Contoh Kata Konkret dalam Puisi yang Benar beserta Fungsinya
Apakah kamu bisa menemukan kata konkret yang digunakan dalam teks puisi? Simak penjelasan serta contoh kata konkret dalam puisi dengan lengkap di bawah ini.
Bahkan puisi yang sudah ditulis bisa saja untuk melewati tahapan perubahan dalam jangka waktu yang lama sehingga menjadi lebih sempurna.
Penggunaan kata konkret dalam teks puisi memiliki fungsi untuk bisa membangkitkan aspek imaji serta daya bayangan yang dimiliki oleh para penikmat puisi itu sendiri.
Maka dari itu, penting untuk teks puisi dibuat dengan lebih konkret agar dapat meninggalkan kesan yang baik bagi para pembacanya.
Membuat pembaca menjadi ikut merasakan, melihat, dan mendengar apa yang disampaikan dari penulis itu sendiri.
Tidak jarang pula diksi dipilih agar pembaca bisa memiliki keterlibatan secara penuh untuk batin saat membaca puisi tersebut.
Pemilihan Kata Konkret dalam Penulisan Puisi
Pada bagian sebelumnya sudah disinggung sedikit mengenai pentingnya peran diksi dalam penyusunan teks puisi.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara untuk memilih kata konkret yang digunakan dalam puisi dengan lebih tepat?
Hal pertama yang perlu untuk dilakukan, yaitu dengan memastikan bahwa diksi yang dipilih bisa membantu untuk memunculkan imaji.
Gunakan pula kata-kata yang bisa membantu untuk lebih menghayati isi dari pesan puisi yang dibaca.
Batasan yang bisa diambil untuk imajinasi ini bisa menggunakan susunan kata yang terdapat di dalam isi teks puisi.
Kamu juga bisa memanfaatkan bait yang ada dalam puisi sehingga memunculkan sifat imaji yang lebih mendalam dan menyeluruh.
Tidak luput pula, yaitu penggunaan objek agar keterkaitan dan imajinasi bisa terbentuk dengan baik. Kamu bisa memilih untuk menggunakan satu objek saja dalam proses penulisan puisi.
Teks Puisi Hujan Bulan Juni
Salah satu teks yang akan digunakan untuk mencari contoh kata konkret dalam puisi yaitu berjudul Hujan Bulan Juni. Puisi satu ini merupakan hasil karya milik Sapardi Djoko Damono.
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon yang berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
Halaman:


