9 Contoh Puisi Hari Kartini 2026 Singkat yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna
Bagi kamu yang sedang mencari inspirasi untuk menulis puisi bertemakan Hari Kartini 2026, dalam artikel ini Mamikos akan membagikan beberapa contoh puisinya yang bisa kamu jadikan sebagai sumber inspirasi. Baca puisinya dalam artikel ini, yuk!
Puisi 3: Kartini Pahlawan Sejati
Raden Ajeng Kartini
Engkaulah pahlawan yang sejatiĀ
Perempuan tangguh, penuh keberanianĀ
Engkau bersuara di masa yang penuh kengerian
Agar kaum perempuan bisa berkarya dan berpendidikan
Raden Ajeng Kartini
Perjuanganmu memperjuangkan hak asasi berbekas hingga kini
Cita-citamu membebaskan belenggu sangatlah berani
Kami kini tak lagi takut untuk bermimpi
Raden Ajeng Kartini
Sekarang sekolah bukan lagi tempat eksklusif bagi kami
Perempuan kini bisa sekolah dan bermimpi
Perempuan kini bisa berkarya dan berekspresi
Engkau menulis sepucuk suratĀ
Berharap drajat wanita dapat terangkat
Berharap generasimu di depan hidup bermartabat
Sungguh mulia perjuangan yang kau angkat
Terima kasih RA Kartini
Engkau selalu selalu menjadi semangat kami
Namamu harummu akan selalu tersimpan di hati
Puisi 4: Sepucuk Surat Untuk Kartini
Dahulu kau menulis untuk berjuang
Kini aku menulis untuk mengenang
Semua jasa-jasamu yang tak lekang
Demi perempuan kau perjuangkan
Sepucuk surat kau tuliskan
Dengan air mata bercucuran
Memperjuangkan nasib perempuan
Demi masa depan penuh keadilan
Hak-hak perempuan tak kau lupakan
Pendidikan kaummu kau selamatkan
Ketidak adilan kau pinggirkan
Agar masa depan perempuan tak penuh kegelapan
Puisi 5: Kartiniku Kini
Oleh: Mochammad Ridwan
Saat pena kau tempelkan secarik kertasĀ
Tersusunlah kata-kata sukam meretas
Membawa perubahan awal sepintas
Hingga kaummu menyambut penuh antusias
Kini wahai Kartiniku
Kaummu seakan melupakanmu
Tersibuk dengan lautan ambigu
Terlupa akan sebuah perilaku
Wahai Kartiniku ini
Tidaklah mentari leupa menanti pagi
Saatnya dirimu membekali literasi
Saatnya dirimu penuh inovasi
Wahai Kartiniku kini
Sudahkan dirimu menyelami diri
Mencari dimana peradaban nanti
Mengikuti aliran tsunami teknologi
Sepatah tulisan membawa pesan
Sebarisan kalimat membuyarkan angan
Sebait paragraf merubah peradaban
Majulah Kartiniku kini tuk kemajuan zaman
Puisi 6: Perempuan itu Buku
Oleh: Sio Hutasoit
Apa kau tahu? Jika perempuan itu Buku.
Tintanya biru teduh.
Perempuan itu Gudangnya Ilmu.
Isinya tak hanya asmara candu, namun arti dari tulus Pengorbanan tanpa keluh.Ā
Walau dituntut harus sempurna sungguh, Namunā¦
Perempuan tahu nikmatnya berdiri teguh, tanpa kompromi waktu.Ā
Di dalam Buku akan kau temukan cerita tentang cinta yang utuh.
Walau hidup tak semanis madu, tangis menderu bahkan sakit berdentum.
Tapi tak pernah ia tulis bahwa hidup sepahit empedu.Ā
Hanya ada bait tentang nyanyian syukur.
Sayangnya, Buku itu tak bisa kau beli dengan sekuntum bunga warna ungu.
Tapi tawarlah dengan rindu yang sudah kau pupuk.
Tenang saja, tak perlu raguā¦Ā
Karena, dari buku itu akan kau temukan bahwa perempuan adalah pangkal restuĀ
Juga sajak-sajak tentang doa ibuĀ
Yang tiap hari ia tulis dengan tangguhĀ
Perempuan tak pernah layuĀ
Perempuan itu BukuĀ
Perempuan itu aku.
Puisi 7: Literasi Ubah Negeri
Oleh: Khanipan
Dulu kau diam diri di rumah
Namun kini menduduki berbagai ranah
Kau perjuangkan emansipasi
Majukan bangsa dengan budaya literasi
Kau tuntun mereka yang buta aksara
Ajari mereka bagaimana membaca
Bukan untuk kesombongan
Namun demi kemajuan peradaban
Berawal dari
Ini Bapak Budi
Ini Ibu Budi
Suaramu terdengar lirih
Namun mampu mengubah negeri
Dengan literasi kau paparkan tujuan diri
Berbakti kepada negeri
Mengharumkan nama pertiwi
Untuk kejayaan kini dan nanti
Bekali negeri dengan literasi
Untuk bersaing di globalisasi
Semua berkat emansipasi
Yang kau perjuangkan dari dulu hingga kini
Halaman:


