Advertisement
Source : pexels.com/Egor Kunovsky

5 Contoh Teks Eksplanasi Pelangi beserta Struktur dan Kesimpulannya untuk Tugas Sekolah

Teks eksplanasi ialah jenis teks yang disusun untuk menjelaskan proses terjadinya suatu fenomena alam maupun sosial secara logis dan sistematis. 

28 Juli 2026 Nana

Interpretasi (Kesimpulan)

Fenomena pelangi buatan membuktikan bahwa pembentukan pelangi sepenuhnya merupakan proses fisika optik yang dapat direplikasi, selama ada kombinasi yang pas antara sumber cahaya, titik-titik air, dan posisi sudut pengamatnya.

3. Teks Eksplanasi: Fenomena Pelangi Merah saat Matahari Terbenam 

Pernyataan Umum

Pada kondisi tertentu di sore hari menjelang malam, pelangi dapat muncul dengan warna yang sangat unik, yaitu dominan merah atau oranye, tanpa terlihat warna lain seperti hijau atau biru. Fenomena langka tersebut sering disebut sebagai Red Rainbow atau pelangi matahari terbenam.

Contoh Teks Eksplanasi tentang Budaya Wayang, Tari, Lagu Daerah

Urutan Sebab-Akibat

  • Posisi Rendah Matahari: Saat matahari mendekati garis cakrawala, sinar matahari harus menempuh jarak lintasan yang jauh lebih panjang menembus atmosfer bumi untuk mencapai mata manusia.
  • Hamburan Cahaya (Rayleigh Scattering): Atmosfer bumi kemudian menghamburkan cahaya berpanjang gelombang pendek (seperti biru, nila, dan ungu) ke segala arah sebelum sempat mencapai tetesan air hujan.
  • Sisa Cahaya Merah: Hanya cahaya dengan panjang gelombang terpanjang yang sanggup menembus jarak atmosfer yang tebal tersebut tanpa terhambur.
  • Pembiasan Khusus: Ketika sisa cahaya merah tersebut menabrak tetesan air hujan, pelangi yang dibiaskan dan dipantulkan pun didominasi oleh spektrum warna merah.

Interpretasi (Kesimpulan)

Pelangi merah dapat terjadi karena atmosfer bumi bertindak sebagai filter yang menghamburkan warna-warna berkas pendek saat matahari terbenam, sehingga yang tersisa hanya warna merah yang memantul pada tetesan air hujan.

4. Teks Eksplanasi: Fenomena Kabut Pelangi 

Pernyataan Umum

Selain pelangi hujan biasa, ada fenomena serupa yang dikenal sebagai Fogbow atau pelangi kabut. Agak berbeda dari pelangi biasa yang kaya akan warna, pelangi kabut justru terlihat hampir polos, sangat pucat, atau berwarna putih bagaikan hantu di tengah kabut.

Urutan Sebab-Akibat

  • Ukuran Tetesan Air: Pelangi biasa terbentuk dari tetesan air hujan berukuran lumayan besar (1 mm atau lebih). Sementara, Fogbow terbentuk dari tetesan air kabut yang berukuran jauh lebih kecil (kurang dari 0,05 mm).
  • Dominasi Difraksi Cahaya: Karena tetesan air kabutnya sangat kecil, sifat gelombang cahaya pun mengalami fenomena yang disebut difraksi atau pembelokan gelombang di sekitar rintangan kecil secara lebih dominan daripada pembiasan murni.
  • Peleburan Warna: Lengkungan pada tetesan super kecil ini menyebabkan spektrum warna-warni pelangi menjadi kabur dan saling bertumpang tindih satu sama lain.
  • Hasil peleburan seluruh warna spektrum tersebut menghasilkan kilau cahaya yang tampak putih polos.

Interpretasi (Kesimpulan)

Fogbow merupakan variasi pelangi yang terbentuk akibat ukuran tetesan air kabut yang sangat kecil, sehingga fenomena difraksi mengacak dan meleburkan spektrum warna menjadi pita putih yang lebih pucat.

5. Teks Eksplanasi: Mengapa Manusia Tidak Pernah Bisa Menyentuh Ujung Pelangi?

Pernyataan Umum

Dongeng sering menceritakan adanya “harta karun” di ujung pelangi. Akan tetapi secara ilmiah, tidak ada seorang pun yang bisa mendekati, menyentuh, atau menemukan “ujung” dari sebuah pelangi, tidak peduli seberapa cepat seseorang berlari menuju ke arahnya.

Urutan Sebab-Akibat

  • Pelangi Merupakan Penampakan Optik: Pelangi bukanlah benda padat atau objek fisik yang memiliki lokasi tetap di bumi, melainkan sebuah penampakan optik yang tercipta di mata pengamat.
  • Keterikatan Sudut Pandang: Pelangi hanya terbentuk ketika ada sudut spesifik (sekitar 42 derajat) antara matahari, tetesan air, dan mata pengamat.
  • Pergerakan Posisi: Ketika seseorang bergerak mendekati arah pelangi, sudut antara matanya, matahari, dan tetesan air di udara akan otomatis berubah.
  • Pergantian Tetesan Air: Saat seseorang bergerak, matanya memproses pembiasan dari kumpulan tetesan air yang baru di depannya. Akibatnya, pelangi akan tampak terus “bergeser” menjauh seirama dengan pergerakan individu tersebut.

Interpretasi (Kesimpulan)

Manusia tidak akan pernah bisa mencapai atau menyentuh ujung pelangi karena pelangi bukanlah objek fisik di suatu tempat, melainkan proyeksi cahaya yang posisinya selalu bergerak mengikuti sudut penglihatan mata.

Halaman:

Advertisement