Advertisement
Source : Canva/@ultramarinfoto

12 Contoh Puisi Ode Berisi Pujian atau Sanjungan Lengkap dengan Nama Pengarangnya

Sudah tahu apa itu puisi ode? Apa saja contohnya? Yuk, pelajari tentang puisi ode di artikel ini!

12 Februari 2025 Lintang Filia

4. Majas (Gaya Bahasa)

Selanjutnya puisi ode menggunakan berbagai macam majas. Majas sendiri merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk memperindah puisi, seperti metafora, personifikasi, dan hiperbola.

5. Rima dan Ritme

Pola bunyi dan irama yang membuat puisi terasa harmonis saat dibaca. Ode biasanya punya rima teratur.

6. Nada dan Rasa

Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca, misalnya formal dan penuh hormat dalam ode. Sedangkan rasa adalah emosi yang dirasakan pembaca, seperti kekaguman atau penghormatan.

7. Amanat
Pesan moral atau nilai yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya.

8. Tipografi

Tipografi merupakan bentuk tata letak puisi, termasuk jumlah baris dan baitnya. Ode biasanya berbentuk rapi dengan bait panjang.

Unsur Ekstrinsik Puisi Ode

Unsur ekstrinsik adalah faktor luar yang memengaruhi lahirnya puisi. Bisanya unsur akan berkaitan dengan latar belakang dan kondisi di luar teks itu sendiri, di antaranya:

1. Latar Belakang Penyair

Berupa kehidupan, pengalaman, atau pandangan dunia penyair yang memengaruhi isi puisinya.

2. Konteks Sosial dan Budaya

Situasi sosial, politik, atau budaya pada masa puisi ditulis. Dalam hal ini, ode sering muncul dalam konteks penghormatan atas momen besar atau tokoh penting.

3. Nilai yang Berlaku di Masyarakat

Puisi ode biasanya mencerminkan nilai-nilai positif seperti keberanian, patriotisme, atau keindahan alam.

4. Pengaruh Karya Sastra Lain

Inspirasi dari karya sastra lain atau tradisi sastra tertentu, misalnya tradisi ode yang berasal dari Yunani Kuno.

Contoh Puisi Ode

Setelah tadi kita sudah mempelajari pengertian, ciri, serta unsur intrinsik dan ekstrinsik, di bagian ini tersedia berbagai contoh puisi ode.

Berikut adalah 12 contoh puisi ode pujian lengkap dengan nama pengarangnya:

1.  Tafsir Ayub, Sang Nabi

Karya: Motinggo Busye

Empat puluh masa

Genap sudah

Sang Nabi teruji

Dalam sakit kulit yang parah

Ayub keluar lewat belukar

Dari hutan sunyi

Dekat air terjun yang bernyanyi

Wahai Nabi-Ku, titah Tuhan

Sungguh tabah kau bertahan

Sekarang ambillah

Seratus ranting kering

Rajamlah tiap ranting

Istrimu seratus kali

Ayub mengikat seratus ranting dalam seikat

Dia rajam sang istri

Satu kali

2.  Ode Prajurit Tanpa Nama

Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Bendera-bendera berkibar di udara.

Burung-burung bernyanyi di dahannya.

Dan orang-orang berteriak “telah bebas negeri kita”.

Tapi aku tertatih sendiri.

Di bawah patung kemerdekaan yang letih.

Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi.

Kau pasti tak mengenaliku lagi.

Seperti dulu,

Ketika tubuhku terkapar penuh luka.

Di sudut stasiun Jatinegara,

Setelah sebutir peluru menghajarku dalam penyerbuan itu.

Dan negeri yang kacau mengubur riwayatku.

Dalam sejarah berdebu.

Setengah abad lewat kita melangkah.

Di tanah merdeka,

Sejak Soekarno-Hatta mengumumkan kebebasan negeri kita.

Lantas kau dirikan partai-partai.

Juga kursi-kursi di atasnya.

Tapi kau kini menjelma konglomerat berdasi.

Penguasa yang merampas kemerdekaan rakyat sendiri.

Gedung-gedung berjulangan.

Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan,

Jalan-jalan layang,

Mengembang bersama korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,

Yang membengkakkan perutmu sendiri.

Sedang aku tetap prajurit tanpa nama,

Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran,

Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan,

Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman,

Tanpa istri simpanan.

Bendera-bendera kini berkibaran lagi.

Dan sambil bernyanyi “padamu negeri”.

Kau bagi-bagi uang hasil korupsi.

Sedang aku tertatih sendiri.

Letih dibakar matahari.

3.  Puisi untuk Guru

Karya: Muhammad Yanuar

Engkau bagaikan cahaya

Yang menerangi jiwa

Dari segala gelap dunia

Engkau adalah setetes embun

Yang menyejukkan hati

Hati yang ditikam kebodohan

Sungguh mulia tugasmu guru

Tugas yang sangat besar

Guru engkau adalah pahlawanku

Yang tidak mengharapkan balasan

Segala yang engkau lakukan

Engkau lakukan dengan ikhlas

Guru jasamu takkan kulupa

Guru ingin kuucapkan

Terima kasih atas jasamu

4.  Ibu

Karya: Chen Mardiayanto

Lenganmu yang rapuh

Masih saja gigih menepis gerimis

Yang menyapu wajah kelabumu

Sedang aku cuma bisa

Terpaku menggigil

Menyaksikan dan mencoba meraba

Perih yang kau derita

5.  Generasi Sekarang

Karya: Asmara Hadi

Generasi Sekarang

Di atas puncak gunung fantasi

Berdiri aku, dan dari sana

Mandang ke bawah, ke tempat berjuang

Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru

Pantoen keindahan Indonesia

Yang jadi kenang-kenangan

Pada zaman dalam dunia

6. Ibu Kartini

Karya: Fatkhan T. Haqque

Ibu Kartini bunga bangsa

Harum mewangi sepanjang massa

Meski kini engkau tiada

Harum muliamu tetap terbawa

Tetap abadi hingga masa kini

Meski engkau tak hidup kembali

Serasa hati kau masih ada

Masih bicara masih berkata

Jasamu takkan kulupa

Halaman:

Advertisement