5 Contoh Teks Anekdot dalam Kehidupan Sehari-Hari
Teks anekdot diartikan sebagai cerita singkat yang didalamnya mengandung unsur kelucuan dan digunakan untuk menyampaikan kritikan.
5 Contoh Teks Anekdot dalam Kehidupan Sehari-Hari – Teman-teman, apakah kamu sering mendengar atau membaca cerita dan dialog yang lucu, tapi pembahasannya sangat relate dengan kehidupan kita?
Kemudian saat kamu tertawa, kamu juga mengatakan “Oh, iya juga, ya”. Kalau kamu sering mendengar atau membaca topik seperti itu, bisa jadi itu adalah teks anekdot. Apa itu teks anekdot?
Yuk, ketahui selengkapnya tentang teks anekdot beserta contohnya dalam kehidupan sehari-hari melalui artikel ini! 📖😊✨
Daftar Isi
- Contoh Teks Anekdot dalam Kehidupan Sehari-Hari
- Pengertian Teks Anekdot
- Struktur Teks Anekdot
- Kaidah-kaidah Teks Anekdot
- Cara Membuat Teks Anekdot
- Ciri-ciri Umum Teks Anekdot
- Ciri Kebahasaan Teks Anekdot
- Contoh Teks Anekdot 1 – Emas Sea Games
- Contoh Teks Anekdot 2 – Obat Sakit Kepala
- Contoh Teks Anekdot 3 – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
- Contoh Teks Anekdot 4 – Gusdur di Tanah Abang
- Contoh Teks Anekdot 5 – Calo Membuat SIM
- Penutup
Contoh Teks Anekdot dalam Kehidupan Sehari-Hari

Siswa/siswi SMA/MA/SMK pasti cukup mengenal topik teks anekdot.
Sudah pasti, teks anekdot adalah salah satu jenis teks bacaan dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang dipelajari pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas.
Bagi kamu yang belum mempelajari atau lupa dengan pembahasan teks anekdot, kita akan pelajari bersama topik tersebut pada kesempatan ini. Yuk, langsung saja kita mulai.
Pengertian Teks Anekdot
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anekdot merupakan sebuah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang-orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
Menurut Setiawan (1990), Teks anekdot merupakan cerita narasi ataupun dialog yang lucu dengan berbagai tujuan, baik hanya sekedar untuk hiburan atau senda gurau, sindiran, atau kritik secara tidak langsung.
Hal-hal yang aneh dan nyeleneh dapat dijadikan humor sehingga tidak menutup kemungkinan segala hal yang ada di dunia ini biasa dijadikan sebagai bahan lelucon.
Menurut Cuddon J.A (1992), Anekdot adalah sebuah cerita singkat dan lucu atau menarik yang mungkin menggambarkan kejadian/peristiwa orang sebenarnya.
Menurut Prasetyo, Anekdot merupakan cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat, pelaku atau partisipan di dalamnya juga tidak harus orang penting.
Secara umum, teks anekdot diartikan sebagai cerita singkat yang didalamnya mengandung unsur kelucuan dan digunakan untuk menyampaikan kritikan.
Selain berbentuk cerita, teks anekdot juga dapat berupa dialog antar tokoh. Topik anekdot yang banyak dipakai seperti kritikan layanan publik, lingkungan sosial, politik, pemerintahan, gaya hidup, dan lain sebagainya.
Selain memberi humor, teks juga harus memuat pesan moral, amanat, dan kebenaran secara umum.
Jadi, teks anekdot dibuat sebagai salah satu bentuk kritikan untuk menyampaikan realitas sosial dengan cara yang unik dan lucu.
Struktur Teks Anekdot
1. Abstraksi
Struktur teks anekdot paling pertama adalah abstraksi. Abstrak diletakan pada awal paragraf yang berfungsi untuk memberikan gambaran secara umum tentang ropik yang akan dibahas.
2. Orientasi
Orientasi adalah cerita awal kejadian yang menerangkan latar belakang suatu peristiwa yang terjadi pada topik pembahasan.
3. Krisis
Krisis merupakan bagian yang menjelaskan mengenai pokok masalah utama yang dikemas dengan cara yang unik dan lucu.
Masalah yang dibahas dapat berangkat dari keresahan pembuat teks anekdot atau berdasarkan fakta-fakta yang umum terjadi di masyarakat.
4. Reaksi
Reaksi adalah bagian yang berisi tentang upaya penyelesaian masalah. Cara-cara yang disampaikan berupa solusi yang seharusnya dilakukan
5. Koda
Struktur teks anekdot yang terakhir adalah Koda. Koda adalah bagian yang menutup cerita dalam teks.
Kaidah-kaidah Teks Anekdot
- Memakai pertanyaan dengan keterampilan bahasa yang kreatif dan efektif atau retorik.
- Menulis sesuai struktur, yaitu diawali dengan abstrak dan diakhiri dengan koda.
- Menyatakan peristiwa dan bagian dari peristiwa dengan menggunakan konjungsi.
- Memakai kata keterangan waktu lampau.
- Memakai kata predikat atau kata kerja.
- Memakai kalimat yang berbau perintah.
- Dibuat secara berurut dan kronologis.
Cara Membuat Teks Anekdot
- Pertama, kamu menentukan topik sebagai masalah yang akan disorot.
- Selanjutnya, kamu menentukan tokoh terkait.
- Setelah itu, tinggal menentukan peristiwa yang menjadi latar belakang.
- Lalu, kamu merinci peristiwa dalam alur anekdot yang meliputi abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
- Kemudian, mengembangkan kerangka anekdot menjadi sebuah cerita yang utuh.
- Terakhir, kamu tinggal melakukan penyuntingan.
Ciri-ciri Umum Teks Anekdot
Berikut merupakan ciri-ciri teks anekdot yang membedakan dengan teks lainnya.
- Berupa Teks yang Mendekati Perumpamaan. Perumpamaan pada teks anekdot mendekati bentuk dongen seperti karangan cerita yang berdasar pada imajinasi. Namun, didalamnya tetap mengandung unsur kenyataan yang terjadi di masyarakat.
- Menampilan tokoh-tokoh. Teks anekdot biasanya menampilkan tokoh-tokoh yang dekat dengan peristiwa sehari-hari seperti pejabat, elit politik, pemimpin organisasi/partai, dan tokoh lainnya. Namun, dengan perkembangan zaman, tokoh-tokoh yang dimunculkan dapat berupa tokoh fiktif namun tetap menyinggung peristiwa yang berkembang dalam masyarakat.
- Memiliki sifat Humoris. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa teks anekdot adalah cerita lucu yang digunakan untuk menyampaikan kritikan. Oleh sebab itu, teks anekdot harus memberikan hiburan yang mengundang gelak tawa pembacanya karena menggelitik. Namu, tetap tujuan utamanya adalah untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih umum.
- Terselip kritikan atau sindiran secara alami. Tujuan utama utama untuk menyampaikan kritikan atau sindiran harus tetap tercapai dalam teks anekdot. Oleh sebab itu, materi tersebut harus masuk kedalam cerita lucu yang disampaikan dengan cara disisipkan dalam setiap cerita atau dialog.
Halaman:


