Contoh-contoh Puisi Tentang Lingkungan 2, 3, 4 Bait Bahasa Indonesia
Menulis puisi bisa membantu untuk menuangkan pikiran dan perasaan yang dimiliki. Simak berbagai contoh puisi tentang lingkungan 2, 3, 4 bait di bawah ini.
Contoh 2
Desaku (Karya Ilyas)
Desaku
Desa yang subur akan air mata
Tangisan selalu hadir
Kegelisahan
Rasa takut
Suram
Hingga kebodohan
Menghantui
Kekayaan
Kesuburan alam tak ada arti
Karena negeri ini lebih kaya
Akan tikus-tikus yang serakah
Penjajah keadilan dan
Pejabat yang tak tahu hitam dan putih
Contoh 3
Pesan Alam (Karya Haidi S)
Bencana ini mengajarkan kita
Bagaimana rasanya terpenjara
Di tempat yang disebut rumah
Yang perlahan membuat
Mungkin kita harus ingat
Saat perilaku kita menjerat
Penghuni laut udara dan darat
Akal dan nurani nyatanya tak saling terikat
Tuhan melalui alam menyampaikan pesan penuh ilham
Membiarkannya geram sebab dosa tak terpendam
Contoh Puisi Bahasa Indonesia 3 Bait Tentang Lingkungan
Selanjutnya dari pembahasan contoh puisi tentang lingkungan 2, 3, 4 bait, yaitu kali ini mengenai bentuk puisi dalam 3 bait.
Kamu bisa membaca contoh yang ada sebelum membuat puisi sesuai dengan ide yang kamu miliki sendiri.
Berikut beberapa contoh puisi bahasa Indonesia yang memiliki 3 bait dengan tema lingkungan.
Contoh 1
Alam untuk Anak Cucu Kita (Karya Fouren S. Wijaya)
Kau yang kini tertawa
Memandikan harta
Duduk dengan santai
Berkawan dengan kemewahan
Dari mana semua kau dapat
Dari hutan yang kau tebang
Dari hewan yang kau bunuh
Apakah kau tak ingat?
Masih ada anak cucu kita
Yang mau melihat keindahan alam
Dan masih mau menghirup udara segar
Contoh 2
Adakah Suara Cemara (Karya Taufiq Ismail)
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik daunan lepas
Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu
Contoh 3
Alamku Berbicara (Karya Intan Fitri Yani)
Pertiwi kini berduka
Pertiwi kini berteriak
Memanggil, mencari
Dimana manusia berada
Pertiwi berkata
Masih adakah manusia yang akan melayaniku
Kutumpahkan lahar di Jogja
Kuberi air bah untuk Mentawai
Kudatangkan banjir untuk Wasior
Dan kubuat Jakarta tenggelam
Hutanku, kekayaanku
Telah kau rampas dengan paksa
Kau curi seluruh isi perutku
Aku hanya ingin kau lindungi agar kudapat bertahan
Dan dapat memberikan nafas kehidupan untukmu manusia
Lindungi aku dan jangan rampas hak milikku
Aku menangis karena kau sakiti
Dan kau menangis setelah aku tumpahkan isi perutku
Halaman:

