahkan tentang kelahiran aksara Jawa. Salah satunya adalah sebagai berikut.
Pada suatu hari, datanglah seorang laki-laki dari tanah seberang ke Pulau Majeti. Di pulau Majeti laki-laki yang bernama Ajisaka ini menyebarkan kebijaksanaan.
Saat berada di pulau Majeti ini Ajisaka mendapat dua orang abdi setia yang bernama Dora dan Sembada.
Setelah dirasa cukup, Ajisaka ingin meneruskan perjalanannya ke Jawa. Ia meminta Sembada untuk ikut dengannya. Sementara kepada Dora, Ajisaka meminta agar abdinya itu untuk menjaga pusaka sakti miliknya.
Ajisaka berpesan kepada Dora bahwa hanya dirinya sendirilah yang boleh mengambil pusaka tersebut.
Singkat cerita Ajisaka dan Sembada sampailah di pulau Jawadwipa. Keadaan Jawadwipa saat itu sungguh kacau.
Hal ini dikarenakan seorang raja bernama Prabu Dewatacengkar yang berkuasa di Medangkamulan.
Prabu Dewatacengkar sangat ditakuti rakyatnya karena sang raja memiliki kegemaran menyantap daging manusia.
Sebab, memiliki kegemaran yang demikian. Sang raja memiliki tubuh yang sangat besar dan menyerupai raksasa.
Suatu hari Ajisaka melihat ada seorang perempuan tua yang menangis ketakutan karena terpilih menjadi santapan sang raja.
Tidak tega dengan pemandangan yang terjadi di depan matanya. Ajisaka lantas menggantikan posisi perempuan tua tersebut.
Melihat Ajisaka yang jauh lebih muda dan segar tentu membuat para prajurit senang bukan kepalang.
Ajisaka kemudian dan dihadapkan kepada Prabu Dewatacengkar. Saat bertemu dengan Prabu Dewatacengkar, Ajisaka dijanjikan akan dikabulkan seluruh permintaannya.
Pada waktu itu, Ajisaka hanya meminta tanah seluas sorbannya. Merasa permintaan Ajisaka sangat mudah dikabulkan.
Tanpa pikir panjang Prabu Dewatacengkar segera melakukan pengukuran. Saat pengukuran tanah berlangsung, terjadilah sebuah keanehan.
Sorban Ajisaka seolah tidak ada ujung dan terus memanjang. Hingga sampailah Prabu Dewatacengkar di tepi laut selatan.
Ajisaka segera mengibaskan sorbannya dan jatuhlah Prabu Dewatacengkar ke laut. Beberapa saat kemudian tubuh Prabu Dewatacengkar berubah menjadi buaya putih.
Setelah itu, Ajisaka diangkat menjadi raja di Medangkamulan. Ketika menjadi raja Ajisaka ingat akan pusakanya yang ada di pulau Majeti.
Ajisaka segera memerintahkan Sembada untuk mengambilnya. Sembada segera berangkat melaksanakan perintah Ajisaka.
Sesampainya di Pulau Majeti, Sembada segera meminta kepada Dora untuk menyerahkan pusaka milik tuannya kepadanya.
Dora yang memegang ucapan Ajisaka mengira bahwa sedang berdusta dan ingin menguasai pusaka milik Ajisaka
Keduanya lalu bertempur dan karena sama-sama sakti keduanya gugur. Ajisaka yang telah lama menunggu kemudian menyusul ke pulau majeti. Alangkah kagetnya saat tahu kedua abdinya yang setia telah sama-sama tewas karena menjalankan perintahnya.
Ajisaka kemudian membuat syair yang berbunyi:
Hana caraka yang artinya ada dua utusan
data sawala yang artinya yang saling berselisih
padha jayanya yang artinya (Mereka) sama jayanya (dalam perkelahian)
maga bathanga yang artinya sama-sama menjadi mayat (mereka).
Syair inilah yang diyakini oleh sejumlah kalangan sebagai cikal awal aksara Jawa.
Halaman:



