12 Contoh Puisi Ode Berisi Pujian atau Sanjungan Lengkap dengan Nama Pengarangnya
Sudah tahu apa itu puisi ode? Apa saja contohnya? Yuk, pelajari tentang puisi ode di artikel ini!
4. Majas (Gaya Bahasa)
Selanjutnya puisi ode menggunakan berbagai macam majas. Majas sendiri merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk memperindah puisi, seperti metafora, personifikasi, dan hiperbola.
5. Rima dan Ritme
Pola bunyi dan irama yang membuat puisi terasa harmonis saat dibaca. Ode biasanya punya rima teratur.
6. Nada dan Rasa
Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca, misalnya formal dan penuh hormat dalam ode. Sedangkan rasa adalah emosi yang dirasakan pembaca, seperti kekaguman atau penghormatan.
7. Amanat
Pesan moral atau nilai yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya.
8. Tipografi
Tipografi merupakan bentuk tata letak puisi, termasuk jumlah baris dan baitnya. Ode biasanya berbentuk rapi dengan bait panjang.
Unsur Ekstrinsik Puisi Ode
Unsur ekstrinsik adalah faktor luar yang memengaruhi lahirnya puisi. Bisanya unsur akan berkaitan dengan latar belakang dan kondisi di luar teks itu sendiri, di antaranya:
1. Latar Belakang Penyair
Berupa kehidupan, pengalaman, atau pandangan dunia penyair yang memengaruhi isi puisinya.
2. Konteks Sosial dan Budaya
Situasi sosial, politik, atau budaya pada masa puisi ditulis. Dalam hal ini, ode sering muncul dalam konteks penghormatan atas momen besar atau tokoh penting.
3. Nilai yang Berlaku di Masyarakat
Puisi ode biasanya mencerminkan nilai-nilai positif seperti keberanian, patriotisme, atau keindahan alam.
4. Pengaruh Karya Sastra Lain
Inspirasi dari karya sastra lain atau tradisi sastra tertentu, misalnya tradisi ode yang berasal dari Yunani Kuno.
Contoh Puisi Ode
Setelah tadi kita sudah mempelajari pengertian, ciri, serta unsur intrinsik dan ekstrinsik, di bagian ini tersedia berbagai contoh puisi ode.
Berikut adalah 12 contoh puisi ode pujian lengkap dengan nama pengarangnya:
1. Tafsir Ayub, Sang Nabi
Karya: Motinggo Busye
Empat puluh masa
Genap sudah
Sang Nabi teruji
Dalam sakit kulit yang parah
Ayub keluar lewat belukar
Dari hutan sunyi
Dekat air terjun yang bernyanyi
Wahai Nabi-Ku, titah Tuhan
Sungguh tabah kau bertahan
Sekarang ambillah
Seratus ranting kering
Rajamlah tiap ranting
Istrimu seratus kali
Ayub mengikat seratus ranting dalam seikat
Dia rajam sang istri
Satu kali
2. Ode Prajurit Tanpa Nama
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Bendera-bendera berkibar di udara.
Burung-burung bernyanyi di dahannya.
Dan orang-orang berteriak “telah bebas negeri kita”.
Tapi aku tertatih sendiri.
Di bawah patung kemerdekaan yang letih.
Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi.
Kau pasti tak mengenaliku lagi.
Seperti dulu,
Ketika tubuhku terkapar penuh luka.
Di sudut stasiun Jatinegara,
Setelah sebutir peluru menghajarku dalam penyerbuan itu.
Dan negeri yang kacau mengubur riwayatku.
Dalam sejarah berdebu.
Setengah abad lewat kita melangkah.
Di tanah merdeka,
Sejak Soekarno-Hatta mengumumkan kebebasan negeri kita.
Lantas kau dirikan partai-partai.
Juga kursi-kursi di atasnya.
Tapi kau kini menjelma konglomerat berdasi.
Penguasa yang merampas kemerdekaan rakyat sendiri.
Gedung-gedung berjulangan.
Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan,
Jalan-jalan layang,
Mengembang bersama korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu sendiri.
Sedang aku tetap prajurit tanpa nama,
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran,
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan,
Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman,
Tanpa istri simpanan.
Bendera-bendera kini berkibaran lagi.
Dan sambil bernyanyi “padamu negeri”.
Kau bagi-bagi uang hasil korupsi.
Sedang aku tertatih sendiri.
Letih dibakar matahari.
3. Puisi untuk Guru
Karya: Muhammad Yanuar
Engkau bagaikan cahaya
Yang menerangi jiwa
Dari segala gelap dunia
Engkau adalah setetes embun
Yang menyejukkan hati
Hati yang ditikam kebodohan
Sungguh mulia tugasmu guru
Tugas yang sangat besar
Guru engkau adalah pahlawanku
Yang tidak mengharapkan balasan
Segala yang engkau lakukan
Engkau lakukan dengan ikhlas
Guru jasamu takkan kulupa
Guru ingin kuucapkan
Terima kasih atas jasamu
4. Ibu
Karya: Chen Mardiayanto
Lenganmu yang rapuh
Masih saja gigih menepis gerimis
Yang menyapu wajah kelabumu
Sedang aku cuma bisa
Terpaku menggigil
Menyaksikan dan mencoba meraba
Perih yang kau derita
5. Generasi Sekarang
Karya: Asmara Hadi
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
6. Ibu Kartini
Karya: Fatkhan T. Haqque
Ibu Kartini bunga bangsa
Harum mewangi sepanjang massa
Meski kini engkau tiada
Harum muliamu tetap terbawa
Tetap abadi hingga masa kini
Meski engkau tak hidup kembali
Serasa hati kau masih ada
Masih bicara masih berkata
Jasamu takkan kulupa
Halaman:
