Advertisement
Source : pexels.com/ROMAN ODINTSOV

50 Contoh Perilaku 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun di Sekolah

Faktanya, penerapan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) di lingkungan sekolah menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter mulia siswa.

21 Juli 2026 Nana

4. Sopan

Sopan menjadi perilaku yang sesuai dengan aturan, tata krama, dan norma yang berlaku.Β 

Di sekolah, hal ini tercermin dari cara berpakaian, gerak tubuh, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Contoh Perilakunya:

  1. Mengenakan pakaian seragam sekolah secara rapi, baju dimasukkan, memakai sabuk, dan kaos kaki sesuai aturan sekolah.
  2. Membungkukkan badan sedikit sambil mengucapkan β€œPermisi” ketika harus berjalan melewati guru.
  3. Mengetuk pintu dan meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan yang tertutup.
  4. Mengangkat tangan kanan terlebih dahulu untuk meminta izin sebelum berbicara atau bertanya kepada guru.
  5. Tidak memotong pembicaraan orang lain; menunggu guru atau teman selesai berbicara baru kemudian menanggapi dengan sopan.
  6. Meminta izin secara baik-baik kepada guru piket atau guru kelas jika terpaksa harus meninggalkan sekolah sebelum jam pulang sekolah.
  7. Memperhatikan dan menghadap ke arah guru saat beliau sedang memberikan instruksi atau penjelasan.
  8. Duduk dengan posisi tegak dan sopan selama jam pelajaran, tidak mengangkat kaki ke atas kursi atau meja belajar.
  9. Memarkirkan sepeda atau sepeda motor di tempat yang sudah disediakan secara rapi dan teratur.
  10. Mengembalikan barang-barang milik sekolah tepat waktu dan dalam kondisi baik, misalnya buku perpustakaan atau alat olahraga.
14 Contoh Pendidikan Karakter di Sekolah, Rumah, dan Masyarakat yang Bisa Diterapkan

5. Santun

Santun merupakan kehalusan budi pekerti, baik dalam ucapan maupun tindakan. Santun berfokus pada cara kita menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung.

Contoh Perilakunya:

  1. Menggunakan bahasa yang halus, tenang, dan tidak menggunakan kata-kata kasar saat berbicara dengan siapa pun.
  2. Selalu mengucapkan kata β€œTolong” saat membutuhkan bantuan dari orang lain (teman, staf, atau guru).
  3. Segera mengucapkan kata β€œMaaf” dengan tulus jika tidak sengaja menyenggol, menjatuhkan barang teman, atau melakukan kesalahan apapun.
  4. Selalu mengucapkan β€œTerima kasih” dengan tulus setelah menerima bantuan, penjelasan materi, ataupun pujian.
  5. Menghargai dan menerima perbedaan pendapat teman saat melakukan diskusi kelompok tanpa harus marah, mencela atau meremehkan.
  6. Tidak berbicara dengan nada tinggi, membentak, atau berteriak-teriak di dalam koridor dan ruang kelas.
  7. Menolak ajakan teman yang kurang baik secara halus dan tidak menyinggung perasaan.
  8. Membantu mengumpulkan tugas teman sekelas dengan sukarela tanpa mengeluh atau bersikap ketus.
  9. Menjaga volume suara agar tetap rendah saat berada di dalam perpustakaan demi menghormati orang lain yang sedang fokus membaca.
  10. Memberikan kritik atau masukan kepada teman saat evaluasi kelompok dengan menggunakan kalimat yang membangun dan tidak menjatuhkan mental/semangat.

Tujuan dari Penerapan Perilaku 5S

Penerapan budaya 5S atau Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun di sekolah bukan sekadar formalitas atau peraturan tanpa makna. Sebab, ada tujuan besar di balik gerakan tersebut, baik dari aspek pembentukan karakter individual siswa maupun penciptaan iklim institusi sekolah yang sehat dan harmonis.

Berikut adalah penjelasan lengkap apa saja tujuan utama penerapan 5S di sekolah:

a. Membentuk Karakter dan Akhlak Mulia Siswa

Tujuan paling mendasar dari 5S adalah penanaman nilai moral (character building). Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan (akademik), tetapi juga sebagai wadah untuk membentuk kepribadian siswa agar menjadi individu yang humanis, tahu tata krama, dan memiliki kecerdasan emosional yang baik.

b. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif dan Nyaman

Ketika seluruh warga sekolah, tanpa terkecuali, saling melempar senyum dan menyapa, atmosfer sekolah akan terasa hangat dan bersahabat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan, stres, dan kecemasan psikologis pada siswa saat belajar.Β 

Selain itu, hal ini juga membantu menghilangkan sekat atau kecanggungan yang berlebihan antara guru dan murid tanpa menghilangkan rasa hormat.

Halaman:

Advertisement